ALLAH AL 'AZHIIM

Saudaraku, keagungan sejatinya hanya milik Allah saja. Seandainya ada manusia yang agung berbudi pekerti dan akhlaknya luhur, maka tidak lain adalah karena yang
bersangkutan dapat merengkuh kedekatannya pada Allah al-
’Azhiim, Zat Pemilik Keagungan tersebut. Allah al-’Azhiim inilah yang menjadi tema muhasabah kali ini....

Al-’Azhiim secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Agung (YMA), Allah maha luhur, Allah maha besar.
Di antaranya dalam Ayat Kursi, Allah menampakkan keagungan-Nya di samping ketinggian-Nya; Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa
dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar
(Qs. al-Baqarah: 255)...

Demikian juga pada ayat 4 surat al-Syuara, Allah berfirman yang maknanya, Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Syura: 4)...

 Oleh karenanya dalam banyak
tempat, Allah menuntun kita agar bertasbih memuji al-’Azhiim ke atas keagungan-Nya. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar (Qs. al-Waqi’ah: 74) dan, Maka
bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar (Qs. al-Waqi’ah: 96)

ALLAH AL HALIIM

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah Allah al-Haliim. Allah Maha Penyantun. Dalam hal ini kita meyakini bahwa Allah maha penyantun terhadap makhluk-Nya, tetap welas asih 
terhadap hamba-hamba-Nya; Allah senantiasa menolong hambahamba-Nya, memahami isi hatinya, memenuhi kebutuhan untuk hidupnya dengan sunnatullah-Nya...

Dalam konteks kelemahan manusia yang sering salah dan lupa, misalnya, seberapapun dosa dan kesalahan yang telah dilakukan hamba-Nya tidak segera dibalasi-Nya dengan siksa, apalagi kemudian pelakunya bertaubat. Mengapa? Di antaranya, karena Allah itu al-Haliim, Allah yang maha penyantun. Oleh 
karenanya, ketika kita berbuat salah sehingga berdosa jangan berketerusan, meskipun tidak atau belum dibalasi dengan keburukan atau siksa oleh Allah. Maka, hendaknya bersegera melakukan taubat nasuha...

Allah berfirman yang artinya, Dan ketahuilah bahwa Allah 
mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha 
Penyantun” (Qs. al-Baqarah: 235)...

 Demikian juga pada ayat lain 
yang maknanya, Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian
tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyantun lagi Maha Pengampun (Qs. al-Israa’: 44). 

JANGAN TINGGALKAN MAJELIS PARA ULAMA



‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata,

‏« إن الرجل ليخرج من منزله وعليه من الذنوب مثل جبال تهامة، فإذا سمع العلم خاف ورجع وتاب، فانصرف إلى منزله وليس عليه ذنب، فلا تفارقوا مجالس العلماء »

“Seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan membawa dosa sebesar gunung tuhamah. Ketika ia mendengarkan ilmu, ia menjadi takut dan bertaubat. Ia pun pulang ke rumahnya dalam keadaan bersih dari dosa. Maka jangan tinggalkan majelis para ulama..”

Miftah Darissa’adah 1/122

Memandang ulama, mengikuti akhlaknya yang baik akan membuat hati tergerak untuk mengikutinya insyaAllah...
Nabi Muhammad Saw tidak meninggalkan Dinar atau dirham, yang ditinggalkan hanyalah Al Qur'an dan asSunnah... Sedangkan penyampai dua pusaka nabi tersebut adalah para Ulama....
Para ulama bagaikan bintang yang menghiasi dan menerangi malam... Tanpa ulama kita tidak akan tahu yang mana halal dan haram... Dengan perantara ulama lah kita dapat mengenal siapa tuhan kita.... Maka janganlah kita jauhi para ulama...

ALLAH AL KHABIIR


Saudaraku, kita meyakini bahwa Allah maha mengetahui sehingga Allah juga dikenal sebagai al-’Aliim. Ketika pengetahuan Allah itu serba meliputi dan menjangkau semuanya sampai yang sekecil-kecilnya, maka Allah disebut al-Khabiir. Nah al-Khabiir
inilah yang akan kita ulang kaji kembali untuk muhasabah hari ini.

Al-Khabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna, baik yang global maupun yang terperinci. Allah Maha Lembut 
pengetahuan-Nya. Allah berfirman yang artinya Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu 
terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Qs. alAn’am: 73). 

Demikian juga, Barang siapa yang dijauhkan adzab 
daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan 
rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika 
Allah menimpakan suatu?kemudharatan kepadamu, maka tidak 
ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika 
Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa 
atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian 
hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (Qs. al-An’am: 16-18).

Dan “Tidak seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia 
akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha 
Mengenal” (Qs. Luqman: 34). Dengan demikian hanya Allah lah 
yang mengetahui hal ikhwal tibanya kematian seseorang.

ALLAH AL LATHIIF


Al-Lathiif secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha lembut, 
Allah maha halus, Allah maha sensitif, Allah maha peka terhadap permohonan, persoalan, keadaan dan perilaku hamba-hambaNya.

Allah berfirman yang maknanya bahwa Allah maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Qs. al-Syura: 19).

 Di ayat lain Allah juga berfirman yang maknanya, apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air 
dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Qs. al-Hajj: 63).

Bukan saja peka terhadap keperluan dan rezeki hambahamba-Nya, kemahahalusan Allah juga menjangkau seluruh niat dan perilaku hamba-hamba-Nya sekecil apapun juga 
, (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu 
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di 
langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya 
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha 
Mengetahui (Qs. Lukman: 16)

ALLAH AL 'ADL


Al-’Adl secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha adil, Allah maha memutuskan yang keputusan-Nya menunjukkan kesempurnaan keadilan-Nya. Oleh karena itu, orang-orang beriman senantuasa 
akan merujuk dan memedomani ketentuan dari Rabbnya.

Allah berfirman yang maknanya, Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci. Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu (Qs. al-An’am: 114).

Keadilan Allah bersifat menyeluruh dalam seluruh tindakan dan keputusan-Nya. Allah memutuskan dan menempatkan segala sesuatu pada tempat, posisi, kondisi, dan kadar ukurannya 
sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya yang serba meliputi. Di 
samping itu, dengan keadilan-Nya Allah juga memberikan 
balasan setimpal kepada seluruh makhluk-Nya di dunia dan 
kelak di akhirat, sesuai dengan amal masing-masing sesuai 
dengan sunnatullah-Nya. Allah tidak akan menzalimi makhlukNya sedikit pun. Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya 
Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah….” 
(Qs. al-Nisâ`: 40).

Keadilan Allah efektif pada sekecil apapun usaha dan 
perbuatan hamba-hamba-Nya. Allah menganugerahkan 
kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur, tetapi 
Allah juga memberi ancaman berupa kesengsaraan kepada 
siapa saja yang mengingkari karunia-Nya. Allah berfirman yang 
maknanya, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah 
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), 
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Oleh karenanya di ayat lain juga disebutkan yang maknanya, 
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, 
niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang 
mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan 
melihat (balasan)-nya pula” (Qs. al-Zalzalah: 7-8).

ALLAH AL HAKAM



Al-Hakam secara populis dipahami bahwa Allah adalah Hakim yang maha adil, Allah maha memutuskan yang keputusan-Nya menunjukkan keagungan-Nya, zat yang maha menetapkan yang ketetapan-Nya menunjukkan keadilan dan kesempurnaan-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? 
Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu (Qs. al-An’am: 114).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang maknanya, kemudian mereka [hamba Allah] dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala 
hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat (Qs. al-An’am: 62). 

Dan juga, Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa 
yang kamu dahulu selalu berselisih padanya (Qs. al-Hajj: 69).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...