ALLAH AL MU'IZZ

Al-Mu’izz secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat YangMaha Memuliakan... Allah adalah zat yang maha mulia, sumber kemuliaan, dan yang menganugerahi kemuliaan kepada siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman, yang maknanya, barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang
baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur (Qs. Fathir: 10)...

Oleh karenanya kita sudah selayaknya memuji Allah dengan al-Mu’izz untuk memperoleh keridhaan-Nya sehingga dimuliakanNya. “Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Qs. Ali Imran: 26).

ALLAH AR RAAFI'

Ar-Raafi’ secara umum dipahami bahwa
Allah adalah zat Yang Maha Tinggi yang senantiasa meninggikan segala sesuatu atas makhluk-Nya. Allah kuasa mengangkat derajat hamba-hamba-Nya ke kedudukan (maqam) kemuliaan...

Seperti di antaranya dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs. alMujadalah: 11).

ALLAH AL KHAAFIDH

Al-Khaafidh secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Merendahkan segala sesuatu atas makhluk-Nya. Tentu di samping kuasa
merendahkan, Allah juga kuasa meninggikan, kuasa mengangkat
derajat hamba-hamba-Nya....

Suatu hari Rasulullah Nabi Muhammad saw ditanya tentang maksud firman Allah, ”Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan
(Qs. al-Rahman: 29), beliau bersabda, ”Termasuk kesibukan yang
dilakukan oleh Allah adalah mengampuni dosa, menghilangkan
keresahan, meninggikan kelompok-kelompok manusia, dan
merendahkan yang lain” (HR. Ibnu Majah). 

Siapapun yang direndahhinakan atau ditinggimuliakan oleh Allah tentu atas
ketentuan sunatullah-Nya yang maha adil dan bijaksana....

ALLAH AL BAASITH

Allah al-Baasith mengantarkan kita untuk merenungi kembali tentang bagaimana Allah mengatur hal ikhwal makhluknya, terutama dalam hal melapangkan, menambah atau melipatgandakan rezeki juga umur hamba-hamba-Nya. al-Baasith
secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuasa melapangkan segala urusan hamba-hamba-Nya. Allah
memudahkan rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Dalam banyak tempat dalam al-Qur’an, Allah berfirman yang maknanya. Sesungguhnya Tuhanmu Melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambaNya (Qs. al-Isra’: 30). 

Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja
yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Ankabuut: 62).

Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi
Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat” (Qs. al-Syuura: 27).

Allah berfirman yang maknanya, siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Qs. al-Baqarah: 245).

Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit) (Qs. al-Ra’d: 26).

ALLAH AL QAABIDH

Al-Qaabidh secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Menyempitkan, yang kuasa menahan,
menggenggam, menghalangi, dan menyempitkan segala sesuatu
atas makhluk-Nya. Tentu di samping kuasa menahan, Allah juga kuasa membebaskan, Allah kuasa menggenggam juga kuasa
melepaskan, Allah kuasa menghalangi juga kuasa melancarkan, dan Allah kuasa menyempitkan juga kuasa melapangkan.
Semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan sunnatullah-Nya yang rapi dan sempurna...

Allah berfirman yang maknanya, siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Qs. al-Baqarah: 245).

Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit) (Qs. al-Ra’d: 26). 

ALLAH AL 'ALIIM

Al-’Aliim secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengetahui yang pengetahuan-Nya sempurna, serba
meliputi, baik yang lahir maupun yang bathin, baik yang tampak maupun tersembunyi, dari yang besar sampai yang sangat kecil sekalipun, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi....

Allah berfirman dalam beberapa ayat yang maknanya “... Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran (dari padanya)?” (Qs al-An’aam: 80).

 “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Qs. al-Mukmin: 19).
 
Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apaapa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Ali Imran: 29).

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari
rahasia itu) (Qs. Thaahaa: 7). 

Dalam Islam, Allah sebagai al-’Aliim
merupakan sumber segala ilmu. Oleh karenanya ilmu yang dicari dan dikuasai oleh manusia berasal dari-Nya. Allah menurunkan wahyu dan menciptakan alam serta mengajarkan kepada manusia
ilmu pengetahuan tentang apa pun yang tidak atau yang belum diketahui...

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Qs. Hadiid: 22).

 “...Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya...” (Qs. al-Baqarah: 255).

 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Qs. al- ‘Alaq: 5).

🌊 Hamba yang Cerdas


> Tentang hakikat dunia.

إِنَّ للّهِ عِبَادًا فُطَنَا ** طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا ** أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا ** صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas,

Mereka meninggalkan perkara dunia yang remeh dan senantiasa takut akan fitnah, khawatir kalau-kalau diri mereka terjatuh ke dalamnya,

Juga, mereka merenungi perkara dunia itu, hingga kemudian begitu mereka sadar bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal mereka,

Merekapun menganggapnya bak lautan dengan ombak besar, dan menjadikan amal sholeh sebagai perahu untuk berlayar di atasnya.

📚 Kutipan bait syi'ir Imam Syafi'i -rahimahullāh
(Diterjemahkan secara makna, bukan secara harfiah)

💡Fitnah yang dimaksud di sini: Setiap hal yang melalaikan seseorang dari perkara akhirat.


> 9 Dzulqa'dah 1446 H/7 Mei 2025.

Cr. Bekal Perjalanan

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...