SHOLAT TAUBAT




Berikut tata cara sholat taubat sesuai sunnah yang bisa kita kerjakan.

Pertama: Dikerjakan dalam rangka bertobat setelah melakukan perbuatan dosa.

Kedua: Salat tobat dikerjakan sebanyak dua rakaat sebagaimana salat sunah yang lain.

Ketiga: Disunahkan untuk dikerjakan secara sendirian, bukan berjemaah.

Keempat: Disunahkan beristigfar setelahnya dengan lafaz-lafaz istigfar yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama atau dengan kalimat yang mudah baginya untuk diucapkan.

Kelima: Dianjurkan bagi siapapun yang bertobat dari dosa untuk memperbanyak amalan kebaikan setelahnya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita agar senantiasa dan bersegera untuk bertobat kepada-Nya. Aamin

📷 @mahasiswa.salaf x @yayasanabufachry

PERANGKAP PERANGKAP SYAITAN


Setan menggunakan strategi gradual (bertingkat) baik isi maupun metode dakwahnya. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan ada enam tahapan yang dilalui perjalanan dakwah setan.

Tahap pertama Pengkafiran atau pemusyirikan manusia. Jika yang didakwahi itu dari kalangan muslimin, maka setan akan melangkah ketahapan dakwah berikutnya.

Tahap kedua Pembid’ahan. Yaitu menjadikan menusia sebagai Ahlul bid’ah. Seandainya yang diajak dari kalangan Ahli Sunnah, maka dimulailah tahap ketiga.

Tahap ketiga Pemerangkapan manusia dengan dosa-dosa besar. Jika manusia dilindungi oleh Allah dari melakukan dosa-dosa besar, setan tidak putus asa, untuk terus menggoda.

Tahap keempat Pemerangkapan manusia dengan dosa-dosa kecil.Jika manusia selamat dari dosa-dosa kecil setan melangkah ketahap yang lain.

Tahap kelima Penyibukan manusia dalam masalah-masalah yang mubah (boleh), sehingga orang itu menghabiskan waktunya untuk hal yang mubah, tidak sibuk dalam hal yang berpahala, yang kita semua diperintahkan untuk mengamalkannya.

Tahap keenam Penyibukan manusia dalam urusan-urusan sepele sehingga ia tinggalkan persoalan-persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik. Misalnya, sibuk dengan amalan sunnah, meninggalkan amalan wajib .

HATI YANG BERKARAT



Dalam diri manusia ada hati. Jika ia baik maka baik juga seluruh anggota tubuhnya, sebaliknya jika ia buruk maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Hati yang baik akan bercahaya dan hati yang buruk akan tertutup noda hitam. Jika noda hitam ini tidak dibersihkan dengan segera, niscaya ia akan menutupi seluruh hati sampai hitam legam dan gelap hingga akhirnya mematikannya.

Demikian yang Nabi SAW sampaikan dalam hadisnya, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula jasad tersebut, dan sebaliknya apabila ia buruk maka jasad itu akan menjadi buruk pula. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam yang disebut menutupi hati seperti dikatakan Nabi SAW adalah dosa dan maksiat, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Beliau mengistilahkannya dengan ran (titik hitam). Beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ran,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam itu membuat hati menjadi berkarat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani mengatakan, hati itu bisa berkarat. Namun, sebagaimana yang dinasihatkan Nabi SAW, jika pemiliknya merawatnya dengan baik maka hati itu akan bercahaya kembali. Jika tidak dirawat, hati akan menjadi hitam kelam karena jauh dari nur (cahaya). Selain karena dosa, kata sang Syekh, hati menjadi hitam juga karena cinta dan rakusnya terhadap dunia, tanpa punya sikap wara'. Orang seperti ini akan terus-menerus mengumpulkan dunia tanpa pernah merasa puas, sampai melakukannya dengan cara yang diharamkan.

Untuk membersihkan hati yang berkarat ini, kata Syekh, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Ia mengutip sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat, dan sesungguhnya penggosoknya adalah membaca Alquran, mengingat mati, dan menghadiri majelis zikir.”

Alquran adalah kalamullah. Dalam Alquran, misalnya, disebutkan bahwa ia adalah obat bagi penyakit hati dan fisik, “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82). Semakin seseorang banyak membaca Alquran lalu mengamalkannya dalam kehidupan, karat di hatinya akan semakin berkurang dan hilang.

Mengingat mati juga bisa membersihkan karat di hati. Nabi SAW mengatakan, “Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati itu dapat menghilangkan dosa-dosa dan menjadikannya zuhud terhadap dunia.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya). Dengan mengingat mati, seseorang akan menyadari dirinya, mengingat dosanya, lalu berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik.

Menghadiri majelis zikir juga dapat membersihkan karat di hati. Dalam hadis disebutkan bahwa malaikat berkeliling mencari majelis zikir. Ketika menemukannya, ia memanggil malaikat lainnya untuk ikut dalam majelis tersebut dan mendoakan orang-orang di situ. Allah kemudian berkata kepada para malaikat itu, “Persaksikanlah oleh kalian bahwasanya aku telah mengampuni mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allah mengampuni dosa mereka dan membersihkan hatinya.


HATI YANG KAYA

Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“- Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”

- Sifat yang mulia ini dimiliki dengan sempurna oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang menjadikan mereka lebih utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan generasi yang datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat”

Sebagai penutup artikel singkat ini dikutipkan sebuah hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

صحيح مسلم ٥٢٥٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَرْعَرَةَ السَّامِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِيَانِ الثَّقَفِيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ فَلَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ هَذَا السَّكَكُ بِهِ عَيْبًا
Shahih Muslim 5257: dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: "Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?" mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: "Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?" mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian." ( Wallahu ‘alam bish-shawab)

Seni menjalani hidup dengan syukur



Salah satu dampak buruk media sosial adalah: Ia membuka akses lebih luas bagi kita untuk "membandingkan diri" dengan orang lain, membandingkan hidup kita dengan hidup mereka. *Padahal media sosial adalah dunia penuh ilusi.* Kebanyakan warga di dalamnya _berlomba-lomba_ menyajikan kehidupan pribadinya dari sisi termanisnya. Bahkan tak jarang, semua itu disajikan setelah sebelumnya diberi bumbu-bumbu berlebihan, dipoles sedemikian rupa.

Melihat status kawan yang menampilkan tempat-tempat elok destinasi liburannya. Kemudian tanpa sadar, melihat diri yang kebanyakan waktu liburan hanya dihabiskan di rumah saja. *Mulai merasa bahwa diri ini tidak seberuntung dia.* Mulai menaruh "standar keberuntungan" secara abstrak.

Padahal, jika ditilik sejenak, *sejatinya kehidupan kitapun dipenuhi banyak hal manis yang menuntut syukur.* Hanya saja, seringkali kita tidak lagi merasakan manisnya sebab penyakit "membandingkan diri" tadi.

Obat dari penyakit ini sederhana saja: (Setelah taufiq dari Allah) Kita hanya perlu *lebih menghargai setiap momen, sekecil apapun itu.*

*Ketika hanya di rumah,* perhatikan lagi, bukankah berkumpul bersama keluarga merupakan hal yang tidak semua orang berkesempatan merasakannya?

*Ketika waktu berlibur justru _habis_ untuk mengabdi pada masyarakat,* renungkan sejenak, bukankah kesibukan dalam hal positif adalah nikmat begitu besar yang hanya diberikan pada segelintir orang?

*Ketika kemudian diuji dengan sakit,* coba pikirkan dalam diam, bukankah sakit juga merupakan salah satu bentuk Allah menyayangi kita?

Lihat? *Ternyata pada setiap yang terjadi, selalu ada hal yang bisa kita syukuri* :)

Maka kawan, apapun yang Allah pilihkan untuk menjadi bagian dari alur kehidupan kita, biasakan diri untuk *mengedepankan syukur* di atas hal lainnya. Tanamkan pada diri, bahwa *skenario Allah pasti lebih indah* dibanding apa yang kita inginkan.

Hingga akhirnya, kita menjadi seorang hamba yang terus bersyukur, dan senantiasa melihat apa yang terjadi pada kita dari sudut pandang yang positif.

—•—•—•—
*💌 Resepnya begini:*

Ketika terjadi hal yang menyenangkan, ucapkan:
*الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصّالِحَات.*

Sedangkan, ketika terjadi hal yang kurang menyenangkan, ucapkan:
*الحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَال.*
—•—•—•—

Semoga Allah senantiasa berikan taufiq kepada kita semua🌹


> 6 Shafr 1447 H/31 Juli 2025.

🔗https://s.id/BekalPerjalanan

Memutus Harapan Dari Makhluk



Syaikh al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

“والله لو يئست من الخلق
حتى لا تريد منهم شيئا:
لأعطاك الله مولاك كل ما تريد”.

“Demi Allah, Seandainya kamu memutus harapan dari makhluk hingga kamu tidak berharap sesuatupun dari mereka niscaya Allah Pelindungmu akan memberikan kepadamu segala yang kamu inginkan.”

Jami’ Al-Ulum Wal Hikam, hlm. 264


Berharap kepada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan .. sebab manusia itu rapuh... Hanya kepada Allah lah harapan tidak akan menjadi sia sia... Karena Allah lah tempat bergantung, Allahush Shamad...

JANGAN HINAKAN DIRI



Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

ابن آدم لو عرفت قدر نفسك ما أهنتها بالمعاصي أنت المختار من المخلوقات ولك أعدت الجنة.

“Wahai anak Adam, jikalau engkau mengerti kadar dirimu, niscaya engkau tidak akan menghinakannya dengan berbagai kemaksiatan, engkau adalah pilihan di antara para makhluk. Dan bagimu, Surga telah dipersiapkan.”

Lathoiful-Ma’arif 183

Ketika melakukan dosa, jangan lihat kepada kecilnya maksiat yang dilakukan, tapi lihatlah Siapa yang mengetahu engkau melakukan maksiat, Allah Maha Melihat apa yang kita perbuat... Sungguh malu jika kita ingat, bahwa kita lahir dalam keadaan bersih, namun apakah malu jika kita pulang dengan membawa dosa .....

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...