PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM

PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I

Dosen Pengampu
Drs. H. Jamaluddin, M.Pd.









Makalah Bahan Diskusi Kelompok 4

1152020094 Ikhsanul Fauzi
1152020104 Joni Iskandar
1152020108 Kristin Wiranata








JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menuntun kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

   Bandung, 28 September 2017












DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Konsep tentang Sistem 3
Pengertian Belajar dan Proses Belajar 7
Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran 9
Hubungan antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran 14
Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem 15
BAB III PENUTUP 19
Daftar Pustaka 20
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat, dimulai dari sejak manusia itu dilahirkan dan berakhir sampai manusia itu meninggal. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, dimana didalamnya terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya, dengan proses interaksi tersebut menimbulkan perubahan tingkah laku manusia. Lingkungan belajar sendiri menurut Ki Hajar Dewantara mencakup tiga ruang lingkup, yakni keluarga, sekolah dan lingkungan. Adapun makna belajar dan pembelajaran dalam ruang lingkup yang sempit ialah pembelajaran yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. 
Seringkali kita dapati suatu proses pembelajaran yang tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Mengapa hal ini dapat terjadi? Diduga kuat didalam proses tersebut terdapat salah satu komponen belajar dan pembelajaran yang tidak berfungsi secara baik, sehingga sistemnya pun terganggu, yang mana secara tidak langsung akan berimbas kepada tidak tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran yang diharapkan.
Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif. Namun direalita yang nampak, sering dijumpai suatu proses PMB yang kurang mengasyikkan, yang mana di dalamnya dijumpai enam mitos tentang belajar yang menjadi momok bagi anak didik, yakni: “Bahwa belajar itu membosankan, belajar hanya terkait dengan materi dan keterampilan yang diberikan di sekolah, pembelajar harus pasif, si pembelajar berada di bawah perintah dan aturan guru, belajar harus sistematis, logis dan terencana, belajar harus mengikuti seluruh program yang telah ditentukan dan sebagainya. ” Memang benar adanya jika mitos tersebut muncul karena dilandasi berbagai fakta. Tidak jarang kita jumpai praktik pembelajaran di sekolah yang menunjukkan pelaksanaan hal-hal tersebut. Oleh sebab itu, haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.
Berangkat dari permasalahan inilah kami merasa tergugah untuk menyusun suatu makalah dengan judul “Proses Belajar dan Pembelajaran sebagai Suatu Sistem”. Kami harap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami, dan umumnya bagi pembaca.

 Rumusan Masalah
Setelah kami melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber yang terkait dengan pembahasan makalah ini, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan sistem?
Apa pengertian dari belajar dan pembelajaran?
Bagaimana proses belajar dan pembelajaran berlangsung?
Bagaimana hubungan antara fase belajar dan acara pembelajaran?
Apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar sebagai suatu sistem?







BAB II
PEMBAHASAN

Konsep tentang Sistem
Pengertian Sistem
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti “cara, strategi”. Dalam bahasa Inggris system berarti “sistim, susunan, jaringan, cara”. Sistem juga diartikan “sebagai suatu strategi, cara berpikir atau model berpikir.”
Banyak definisi yang digunakan untuk menjelaskan arti kata “sistem”, diantaranya sebagai berikut:
Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau teroganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. 
Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan.
Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan tertentu.
Definisi-definisi tersebut, yang pertama (a) menekankan soal wujud sistem, yang kedua (b) menaruh perhatian pada fungsi komponen yang saling berkaitan dengan tujuan sistem, dan yang ketiga (c) menampilkan unsur rencana di samping saling kaitan antar komponen dan tujuan dari sistem. Sekalipun demikian definisi yang berbeda-beda itu mengandung unsur persamaan yang dapat dipandang sebagai ciri umum dari sistem yaitu yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
Sistem merupakan suatu kesatuan yang berstruktur
Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang saling berpengaruh
Masing-masing komponen mempunyai fungsi tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai tujuan sistem.
Dengan demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen-komponen itu terarah pada pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem).
Ciri-Ciri Suatu Sistem Dan Komponennya
J.W. getzel dan E.G. Guba menyatakan bahwa pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain.
Berorientasi kepada tujuan yang ditetapkan.
Didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan tata tertib berbagai kegiatan dan sebagainya.
Bila diaplikasikan dalam sistem pendidikan maka komponen-komponennya pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar sebagai berikut:
Noeng Muhadjir membagi sistem kepada tiga kategori yaitu
Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yang memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks positif.
Bertolak dari empat komponen pokok pendidikan, yaitu kurikulum, subjek didik, personifikasi pendidik, dan konteks belajar mengajar.
Bertolak dari tiga fungsi pendidikan, iatu pendidikan kreativitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan produktivitas.
Selanjutnya Ramayulis membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur yaitu:
Kegiatan pendidikan yang meliputi: pendidikan diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, pendidikan oleh seseorang terhadap orang lain.
Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal dan qalbu
Tempat pendidikan, mencakup: rumah tangga, sekolah, dan masyarakat
Komponen pendidikan, mencakup: dasar, tujuan, materi, metode, media, evaluasi, administrasi, dana dan sebagainya.
Klasifikasi Sistem
Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, di antaranya adalah sebagai berikut.
Sistem Abstrak dan Sistem Fisik. Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak nampak secara fisik, sedangkan sistem fisik adalah sistem yang ada secara fisik.
Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia, sedangkan sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia.
Sistem Tertentu dan Sistem Tak Tentu. Sistem tertentu adalah sistem yang terjadi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi antara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem tak tentu adalah sistem kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak terhubung dan tidak berpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan berpengaruh dengan lingkungan luarnya.
Dasar-Dasar Pemilihan Sistem
Sebuah sistem dipilih berdasarkan studi kelayakan, studi kelayakan adalah proses mempelajari dan menganalisa masalah yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan akhir yang dicapai. Ada lima aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menilai suatu studi kelayakan, di antaranya adalah sebagai berikut.
Kelayakan teknis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan teknis, jika dirancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan hardware dan software yang tersedia, yaitu yang ada/yang dapat dimiliki. Dengan kata lain sistem yang nanti akan diterapkan menggunakan teknologi lama atau teknologi baru.
Kelayakan Operasi. Sebuah masalah mempunyai kelayakan operasi jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah personil atau prosedur yang disediakan, yaitu yang ada atau dimiliki, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang akan mengubah cara kerja dan struktur organisasi yang telah ada dan telah berjalan saat ini, sehingga dalam memeriksa aspek kelayakan operasi, sistem analisan semestinya memperhitungkan reaksi atau perubahan sistem.
Kelayakan Ekonomis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan ekonomis jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dan anggaran biaya yang masuk akal, misalnya keuntungan sistem melebihi biaya penyusunan sistem, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang lebih menguntungkan dari segi ekonomis. Dalam menghitung kelayakan ekonomis jauh lebih kompleks dibanding dengan menghitung kelayakan teknis dan operasi.
Kelayakan Jadwal Waktu. Pertanyaan mengenai kelayakan dari segi jadwal waktu ini timbul apabila suatu usulan rancang bangun sistem disertai dengan batas waktu tertentu. Perhatian atas batas waktu, sekali lagi tergantung pada pengetahuan dan pengalaman sistem analisa tertentu tentang masalah-masalah di dalam pengembangan software khususnya dalam bidang progamming dan kegiatan lain yang berhubungan dengan komputer.
Kelayakan Personil. Sistem database baru maupun hasil modifikasi adalah sarana untuk suatu perubahan. Manusia secara naluriah -pada umumnya- akan menentang adanya perubahan-perubahan. Jadi akan selalu timbul konflik dalam membangun dan mengimplementasikan suatu sistem database. Oleh sebab itu, suatu studi kelayakan haruslah mempertimbangkan faktor manusia tersebut.


Pengertian Belajar dan Proses Belajar
Pengertian Belajar
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthtening of behaviour through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar yang menyatakan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. 
Sistem Belajar yang Efektif Dipengaruhi oleh Faktor Berikut
Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.
Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi.
Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.
Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.
Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor keinginan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan.
Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minta. Minat itu timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari kebutuhannya bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.
Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasul atau tidaknya murid yang belajar.
Faktor intelegensi. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.
Proses Belajar
Menurut Wittig, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu sebagai berikut.
Acquistion (tahap perolehan informasi). Pada tahap ini, pembelajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respons, sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap acquisition merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya.
Storage (penyimpanan informasi). Pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut short term atau long term memori.
Retrieval (mendapatkan kembali informasi). Apabila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrieval merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.

Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran
Pengertian Pembelajaran
Beberapa ahli merumuskan pengertian pembelajaran sebagai berikut.
Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. 
Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Proses Pembelajaran
Proses Pembelajaran
Syarafuddin dan Nasution mengemukakan bahwa: “Proses suatu sistem dimulai dari input (masukan) kemudian diproses dengan berbagai aktivitas dengan menggunakan teknik dan prosedur, dan selanjutnya menghasilkan output (keluaran), yang akan dipakai oleh masyarakat lingkungannya.” Aktivitas suatu sistem tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.






Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut.
Adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan.
Dosen berperan sebagai fasilitator belajar, narasumber, dan manajer kelas yang demokratis.
Keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi.
Menerapkan pola komunikasi yang banyak.
Suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang, dan tetap terkendali oleh tujuan.
Potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak penggiring lebih efektif.
Dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.
Adapun strategi menilai proses pembelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut.
Penilaian pengetahuan awal, ingatan dan pemahaman.
Penilaian kecakapan dalam berpikir analisis kritis.
Penilaian kecakapan dalam berpikir sintesis kreatif.
Penilaian dalam memecahkan masalah.
Penilaian kecakapan dalam aplikasi dan performansi.
Adapun di dalam proses pembelajaran ada tiga bentuk proses pembelajaran yaitu: (1) transfer pengetahuan (transfer of knowledge), (2) transformasi pengetahuan (transformation of knowledge), (3) pengembangan keterampilan (development of skill), dan (4) penanaman nilai (Internalization of value).
Ruang Lingkup Proses Pembelajaran
Mengacu pada PP No. 19 tahun 2005, standar proses pembelajaran yang sedang dikembangkan, maka lingkup kegiatan untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien meliputi “(1) perencanaan proses pembelajaran”, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) penilaian hasil pembelajaran, dan (4) pengawasan proses pembelajaran.”
Keempat lingkup kegiatan dalam standar proses pembelajaran di atas dijelaskan oleh Pudji Muljono sebagai berikut.
Standar perencanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematik berarti secara runtut, terarah dan terukur dari jenjang kemampuan rendah hingga tinggi secara berkesinambungan. Sistemik berarti mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan, karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang mencakup fakta, konsep, prosedur, dan prinsip, kondisi lingkungan dan hal-hal lain yang menghambat atau mendukung terlaksananya proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Standar pelaksanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip intensitas interaksi antara peserta didik dengan pendidik, anar peserta didik dan antara peserta didik dengan aneka sumber belajar. Untuk itu perlu diperhatikan jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas, beban pembelajaran maksimal pendidik, dan ketersediaan buku teks pelajaran bagi peserta didik. Di samping itu, perlu dipertimbangkan bahwa proses pembelajaran bukan sekedar menyampaikan ajaran, melainkan juga pembentukan pribadi peserta didik yang memerlukan perhatian penuh dari pendidik, maka perlu juga ditentukan tentang rassio maksimal jumlah peserta didik per pendidik. Perihal kemampuan pengelolaan kegiatan belajar dan pembelajaran pendidik, juga sesuatu yang harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Standar penilaian hasil pembelajaran ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Teknik yang dimaksud dapat berupa tes tertulis, observasi, uji praktik, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk memantau proses dan kemajuan belajar serta memperbaiki hasil belajar peserta didik dapat digunakan teknik penilaian portofolio atau kolokium. Secara umum penilaian dilakukan untuk mengukur semua aspek perkembangan peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan mengacu dan sesuai dengan standar penilaian.
Standar pengawasan proses pembelajaran adalah upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran efektif dan efesien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkln pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, dilakukan secara periodik, demokratis, terbuka, berkelanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut. Upaya pengawasan terhadap proses pembelajaran pada hakikatnya adalah tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, pengawas, dan sejawat atau pihak lain yang ditugasi untuk melaksanakan pengawasan secara internal.
Ciri-Ciri Sistem Pembelajaran yang Baik
Adapun ciri-ciri atau karakteristik agar terbentuk sistem pembelajaran yang baik yaitu sebagai berikut.
Pengembangan kreativitas anak melalui pembelajaran kelompok bermain. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pendidikan dimulai pada usia TK (4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat.
Ciri-ciri masa awal kanak-kanak. Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap perkembangan, begitu juga pada masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu.
Psikologi behaviorisme. Psikologi behaviorisme merupakan transisi dari sistem sebelumnya. Psikologi behaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku.
Psikologi pendidikan dan guru.
 Manajemen peserta didik dalam menghadapi kreativitas anak.
Ada tiga ciri-ciri khas dalam sistem pembelajaran, seperti yang ditemukan oleh Oemar Hamalik dalam bukunya, kurikulum dan pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Rencana ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
Kesalingtergantungan (interdefendence) antara unsur “sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan”. Tiap unsur bersifat esnsial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
Tujuan. Sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan.
Hubungan Antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran









Hubungan Antara Fase Belajar Dengan Acara Pembelajaran


Fase belajar
Acara pembelajaran

Persiapan untuk belajar
Mengarahkan perhatian
Menarik perhatian siswa dengan kejadian yang tidak seperti biasanya, pertanyaan atau perubahan stimulus.


Ekspektansi
Memberitahu siswa mengenai tujuan belajar


Retrival
Merangsang siswa agar mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya

Pemerolehan dan unjuk perbuatan
Persepsi selektif atas sifat stimulus
Menyajikan stimulus yang jelas sifatnya


Sandi semantik
Memberikan bimbingan belajar


Retrival dan respons
Memunculkan perbuatan siswa


Penguatan
Memberikan balikan informatif

Retrival dan alih belajar
pengisyaratan
Menilai perbuatan siswa


Pemberlakuan secara umum
Meningkatkan retensi dan alih belajar

Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang harus ada harus diorganisasikan secara sinergis dan sistematik. Karena itu, guru tidak hanya boleh memerhatikan komponen-komponen pengajaran secara parsial. Misalnya metode terpisah dari bahan, bahkan tidak mendukung sistem evaluasi dan seterusnya.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan. Proses belajar mengajar sebagai suatu sistem, komponen-komponennya terdiri atas: (1) siswa, (2) guru, (3) tujuan, (4) materi, (5) metode, (6) evaluasi, (7) lingkungan.
Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri namun dalam berproses di kesatuan sistem, mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Masing-masing komponen sistem proses belajar mengajar itu sedikit diulas seperti paparan berikut ini.
Siswa
Teori didaktik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen Proses belajar Mengajar (PBM), siswa yang semula dipandang sebagai objek pendidikan, bergeser menjadi subjek pendidikan. Tiada pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa. Siswa adalah individu yang unik. Mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Mereka datang ke sekolah telah membawa potensi psikologis dan latar belakang kehidupan sosial. Masing-masing memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru di sekolah.
Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut dengan kompetensi guru. Kompetensi guru itu mencakup menguasai siswa, menguasai tujuan, menguasai metode pembelajaran, menguasai materi, menguasai cara mengevaluasi, menguasai alat pembelajaran, dan menguasai lingkungan belajar.
Tujuan
Setiap kegiatan belajar-pembelajaran, apapun materinya selalu memiliki sasaran (target). Sasaran, yang juga lazim disebut tujuan itu pada umumna tertulis. Walaupun ada juga sasaran tidak tertulis yang dikenal dengan objective in mind. Sasaran yang dituju PMB bersifat bertahap dan meliputi beberapa jenjang dari jenjang yang konkret dan langsung dapat dilihat dan dirasakan sampai yang bersifat nasional dan universal. Ditinjau dari sudut waktu pencapaiannya, sasaran PMB dapat dikategorikan tiga macam, yakni:
Sasaran-sasaran jangka pendek, seperti TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus)
Sasaran jangka menengah, seperti tujuan pendidikan dasar, yakni untuk mempersiapkan siswa mengikuti pendidikan menengah.
Sasaran jangka panjang, seperti tujuan pendidikan nasional.
Untuk memperjelas uraian keterkaitan antarpelbagai tujuan belajar dan pembelajaran, berikut disajikan sebuah model











Tujuan Pendidikan Universal (dokumen UNESCO)

 Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Institusional (sekolah)

Tujuan Kurikuler (bidang studi)

Tujuan Instruksional (bahan dan kegiatan)

Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus ada materinya. Anak yang sedang field-trip di kebun raya menggunakan materi jenis tumbuhan dan klasifikasinya. Anak yang praktikum di laboratorium menggunakan materi simbiosis katak. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.
Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.
Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkandalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, anak, materi, dan metode pembelajaran.
Evaluasi
Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolis yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan efektif. Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.
Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlagsung.
Semua komponen PBM itu harus dikelola sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.

















BAB III
PENUTUP

Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif. 
Maka demi terwujudnya tujuan dari pembelajaran haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.

















DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Jamaluddin, dkk. 2015. Pembelajaran Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya
Oemar Hamalik. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Suyono dan Hariyanto. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta










ASMAUL HUSNA MTS


Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah pada semester genap diawali dengan materi Asmaul Husna. Allah Swt. telah menciptakan media dan cara untuk menunaikan segala kewajiban. Dan, keimanan merupakan kewajiban terbesar dan terpenting. Allah Swt. telah menyediakan media yang dapat menumbuhkan dan menguatkan keimanan, seperti halnya Dia telah menciptakan media yang melemahkannya. Di antara media yang dapat menguatkan dan menumbuhkan keimanan adalah mengetahui Amaul Husna yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seraya berusaha memahami maknanya, dan mengamalkannya. 
Uraian Isi Bahan Ajar 
Untuk tujuan tersebut di atas, dalam Bahan Ajar ini Anda akan menemukan pembahasan tentang:
1. Gambaran umum materi Asmaul Husna sebagaimana terdapat dalam buku-buku akidah akhlak.
2. Gambaran umum materi Asmaul Husna yang harus Anda ajarkan kepada siswa MTs.
3. Gambaran tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran Asmaul Husna bagi siswa MTs.
4. Penjelasan tentang berbagai metode/teknik/media yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi Asmaul Husna bagi siswa MTs.
5. Beberapa soal latihan untuk menguji kemampuan Anda sendiri dalam memahami isi Bahan Ajar ini.
6. Rangkuman keseluruhan materi yang dibahas dalam Bahan Ajar ini.
7. Metode pengukuran kemampuan Anda dalam mempelajari materi dalam Bahan Ajar ini.
8. Kamus istilah (glosarium).
9. Daftar bacaan yang dapat Anda gunakan untuk pengembangan dan pengayaan materi.
Petunjuk Belajar
Untuk membantu Anda dalam mempelajari Bahan Ajar ini, Anda sebaiknya memperhatikan petunjuk-petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah bagian pendahuluan ini dengan cermat sampai Anda dapat memahami dengan baik tentang materinya, tujuannya, dan cara mempelajari Bahan Ajar ini.
2. Bacalah bagian demi bagian dengan seksama.
3. Temukan kata-kata kunci dan kata-kata yang dianggap baru. Carilah dan baca

pengertian kata-kata kunci tersebut dengan menggunakan kamus.
4. Pahamilah pengertian demi pengertian dari Bahan Ajar ini melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran dengan mahasiswa lain atau dengan tutor Anda.
5. Jika pembahasan dalam Bahan Ajar ini masih dianggap kurang, upayakan untuk dapat membaca dan mempelajari sumber-sumber lainnya yang relevan untuk menambah wawasan Anda dan mengadakan perbandingan-perbandingan.
6. Mantapkan pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan dalam Bahan Ajar ini dan melalui kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial dengan mahasiswa lain atau teman sejawat sesama guru.
7. Jangan lewatkan untuk mencoba menjawab soal-soal yang dituliskan pada akhir Bahan Ajar ini. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah Anda sudah memahami dengan benar kandungan Bahan Ajar.



SELAMAT BELAJAR!
من جدّ وجد!
















DAFTAR ISI

Mukadimah i
Daftar Isi iii
MATERI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA 1
Definisi Asmaul Husna 1
Memahami Kebesaran Allah Melalui Asmaul Husna 2
Al-Aziiz 2
Al-Adl 5
Al-Qoyyum 7
Al-Ghaffaar 9
Al-Baasith 13
An-Naafi’ 15
Ar-Ra’uuf 18
Al-Barr 19
Al-Fattaah 22
METODE DAN MEDIA PEMBELAJARAN 26
Metode Pembelajaran 26
Metode Ceramah 27
Metode Resitasi 29
Metode Kerja Kelompok 30
Metode Sosiodrama 31
Media Pembelajaran 32
EVALUASI PEMBELAJARAN 33
Penilaian Kelompok Diskusi 33
Penilaian Individu 36
Lampiran 39
Daftar Pustaka 42




PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA

MATERI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA
Materi yang harus Anda ajarkan kepada anak didik di Madrasah Tsanawiyah kelas VII pada semester II berkaitan dengan Asmaul Husna. Adapun Asmaul Husna yang harus Anda ajarkan adalah:
al-‘Aziiz
al-Ghaffaar
al-Baasith
an-Naafi’
ar-Ra’uuf
al-Barr
al-Fattaah
al-‘Adl
al-Qayyuum
Definisi Asmaul Husna 
Secara bahasa arti dari asma’ adalah nama-nama, sedangkan alhusna adalah terbaik. Asmaul Husna adalah nama-nama Terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagunganNya yang mesti menyatu dalam diriNya.
Allah berfirman dalam Q.S Thaha: 8
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ٨ 
 “Allah, tiada tuhan selain Dia, baginya nama-nama Terbaik.”
Dalam haditsnya Rasulullah bersabda:  
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ إِسْمًا, مِائَة إِلاَّوَاحِدًا, مَنْ اَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه بخاري ومسلم)
“Sungguh Allah mempunyai 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, Asmaul Husna adalah nama-nama terbaik dan agung yang dimiliki oleh Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama Terbaik ini. 

Allah sendiri menyatakan dalam AlQur’an bahwasannya Dia memang mempunyai nama-nama Terbaik yaitu Asmaul Husna. Beberapa ayat yang menunjukkan keberadaan asmaul husna diantaranya adalah:  
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤ 
Dialah Allah, yang Maha Mencipta, Memulai, Membentuk rupa. bagiNya adanama-nama Terbaik, bertasbihlah padaNya segala yang ada di beberapa langit dan bumi, dan Dialah yang maha Perkasa dan Bijaksana. (Q.S Al-Hasyr: 24)
Allah juga memerintah hambaNya untuk berdoa menggunakan media nama-namaNya al-asmaul husna, Allah berfirman dalam surat al-A’raaf: 180: 
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠ 
 “Dan milik Allahlah nama-nama Terbaik, maka berdoalah kalian dengan nama-namaNya, dan tinggalkanlah orang-orang yang mengingkari nama-namaNya, mereka akan di beri balasan terhadap apa yang mereka kerjakan (al-A’raaf: 180)”.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna
AL’AZIIZ: MAHA PERKASA 
Uraian sifat Al-Aziiz
Al-Aziz adalah nama Allah yang menunjuk pada pengertian kekuatan, hegemoni, ketinggian, dan mengendalikan. Adapun Makna nama Allah al-‘Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah. Menurut para ulama, Al-Izzah memiliki tiga makna, yakni:
Izzatul-quwwah, menunjukkan bahwa di antara nama-nama Allah adalah yang Mahakuat dan Maha Perkasa. Ini merupakan sifat mulia yang tidak dapat dinisbatkan kepada stau makhluk sekalipun dia amat agung. 
Izzatul Imtinaa’, Allah Mahakaya yang identik dengan Dzat-Nya. Dia tidak membutuhkan apa pun dan tidak ada bahaya yang dapat menimpa-Nya. Makhluk tidak dapat memberikan bahaya dan manfaat kepada Allah, justru Dialah yang memberi bahaya dan manfaat; yang memberi dan yang mencegah.
Izzatul qadr, Allah mempunyai kekuatan untuk memaksa dan mengalahkan seluruh semesta, sehingga semuanya dipaksa di bawah kekuasaan Allah, tunduk pada keagungan-Nya serta menuruti keinginan-Nya.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Aziiz
KeperkasaanNya tidaklah mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Allah berfirman dalam Q.S Yasin ayat 1 s.d 5 yang menunjukkan bahwa diriNya yang memiliki Keperkasaan dan kasih sayang. Yaitu: 
يسٓ ١ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡحَكِيمِ ٢ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٣ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٤ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٥ 
Yaa siin; Demi Al Quran yang penuh hikmah; Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul; (yang berada) diatas jalan yang lurus; (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Yaasiin [36]: 1-5)
Dalam ayat ini, Allah memaklumatkan bahwa diriNyalah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, tiada yang bisa mengungguli keperkasaan Allah SWT. Misalnya dalam menggerakkan matahari di atas kita, Allah Maha Perkasa untuk menjaganya sampai nanti hari Qiyamat. Dalam AlQur’an penyebutan kata al-Aziz sering kali diiringi dengan kata al-Hakim atau kata al-Rahim. Misalnya dalam surat al-Maidah: 118:
إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١١٨ 
 “Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah AlAziz dan alHakim (yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana)”.
Hal ini menunjukkan bahwa sifat keperkasaan, kekuatan-Nya, sifat Maha MengendalikanNya senantiasa diiringi dengan Kebijaksanaan Allah dan kasih sayang Allah SWT.


Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Aziiz
Adapun sifat aziz dapat diteladani dengan cara memiliki sifat tegar dalam menghadapi berbagai masalah. Tegar dalam menuntut ilmu, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tegar dalam menghadapi musibah yang datang. Suatu sikap yang patut dimiliki dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap aziz (mulia) dapat menjadikan pemiliknya menjadi orang yang dibutuhkan oleh hamba Allah yang lain terkait menunaikan urusan-urusan mereka yang terpenting. Jika kita ingin menjadi aziz maka jadilah tempat solusi bagi saudara mukmin lainnya dan janganlah menjadi biang masalah bagi mereka. Apa yang dimaksud dengan perkara yang sangat penting bagi manusia yaitu bagaimana mereka dapat hidup sejahtera di dunia dan di akhirat, yakni dengan cara memberikan ilmu dan pemahaman yang dapat menyelamatkan mereka dunia dan akhirat. Orang yang hidupnya berorientasi kepada akhirat, ia cenderung menjadi pribadi yang tidak hanya shalih pribadi namun ia juga shahih secara sosial. Maksudnya shalih secara sosial adalah ia bertanggung jawab pula terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, sehingga ia mengajak keluarganya, dan masyarakat untuk menjadi pribadi yang shalih. Berikut contoh perilaku orang yang mengamalkan Al-Aziiz:
Perilaku cinta Ilmu
Perilaku Rendah Hati
Perilaku Mandiri

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Aziiz 
Untuk dapat meneladani sifat Allah Al-Aziiz, hendaknya kamu perhatikan beberapa langkah berikut:
Tanamkan keyakinan bahwa Allah SWT. MahaPerkasa tidak ada satupun yang dapat menandingi-Nya.
Perbanyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, sehingga dapat menambah wawasan tentang kebenaran kebesaran Allah SWT. dan Keperkasaan-Nya.
Biasakan membaca dan memahami Asma’ul Husna beserta maknanya, sehingga dapat meresap ke dalam hati dan tertarik untuk mengamalkannya.
Mulailah dari sekarang membiasakan diri meneladani sifat Allah SWT. Al-Aziiz dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk anak didik: “Anakku tercinta, jika engkau telah mampu memelihara apapun yang dianugerahkan Allah kepadamu, maka engkau akan menjadi orang yang gagah. Kegagahanmu bukan sekedar penampilanmu, namun juga kepribadianmu. Ingatlah selalu bahwa kegagahanmu itu bukan dari dirimu sendiri, namun pancaran dari Al-Aziz Sang Mahagagah. Betapa gagahnya Al-Aziz hingga tak ada satu pun yang mengalahkan dan melawan-Nya. Meskipun dikaruniai percikan Al-Aziz, namun engkau harus tetap berendah hati. Jadilah orang gagah namun penuh kasih sayang, karena kau diciptakan oleh Al-Aziz.”

AL-‘ADL: MAHAADIL 
Uraian sifat Al-Adl
Al-‘Adl berarti “Yang Maha Adil”. Kata ‘adlu adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘adala-ya’dilu-‘adlan-‘udulan-‘adalatan. Kata kerja ini berakar pada huruf-huruf ‘ain, dal, dan lam, yang makna pokoknya adalah al-istiwa’ (keadaan lurus) dan al-i’wijaj’ (keadaan menyimpang). Jadi rangkaian huruf-huruf tersebut mengandung makna yang bertolak belakang, yakni lurus, sama, bengkok atau berbeda. Allah senantiasa berbuat adil dalam membuat keputusan. Mustahil Allah Swt. berbuat tidak adil karena sifat demikian terdapat pada makhluk. 

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Adl
Allah berbuat adil dalam pelaksanaan hukum-hukumNya, baik yang ada di dunia ini, terlebih lagi nanti di Akhirat. Saking adilnya Allah, Allah kelak akan mengadili hewan yang didzalimi oleh hewan lain saat ada di dunia ini. Nabi menyebutkan bahwasannya apabila ada kambing bertanduk menyeruduk kambing yang tidak bertanduk, maka Allah nanti menghidupkan keduanya, lalu kambing yang tidak bertanduk diberi tanduk oleh Allah SWT lalu ia menyeruduk kambing yang menyeruduknya sewaktu di dunia. 
Setelah pembalasan Allah diberlakukan dengan sangat adil, lalu Allah berfirman: jadilah kalian menjadi debu, lalu hewan-hewan tersebut menjadi debu. Dan pada saat itulah orang-orang kafir yang melihatnya ingin jikalau mereka dijadikan Allah sebagai debu juga yang tidak akan mengalami siksaan di neraka, lalu Allah menolak permintaan dari orang-orang kafir. Naudzu billah min dzalik.

Keadilan Allah Swt. mutlak dan sempurna. Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dalam menentukan hukum, dia menghukum dengan tidak berat sebelah, tetapi sesuai dengan kemampuan. Keadilan Allah Swt. berbeda dengan keadilan manusia. Keadilan manusia bersifat relatif, semu, dan cenderung berubah-ubah karena dipengaruhi lingkungannya. Allahu Akbar!

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Adl
Supaya sifat keadilan tetap dapat ditegakkan, manusia hendaknya manusia berusaha mengikuti tuntunan hukum yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadis. Allah Swt. Bahkan menyuruh manusia untuk dapat berlaku adil, sebagaimana dalam firmanNya di dalam QS. An-Nahl: 90
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠ 
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
Seorang yang mempunyai sifat adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Dan pada dasarnya pula, seorang yang adil adalah berpihak kepada yang benar. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu secara patut dan tidak sewenang-wenang. ”Adil adalah kemuliaan dan pertanda kebaikan seorang muslim”. Adapun contoh perilaku orang yang mengamalkan sifat Al-Adl adalah:
Bersikap Istiqamah
Bersikap Musawah (memandang harkat dan martabat semua orang itu sama di hadapan Allah)
Bersikap amanah
Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Adl
Berikut langkah-langkah dalam meneladani sifat Allah Al-Adl:
Tanamkan keyakinan bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. Merupakan kewajiban setiap mukmin
Perbanyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, sehingga dapat menambah wawasan tentang kebenaran kebesaran Allah SWT. dan Keperkasaan-Nya.
Biasakan membaca dan memahami Asma’ul Husna beserta maknanya, sehingga dapat meresap ke dalam hati dan tertarik untuk mengamalkannya.
Mulailah dari sekarang membiasakan diri meneladani sifat Allah SWT. Al-Adl dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk anak didik: “Anakku, jangan pernah ragu dengan ketetapan-Nya, maka engkau akan menjadi orang yang adil. Berjalanlah dan bersikaplah dengan lurus. janganlah berpihak pada salah satu. Jika engkau mengikuti Al Adl Yang Mahaadil maka engkau akan menjauhi penindasan dan perbuatan zalim. Anakku, begitu banyak manusia di muka bumi ini yang merindukan keadilan. Hal itu sesungguhnya merupakan bukti bahwa di dalam dirinya terdapat percikan Al Adl. Ikutilah Al Adl yang selalu memberi seseorang sesuai haknya, menempatkan selalu pada tempatnya. Tegakkan keadilan pada siapapun walaupun terhadap keluargamu, temanmu, bahkan pada dirimu sendiri.”

ALQAYYUM: MAHA BERDIRI MENGURUSI MAKHLUK. 
Uraian sifat Al-Qayyum
Alqayyum adalah salah satu dari Asmaul Husna. AlQayyum artinya Maha (cermat) Berdiri dalam Mengurusi hamba-hambaNya. Allah berfirman dalam ayat Kursi (alBaqarah: 255), bahwa Allah tak tersentuh oleh rasa kantuk sedikitpun, tidak juga tersentuh oleh tidur. Hal ini disebabkan karena Allah-lah yang Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan yang hanya dialami oleh makhlukNya. 
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ 
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.
Adapun Al-qoyyum juga berarti kesempurnaan berdiri sendiri. Al-Qoyyum mempunyai dua pengertian:
Allah berdiri sendiri, seluruh sifat-Nya Agung, dan tidak membutuhkan makhluk.
Allah mengurus langit dan bumi berikut isinya seperti para makhluk. Dia mewujudkan makhluk, menguatkan, dan menyiapkan segala yang dibutuhkan mereka agar bisa bertahan hidup. Dia tidak membutuhkan makhluk dari segi apapun. Justru merekalah yang membutuhkan Allah. 

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Qayyum
Allahlah yang mengurusi dan memperbaiki alam semesta setelah di lakukan perusakan oleh manusia, tiada yang lebih baik daripada perbuatan Allah dalam mengurusi dan memperbaikinya. Misalnya ada manusia yang mengotori tanah dengan limbah-limbah, nanti Allah akan memperbaiki juga walau jika kita melihatnya akan memerlukan waktu yang lama. 
Allah tidaklah tersentuh oleh rasa lelah, kantuk dan tidur. Suatu ketika nabi Musa A.S bertanya kepada Allah: ya Allah, tidakkah Engkau merasa lelah dalam menjaga makhluk-makhlukMu, juga alam semesta ini. Maka, Allah memerintah Musa A.S untuk mengambil sebuah cermin. Allah berfirman: ambillah sebuah cermin wahai Musa, lalu peganglah ia, satu malam saja dengan berdiri, jangan sampai cermin tersebut jatuh.
Lalu nabi Musa mengambil dan memegang cermin itu, dan berusaha berdiri semalam untuk menjaga cermin tersebut supaya tidak jatuh. Dan sampailah pertengahan malam, dan saking lelah dan berat rasa kantuk nabi Musa, maka terjatuhlah cermin itu dari tangan nabi Musa. Setelah terjatuh, maka cermin itu jatuh berkeping-keping. Lalu nabi Musa mengambil pecahan-pecahan cermin, kemudian Allah berfirman: wahai Musa, begitulah keadaanKu, andai kata Aku seperti makhluk yang mengalami rasa lelah, kantuk dan tidur, maka akan hancur berkeping-kepinglah alam semesta ini.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Qayyum 
Jika merujuk pada tabel penyelarasan karakter CEO dengan Asmaul Husna sifat Qayyum diartikan sebagai sifat mandiri dan berkomitmen. Sikap mandiri dan mempunyai komitmen harus diteladani di dalam kehidupan. Caranya dengan merintis agar dapat hidup mandiri. Pergunakanlah kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Persaingan hidup yang semakin ketat menuntut kita untuk dapat hidup mandiri yakni dengan tidak bergantung dan menggantungkan harapan kepada orang lain.
Contoh perilaku orang yang mengamalkan sifat Al-Qoyyum
Tidak bergantung kepada orang lain
Tidak mudah putus asa

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Qayyum
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Qoyyum adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: Anakku, kelak ibu dan bapak guru akan pergi meninggalkanmu. Engkau akan hidup sendiri. engkau harus mandiri anakku tercinta. Ingatlah selalu al-Qoyyuum Dia Mahamandiri. Tegaklah dengan kakimu sendiri. tataplah masa depan berama Allah al Qoyyum yang akan membuatmu mandiri. Janganlah engkau bergantung kepada apapun di muka bumi. Janganlah engkau bergantung kepada berhala dunia di muka bumi. Tapi bergantunglah kepada Dia Al Qoyyum Yang Mahamandiri.

AL-GHAFFAR: MAHA PENGAMPUN
Uraian sifat Al-Ghaffar
Asal kata Al-Ghaffar adalah sitr dan taghthiyah, yang artinya “merahasiakan” atau “menutupi”. Jadi, maghfirah dari Allah Swt. itu maknanya adalah dirahasiakan dan diampuninya dosa-dosa dengan karunia dan rahmat-Nya, bukan karena taubat atau taatnya seorang hamba. Adapun taubat dan taatnya seorang hamba hanyalah sebagai media untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. Al-Ghaffar artinya adalah Dzat yang menampakkan kebaikan dan menutupi kejelekan di dunia, dan memaafkan hukumannya di akhirat. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, makna ghafara adalah (merahasiakan), maka ada beberapa hal yang Allah Swt. rahasiakan dari hamba-hamba-Nya. Pertama, dijadikan-Nya keburukan-keburukan batin dengan ditutupi oleh kebagusan lahir mereka. kedua, pikiran jahat dan keinginan buruk mereka ditempatkan-Nya di dalam kalbu, sehingga tidak ada orang yang dapat melihatnya. Ketiga, dengan maghfirah-Nya itu pula, Allah swt. telah merahasiakan dosa-dosa manusia yang sebenarnya pantas dipermalukan di hadapan orang banyak.
Al-Ghaffar artinya maha Pengampun atau Maha Pemaaf sesuai dengan sifat-Nya, karena Dia senantiasa mengampuni hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dia Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, terhadap hamba-hamba-Nya. Lafaz Al-Ghaffar tercantum dalam QS. Shaad: 66
رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفَّٰرُ ٦٦ 
Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Setiap manusia membutuhkan maaf dan ampunan Allah Swt. seperti mereka membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Allah Swt. sendiri telah berjanji untuk memberikan maaf dan ampunan bagi orang yang melakukan perbuatan yang mengundang ampunan allah seperti bertaubat, beriman, beramal shaleh dan tetap dalam petunjuk-Nya sebagaimana di dalam QS. Thaha: 82
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢ 
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
Diantara kesempurnaan ampunan Allah adalah meskipun seorang hamba telah melampaui batas, lalu dia bertobat dan kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni segala kesalahannya, baik kecil maupun besar. Hal ini diisyaratkan di dalam QS. Az-Zumar: 53
۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣ 
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan dalam hadis qudsi:
 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi." (HR. Tirmidzi No. 3463 Abu Isa berkata hadits ini hasan gharib)
Allah Swt. telah mengungkapkan kunci maaf dan ampunan-Nya dengan taubat, istighfar, iman, beramal shaleh, berbuat baik kepada sesama, memaafkan mereka, berusaha keras meraih karunia Allah, berbaik sangka kepada Allah, dan amalan lainnya yang dijadikan sebagai media untuk mendapatkan ampunan-Nya.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Ghaffar
Al-Ghaffar adalah nama Allah yang menunjukkan sifatNya bahwa Allah Maha Pengampun yang akan memberikan ampunan pada hambaNya yang mu’min. Allah amat senang dalam memberikan ampunan (maghfirah) kepada hambaNya jikalau hamba tersebut mau memohon ampunan padaNya. Allah memerintah hambaNya untuk meminta ampunan padaNya, karena tiada hamba yang selalu berada di atas kebenaran 100 %. Beberapa Nabi juga mengalami hal yang sama, mereka ada yang melakukan kekhilafan, lalu Allah memberitahu cara mereka memohon ampunan, lalu mereka memohon ampunan dan bertaubat pada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Nuh: 10-12.
 فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا ١٢ 
Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun; niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat; dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Ghaffar 
Sebagai hamba Allah, kita hendaknya berusha memiliki sifat pemaaf, lapang dada, dan berjiwa besar, sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita sebagai manusia. Apabila perilaku demikian telah dibiasakan. Maka akan tercipta suasana aman, tertib, dan tentram di lingkungan kita. Sebagai hamba-Nya yang mengimani Allah Maha Pengampun, hendaklah terus-menerus memohon ampun kepada Allah Swt. Agar kita senantiasa bersih dari murka Allah. Apalagi pernah melakukan dosa besar, harus lebih banyak beristighfar kepada Allah Swt.
Contoh Perilaku orang mengamalkan makna sifat Al-Ghaffar:
Pemaaf
Tidak menaruh dendam
Tegas

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Ghaffar
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Ghaffar adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Betapa mulia semua nasihat ini, anaku, namun berat untuk dilaksanakan. Kita ingin senantiasa suci, namun begitu banyak kesalahan yang kita lakukan. Kadang-kadang kita lupa dan berbuat kesalahan, ingatlah Al Ghaffar Sang Maha Pengampun. Anakku, Dia-lah Al Ghaffar yang menutupi dosa-dosa hamba-Nya karena keurahan dan anugerah-Nya. Al-Ghaffar-lah telah menutupi dorongan dan kehendak-kehendakmu yang sulit terkendali. Dia-lah yang menutupi lintasan pikiran yang buruk dan apa yang terbesit dalam hati seperti prasangka dan iri dengki. Dia pula anakku, yang menutupi sekian banyak pengalaman dan masa lalumu, kesedihan maupun keinginan yang membuat hatimu susah. Dia-lah yang meenutupi segala dosamu. 

AL-BAASITH: MAHA MELAPANGKAN
Uraian sifat Al-Baasith
Al-Basith adalah nama Allah yang artinya Maha Melapangkan. Kata Al-Basith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.
۞وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ٢٧ 
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura [42] : 27)
Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan su’uzzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Baasith
Arti al-Basith adalah Maha Meluaskan rizki bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Karena Allahlah yang melapangkan rizki dan juga menyempitkannya, yang membentangkan rizki itu dengan rahmatNya dan menahannya dengan kebijakanNya terhadap hambaNya yang bersangkutan.
إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرٗا ٣٠ 
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Isra: 30)
Firman-Nya “sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” Hal itu sebagai pemberitahuan bahwa Dia adalah sang Pemberi Rizki, Pengambil rizki, Penyalur rizki, serta pengendali segala urusan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan akan menjadikan miskin siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena yang demikian itu terdapat hikmah. Oleh karena itu, Dia berfirman “Sesungguhnya Dia Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya.” Yakni, Maha Melihat siapa orang yang berhak memperoleh kekayaan dan siapa juga orang-orang yang layak hidup miskin.

Dalam kehidupan ini, makhluk Allah mengalami pasang surut kehidupan. Ada kalanya miskin, lalu Allah menjadikan dan juga termasuk manusia akan mengalami roda kehidupan. Allah sudah mengatur rizki makhlukNya, bahkan Allah sudah mengatur rizkinya semut, bakteri dan lain-lain sebagainya, Allah itu Maha Melapangkan rizki, sehingga kita sebagai hambaNya dilarang takut akan mengalami kesempitan rizki selagi kita melaksanakan perintah Allah SWT. 
Allah Swt. senantiasa membentangkan rahmat-Nya dan kasihNya untuk menerima taubat hamba yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki) yang dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Firman Allah Swt:
ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ 
Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS. Ar Ra’d: 26)
Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Baasith
Dengan memahami dan menghayati makna Asmaul Husna Al-Baasith maka kita seharusnya bersyukur kepada Allah karena Alah Swt. telah melapangkan rezeki kepada kita dengan berbagai nikmat yang kita tidak akan sanggup menghitungnya. Disamping itu seharusnya memiliki sikap kerja keras di dalam mencari anugerah Allah serta bersabar jika suatu saat mengalami sedikit hambatan di dalam mencari rezeki.
Berikut contoh orang yang mengamalkan makna sifat Al-Baasith:
Pekerja keras
Ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan
Percaya diri

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Baasith
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Baasith adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, banyak yang hatinya sempit, dunianya sempit, maka luaskanlah. Ingat di dalam dirimu ada cahaya dari Allah Al Baasith Yang Senantiasa Melapangkan. Anakku, kepada orang yang sempit pikirannya, maka bantullah ia, berilah ia penjelasan sehingga wawasannya menjadi luas. Kepada yang sempit dadanya, maka lapangkanlah sehingga sirna keresahannya. Kepada yang sempit rezekinya maka bantulah ia hingga terpenuhi kebutuhannya. Apabila engkau mampu melaksanakan semua itu, sesungguhnya engkau telah menjalankan amanahmu sebagai makhluk al-Basith. Bukan hanya mereka yang engkau tolong akan merasakan kelapangan, namun juga dirimu sendiri”. 

AN-NAAFI’: MAHA PEMBERI MANFAAT
Uraian sifat An-Naafi’
An-Nafii’ berarti Pemberi Manfaat Allah Swt. telah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling baik dan sempurna serta telah memberikan karunia yang membuat manusia menjadi makhluk yang unggul di antara makhluk yang lain. Karunia tertinggi yang diberikan Allah yaitu akal, kalbu, fitrah, dan iman. Kasih sayang Allah Swt. Tidak henti-hentinya diberikan kepada manusia, seperti kebaikan yang telah diciptakan-Nya. Jika seorang mengamati alam semesta ciptaan Allah Swt. maka semua ada manfaatnya bagi manusia. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Allah Swt.
قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي ضَرّٗا وَلَا نَفۡعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَ‍ٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٤٩ 
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya) (QS. Yunus [10] : 49)

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna An-Naafi’
Allah Swt. dalam menciptakan segala yang ada di alam ini tiada yang sia-sia. Allah mempunyai tujuan dan manfaat, sehingga ciptaan Allah mesti akan bermanfaat pada makhlukNya yang lain. Allah menciptakan bakteri umpamanya, ada sebagian besar bakteri yang juga mempunyai manfaat bagi tubuh manusia. Allah menciptakan buah manggis misalnya, maka buah ini dapat dikonsumsi sebagai buah-buahan yang segar untuk dikonsumsi, bahkan sekarang ini, kulit dari buah manggispun dijadikan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit yang dialami oleh manusia seperti obat penyakit kanker, jantung, kolesterol jahat (LDL) dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwasannya Allah tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil-pun dari ciptaanNya. Allah maha Cermat dalam memberikan aspek manfaat ciptaanNya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191: 
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١ 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Perilaku Orang yang Mengamalkan An-Naafi’
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna An-Naafi’ maka kita bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberi banyak nikmat yang membawa banyak manfaat bagi kita dan orang-orang sekitar kita. Di samping itu kita berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi diri, agama, keluarga, umat, masyarakat bangsa dan negara. Dan juga orang yang mengamalkan sifat Naafi’ ia tidak tamak terhadap keduniaan karena sadar bahwa sesuatu yang dinilai baik belum tentu membawa berkah dan manfaat bagi dirinya, mau membantu tetangga atau orang lain, berupaya untuk mengerjakan hal-hal yang positif dan tidak meremehkan segala ciptaan Allah swt. Adapun ciri insan Ulil Albab adalah bisa membuktikan dan menyimpulkan bahwa ciptaan Allah itu tiada yang sia-sia.
Berikut contoh perilaku orang yang mengamalkan makna sifat an-Naafi’:
Dermawan
Sering menolong orang lain
Memiliki sikap bertanggung jawab

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat An-Naafi’
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Naafi’ adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, kelak di mana pun engkau berada, di posisi apapun, jadilah orang yang bermanfaat. Engkau diciptakan oleh Allah An Naafi’ Yang Maha Pemberi Manfaat. Dan engkau pun harus bisa memberi manfaat atas apapun yang kau miliki, sesedikit apapun berilah manfaat, Nak, karena Allah senantiasa memberi manfaat. Jika dirimu bermanfaat, hidupmu memberikan manfaat, sesungguhnya engkau tengah mengabdi dengan setia pada An Naafi’.”

AR-RA’UUF: MAHA BELAS KASIH
Uraian sifat Ar-Ra’uuf
Ar-Ra’uuf adalah salah satu dari Asmaul Husna. Allah mempunyai nama arRauuf yang artinya Maha belas Kasih dan Maha Memberi kepada hamba-hambaNya. Allah sudah amat termasyhur akan kedermawanannya, sehingga makna Ar-Ra’uuf bisa dimaknai dengan Maha Dermawan juga.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Ar-Ra’uuf
Allah Maha Memberi dan selalu memberi walaupun tidak diminta, walau hamba tidak mau beribadah dan berdoa kepadaNya, maka Allah tetap akan memberi di dunia ini. Inilah wujud cinta Allah kepada hambaNya di dunia.Ya, bukti cinta adalah memberi. Dan Allahlah yang paling banyak memberi karunia pada hambaNya. Tetapi di akhirat, Allah hanya memberikan rahmatnya pada orang-orang mu’min saja.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Ar-Ra’uuf
Sifat kasih sayang Allah ini yaitu arRauf, sudah diamalkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, saking baiknya pelaksanaan amal Nabi Muhammad SAW, sampai pada akhirnya Allah menyebutkan dan memuji Nabi, lalu juga menulis perilaku Nabi sama dengan yang diinginkan oleh Allah SWT. Allah berfirman dalam Q.S at-Taubah: 28
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨ 
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Orang yang mengamalkan sikap Ra’uuf, ia selalu menjalani hubungan silaturrahim dengan keluarga, mencurahkan kasih sayang kepada sesama hamba Allah bahkan terhadap hewan sekalipun, dan Tidak saling iri hati serta pandai mensyukuri nikmat dan karunia Allah Swt.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Ar-Ra’uuf
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Ar-Ra’uuf adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, Allah memancarkan kasih sayang tanpa lelah dan tanpa bosa. Karena itu, anakku, apa yang engkau terima dari-Nya, limpahkanlah ke sekelilingmu yang mebutuhkan. Semuanya itu adalah wuwuj limpahan kasih sayang-Nya, karena Dia adalah Ar Ra’uuf Yang Maha Pelimpah Kasih sayang. Ikuti dan teladanilah Ar-Ra’uuf, anakku, niscaya engkau pun akan senantiasa mendapatkan limpahan kasih sayang.”

AL-BARR: MAHA DERMAWAN
Uraian sifat Al-Barr
Allah Swt. yang mengaruniai seluruh yang ada dengan kebaikan, pemberian, dan kemuliaan. Allah adalah Tuhan Mahaindah yang selalu berbuat kebaikan dan senantiasa memberi. Sifat Allah Maha Melimpahkan kebaikan, dan bukti ini adalah seluruh nikmat, lahir maupun batin. Makhluk tidak akan pernah kebaikan Allah walupun sekejap mata.
Kebaikan Allah ada yang umum dan khusus:
Kebaikan yang bersifat umum tersebut dalam ayat, “Tuhan kami Rahmat dan ilmu meliputi segala sesuatu” (QS. Al-A’raf [7]: 156); dan ayat “Segala nikmat yang ada pada kalian (datangnya) dari Allah” (QS. An-Nahl [16]: 53). Jadi, kebaikan Allah itu dirasakan oleh orang yang baik, jahat, penduduk langit, penghuni bumi, mukallaf, maupun bukan.
Kebaikan yang khusus, yaitu rahmat dan nikmat Allah yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa, seperti firman-Nya, “Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa serta menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis).” (QS. Al-A’raaf [7]: 157)

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Barr
Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Dermawan, Yang Maha melimpahkan kebaikan. Dan Dialah Allah menganugerahkan aneka anugerah untuk kemaslahatan makhluk-Nya, anugerah yang sangat luas dan tidak terhingga. Walaupun terhadap manusia yang durhaka kepada-Nya, namun Dia tetap melimpahkan kebaikan-Nya kepada mereka. Firman Allah Swt :
إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ٢٨ 
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang (Q.S. Ath Thuur: 28)
Penggunaan sifat al-Barru dengan ar-Rahim untuk mengisyaratkan bahwa aneka kebaikan itu diberikan Allah atas kasih sayangNya yang melimpah. Dan Dia tak mengharapkan imbalan apapun dari kebaikan pada makhlukNya.  
Allah adalah Maha Baik, dalam memperlakukan hambaNya selalu baik. Bahkan dalam kemaslahatan suatu penyakit umpamanya, Allah maha Baik dalam hal memberikan yang baik terhadap hamba tersebut. Orang yang mengalami sakit apapun bentuknya, manakala dia ikhlas dalam menjalaninya, maka penyakit inipun akan menjadi kaffarahnya atau penghapus dosanya bagi mereka yang mengalaminya.
Sakit dalam pandangan Allah adalah merupakan cara untuk membersihkan hamba dari dosa-dosa. Nabi Bersabda bahwasannya semua yang menimpa manusia tiada lain bertujuan untuk menyempurnakan manusia sehingga sewaktu mereka akan menghadap Allah nanti dalam keadaan suci bersih. Nabi bersabda bahwasannya termasuk duri yang terinjak oleh manusia, bilamana hamba tersebut merasa ikhlas maka ia akan menjadi penghapus akan dosa-dosa hamba tersebut. Allah berfirman dalam berbagai ayat dalam AlQur’an bahwa Dia tidak akan berbuat dzalim atau menganiaya hambaNya. Artinya apabila seorang hamba berbuat baik, pasti Allah memberikan pahala. Bahkan Allah akan memberikan pahala satu kebaikan dengan melipatkannya menjadi minimal 10 kali lipat, 70 kali lipat, seratus kali lipat,dan tujuh ratus kali lipat. Dan bahkan ada amal-amal yang diberi pahala oleh Allah SWT seribu kali lipat bahkan tidak terhingga (bighairi hisaab) misalnya adalah pahala berbuat sabar.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Barr
Orang yang beriman terhadap sifat Allah Al Barr, tentu ia akan menunjukkan sikap perilaku terpuji, di antaranya sebagai berikut:
Perilaku Menghargai Orang Lain
Kebanyakan orang hanya ingin dihargai oleh orang lain, sedangkan dirinya tidak peduli terhadap orang lain. Perilaku demikian itu tidak terpuji dan harus dihindari. Namun demikian, seorang yang beriman itu tidak terpuji dan harus dihindari. Namun demikian, seorang yang beriman terhadap sifat Allah Al Barr, tentu memiliki perilaku menghargai orang lain, baik terhadap pendapatnya maupun karya-karyanya. Orang lain adalah orang selain kita, siapa pun dia, baik saudara, orang tua, anak, istri, suami, mertua, teman sebaya, dan sebagainya. Mereka ialah orang yang sangat kita butuhkan kehadirannya dalam hidup kita, tanpa mereka hidup kita akan terasa hampa dan bahkan terasa berat. Oleh sebab itu, kita harus meghargai mereka.
Perilaku Peduli terhadap Sesama 
Perilaku peduli terhadap sesama merupakan perwujudan dari keimanan terhadap sifat Allah Al Barr. Peduli terhadap sesama manusia mengandung arti bahwa kita tidak bersikap acuh tak acuh atau masa bodoh dengan orang lain, melainkan selalu menaruh perhatian yang besar terhadap orang lain, di mana pun dan kapan pun. Di sekolah peduli terhadap guru dan teman, di rumah peduli terhadap orang tua dan saudara, di masyarakat peduli terhadap semua orang yang ada di sekeliling kita. Sehingga pada akhirnya kita akan menjadi orang yang berakhlak terpuji.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Barr
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Barr adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, Allah Swt. senantiasa membawa kebaikan, dia-lah Al-Barr Yang Mahadermawan yang harus engkau teladani. Bukankah engkau pun menyukai orang yang dermawan. Ketika engkau bederma maka kekayaanmu tidak akan berkurang karena Al-Barr akan segera membalasnya. Karena itu, dermakan sebagian dari apa yang kau miliki bukan hanya harta bendamu. Senyummu yang manis ketika engkau bertatap muka, sapaanmu yang lembut ketika engkau mengucapkan salam, itu semua adalah sifat kedermawanan yang diberikan oleh Allah Al Barr.”




AL-FATTAAH: MAHA MEMBUKA, MAHA PEMBERI KEMENANGAN
Uraian sifat Al-Fattaah
Al-Fattaah memiliki arti Yang Maha Pembuka. Al-Fattaah berasal dari kata fataha. Dari arti kalimat Al-Fattah, dapat disimpulkan bahwa hanya Allah Swt. yang bisa melakukannya, dan merupakan salah satu sifat-Nya. Problematika kehidupan manusia beraneka ragam, dari yang kecil sampai yang besar. Berbagai problematika tersebut tentu ingin diselesaikan. Selain berusaha/berikhtiar untuk menyelesaikan beragam masalah tersebut, henaknya kita juga berdoa. Doa merupakan permintaan kepada Al-Fattaah agar problematika yang kita inginkan dapat selesai. 

Menurut Said bin Ali bin wahf al-Qahthani artinya Maha Memutuskan hukum. Al-Fatiih berarti hakim; dan Al-Fattaah adalah bentuk mubalaghah. Keputusan Allah Swt. ada dua macam:
Keputusan dengan hukum agama dan hukum pidana
Keputusan dengan hukum takdir
Keputusan hukum agama itu berbentuk syariat yang diemban para rasul yang dibutuhkan orang mukallaf agar mereka selalu berada pada jalan yang lurus. Adapun keputusan hukum pidana adalah keputusan Allah terhadap para Nabi yang berperkara dengan para penentang, dan para wali-Nya vs musuh Allah, dengan memuliakan dan menyelamatkan para wali serta pengikut mereka; dan merendahkan dan mengadzab musuh mereka. termasuk dalam hukum pidana adalah pengadilan dan keputusan Allah pada hari kiamat terhadap para hamba, ketika Dia membalas amalan mereka.
Adapun keputusan hukum Allah yang bersifat takdir adalah setiap ketetapan Allah terhadap hamba-Nya yang meliputi kebaikan, keburukan, manfaat, bahaya, pemberian, atau pencegahan. Allah Swt. Maha Memutuskan hukum dan Maha Mengetahui yang melimpahkan khazanah kebaikan dan kemuliaan-Nya kepada hamba yang taat. Begitu sebaliknya, dia menghukum musuh atas dasar karunia dan keadilan.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Fattaah
Al-Fattaah (Maha Membuka) yakni Allah Maha Membuka akan pintu rahmatNya. Allah membuka jalan bagi manusia supaya mereka dapat menggali karunia Allah yang menyebar di alam semesta raya ini. Al-Fattaah (Maha Pemberi Kemenangan) Allah juga akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagi hamba yang menjalankan perintahNya.
Adapun Al-Fattaah (Maha Memutuskan hukum) diisyaratkan dala QS. Saba ayat 26
قُلۡ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفۡتَحُ بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَهُوَ ٱلۡفَتَّاحُ ٱلۡعَلِيمُ ٢٦ 
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui" (QS. Saba: 26)
Ayat ini mengacu pada dikumpulkannya kita pada hari Qiyamat. Untuk diberi keputusan dengan benar dan adil. Dikatakan alFattah alAlim adalah Allah Maha Memutuskan dengan ilmu dan PengetahuanNya yang mencakup segala sesuatu, karena Dia Maha mengetahui hakikat atas segala sesuatu. Makna AlFattah lainnya adalah Allah Maha Memutuskan antara orang-orang mu’min dan kafir.
Dalam surat al-A’raf: 89, Allah berfirman: 
قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ٨٩ 
Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya
Adapun bukti Al-Fattaah (Maha Pemberi Kemenangan) yakni ketika Nabi Muhammad s.a.w diberi janji oleh Allah berupa isyarat kemenangan bahwasannya Allah akan memberikan pada mereka kemenangan yang dekat, Allah berfirman: 
۞لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ١٩ 
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya); Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. AlFath: 18-19)

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Fattaah
Orang yang mengamalkan Al-Fattaah ia selalu terbuka dalam bersikap (Open Minded), senang menerima nasihat dari orang lain, ikhlas dan senang menolong orang yang membutuhkan pertolongan, menjalin hubungan baik antara sesama hamba Allah dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Adapun cerminan sikap lainnya adalah ia senantiasa cinta akan kebenaran dan berperilaku tegas serta pemberani.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Fattaah
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Fattaah adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, bagaimana hatimu? Hatimu harus terbuka dalam menerima kebenaran. Jangan sekali-kali kau tutup hatimu, anakku, karena engkau hamba Al-Fattaah Sang Maha Pembuka. Dia-lah yang yang membuka penutup rezeki hambanya hingga ia berkecukupan. Dia membuka hatimu yang tertutup hingga menerima kebenaran. Dia yang membuka pikiranmu yang tertutup, hingga engkau dapat menyelesaikan persoalan dan mengatasi kesulitan hidup. Karena itu, anakku, mohonlah kepada Allah agar senantiasa dibukakan semua pintu hati, dan menyiraminya dengan cahaya kebenaran dan kebajikan.



















Metode dan Media Pembelajaran 
      Setelah mempelajari materi asmaul husna, siswa MTs Kelas VII diharapkan memenuhi kompetensi berikut ini:
KELAS VII SEMESTER GENAP MTs

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR

Akidah
Memahami al-asma' al-husna 



1.1

Menguraikan 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, , al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.2
Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.3
Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.4
Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari



Untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari materi Asmaul Husna diperlukan metode, teknik, dan media pembelajaran yang relevan dan menyenangkan. Pemilihan metode, teknik dan media pembelajaran harus memperhatikan:
Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran
Kesesuaian dengan materi pembelajaran
Kesesuaian dengan karakter siswa
Kesesuaian dengan fasilitas yang tersedia
Kesesuaian dengan gaya belajar
Kesesuaian dengan teori pembelajaran

Beberapa metode dan teknik pembelajaran dapat dilakukan untuk menyampaikan materi Asmaul Husna, seperti metode ceramah, sosio drama, metode kerja kelompok, resitasi, dan sebagainya.

Metode Pembelajaran
Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu metode pembelajaran dimana guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu tertentu (waktunya terbatas) dan tempat tertentu pula. Dilaksanakan dengan bahasa lisan untuk memberikan pengertian terhadap suatu masalah. Dalam metode ceramah ini murid duduk, melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip ikhtisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan. 

Setelah dicermati, metode ceramah merupakan metode pembelajaran yang klasik dan umum digunakan dan metode ini pun tidak luput dari beberapa kelemahan yakni sebagai berikut:
Menggiring penggunaan verbalisme
Bila selalu digunakan dan terlalu lama akan membosankan
Guru menganggap bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya
Menyebabkan siswa menjadi pasif.

Metode ceramah sesuai untuk dijadikan sebagai salah satu metode di dalam pembelajaran Asmaul Husna, karena materi yang diajarkan berkenaan dengan ketauhidan. Adapun dalam menyikapi berbagai kelemahan metode ceramah ini, dapat diatasi dengan mengombinasikannya dengan berbagai metode lainnya, seperti metode tanya jawab, metode resitasi, metode kerja kelompok, dan sebagainya. Adapun contoh sistematika dalam penyampaian pembelajaran Asmaul Husna dengan menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut
Sistematika Metode Ceramah dalam Pembelajaran Asmaul Husna
Kemukakan tujuan pembelajaran Asmaul Husna, yakni anak didik mengenal, meyakini dan menghayati, menguraikan, menyajikan fakta dan fenomena kebenaran, serta meneladani sfat-sifat Allah yang terkandung dalam Asmaul Husna.
Kemukakan arti dari kata "asma ". Kata asma dalam bahasa Arab artinya adalah nama-nama. Berikan pemahaman bahwa asma atau nama-nama disini adalah khusus dan mutlak milik Allah Swt.
Kemukakan arti dari kata “alhusna” adalah terbaik. Berikan pemahaman bahwa alhusna disini dalam artian Yang Paling dan Yang Maha.
Padukan kedua kata tersebut, yakni kata “asma” dan kata “husna”, menjadi kata majemuk Asmaul Husna. Berikan arti atas kata majemuk tersebut, yakni amaul husna artinya adalah nama-nama Terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagunganNya yang mesti menyatu dalam diriNya.
Bacakan ayat al-Qur’an terkait dengan definisi Asmaul Husna, seperti QS. Thaha ayat 8.
Berikan contoh ayat al-Qur’an yang mengandung asmaul husna, seperti pada QS. Al Hasyr ayat 24.
Berikan pemahaman mengenai anjuran untuk memohon dan berdoa kepada Allah dengan menggunakan dan menyebut asma-Nya, seperti dalam QS. Al-A’raaf 180.
Berikan motivasi kepada anak didik untuk menghafal asmaul husna, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim “Sungguh Allah mempunyai 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga”. 
Sebutkan rincian Asmaul Husna yang menjadi inti materi pembelajaran.
Uraikan Asmaul Husna tersebut beserta menunjukkan fenomena-fenomena yang menunjukkan bukti kebenaran Asmaul Husna tersebut.
Berikan perenungan terhadap Asmaul Husna tersebut dan lakukan penghayatan, tujuannya agar anak didik dapat meyakini Asmaul Husna tersebut.
Berikan contoh-contoh sikap dalam meneladani sifat-sifat Allah Swt. yang tertuang dalam Asmaul Husna tersebut.
Berikan kesempatan agar anak didik untuk menanyakan hal yang belum dipahaminya atau untuk mengembangkan wawasannya.
Berikan pertanyaan terkait materi yang telah dibahas sebagai bentuk evaluasi.
Guru memberikan kesimpulan dan menyuruh anak didik untuk senantiasa mengamalkan sifat-sifat dalam meneladani asmaul husna tersebut.
Guru menutup ceramah dengan kata-kata yang memikat dan memotivasi.
Agar siswa dapat memahami pembelajaran, jangan lupa sertakan contoh konkret disetiap uraian asmaul husna, dikarenakan siswa masih berada dalam tahap perkembangan di awal jenjang peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sehingga cara berpikir anak-anak masih membekas dalam diri siswa, sebagaimana telah kita pahami bahwa anak-anak berpikir secara konkret. 

Metode Resitasi
Metode penugasan (resitasi) merupakan metode penyajian bahan yang dilakukan guru untuk memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat dilaksanakan di kelas, halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan, rumah siswa, atau di mana saja asal sesuai dengan bentuk dan jenis tugasnya.

Metode resitasi ini dipilih dengan tujuan agar siswa dapat menunjukkan fenomena-fenomena alam yang merupakan bukti atas wujud kebesaran Allah dalam 9 Asmaul Husna yang sudah dipaparkan, melalui pemberian tugas “Mencari Asmaul Husna dalam Kisah Inspiratif”. Berikut contoh sistematika metode resitasi “Mencari Asmaul Husna dalam Kisah Inspiratif”
SISTEMATIKA METODE RESITASI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA
Fase pemberian tugas. Guru memberikan beberapa kisah dalam bentuk lembaran kertas kepada siswa. Guru menginstruksikan siswa untuk mencari beberapa Asmaul Husna yang nampak atau muncul di dalam kisah tersebut dan menuliskannya di kolom jawaban yang telah disediakan.
Langkah pelaksanaan tugas. Guru memberikan bimbingan dan pengawasan agar siswa dapat secara mandiri mengerjakan tugas yang diberikan.
Fase mempertanggungjawabkan tugas. Guru menginstruksikan siswa untuk mengumpulkan lembar jawaban. dan guru mengadakan sesi tanya jawab dan diskusi kelas. 

Metode Kerja Kelompok
Guru membagi siswa atas beberapa kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas. Pengelompokkan dapat dilakukan oleh anak didik sendiri berdasarkan pemilihan teman yang menurutnya lebih dekat. Dan pengelompokkan dapat pula dilakukan oleh guru atas pertimbangan-pertimbangan pedagogis, di antaranya untuk membedakan anak didik yang cerdas, normal, dan yang lemah. 

Metode kerja kelompok ini cocok dijadikan sebagai suatu metode pembelajaran dikarenakan dapat membuat siswa lebih aktif dan membuat siswa bebas dalam mengungkapkan gagasannya. Dalam pembelajaran Asmaul Husna, dengan metode kerja kelompok diharapkan siswa dapat memahami, meneladani dan dapat memberikan contoh orang yang mengamalkan sikap teladan dari 9 Asmaul Husna.
Berikut contoh sistematika metode kerja kelompok dalam pembelajaran asmaul husna.
Sistematika Metode Kerja Kelompok dalam Pembelajaran 
Asmaul Husna
Berikan uraian singkat mengenai 9 Asmaul Husna yang menjadi inti materi dalam pembelajaran, yakni mengenai uraian asmaul husna beserta artinya, agar siswa memiliki pemahaman yang mendasar mengenai inti materi yang dibahas sehingga diharapkan ia dapat menjawab tugas kelompok yang diberikan oleh guru.
Bagi siswa menjadi beberapa kelompok dan dalam satu kelompok terdiri atas 9 siswa
Tampilkan 9 gambar melalui slide di dalam power point
Berikan tugas kepada setiap kelompok, untuk menganalisis ke-9 gambar tersebut dan temukan keterkaitan gambar tersebut dengan 9 asmaul husna yang menjadi materi pembelajaran
Setiap kelompok, menuliskan jawabannya dikertas selembar.
Pilihlah seorang siswa dari masing-masing kelompok, secara acak. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa atas tugas yang diberikan.
Suruhlah, masing-masing siswa tersebut untuk mempresentasikan gagasannya atau jawaban kelompoknya.
Berikanlah aspresiasi terhadap keaktifan siswa, dengan memberikan reward dan pujian.
Berikanlah jawaban yang tepat atas tugas tersebut, dan berikanlah simpulan dan penegasan atas inti materi dalam pembelajaran asmaul husna.
Berikan resitasi (PR) kepada masing-masing kelompok untuk menganalisis suatu kisah dan menemukan asmaul husna yang terdapat dalam kisah tersebut, lalu jawabannya ditulis di kertas. 

Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran melalui drama atau sandiwara, akan tetapi tidak disiapkan naskahnya terlebih dahulu. Tidak pula diadakan pembagian tugas yang harus mengalami latihan lebih dahulu, tapi dilaksanaan seperti sandiwara di panggung dengan tujuan:
Agar anak didik mendapatkan keterampilan sosial sehingga diharapkan nantinya tidak canggung menghadapi situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Menghilangkan perasaan-perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya, maka ia dilatih melalui temannya sendiri untuk berani berperan dalam sesuatu hal. Hal ini disebabkan karena memang ada anak didik yang disuruh ke depan kelas saja tidak berani apalagi berbuat sesuatu seperti bicara di depan orang dan sebagainya.
Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat di depan teman sendiri atau orang lain
Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat orang lain.

Metode sosiodrama ini dilakukan setelah guru menjelaskan ke-9 asmaul husna. Metode Sosiodrama ini digunakan sebagai suatu metode pembelajaran yang dapat memberikan kesan tersendiri bagi siswa, mengenai bagaimana contoh perilaku yang menggambarkan sikap teladan atas suatu makna dari sifat Asmaul Husna. Sehingga diharapkan siswa dapat lebih mudah dalam meneladani sikap terpuji tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Adapun contoh sistematika metode sosiodrama di dalam pembelajaran asmaul husna, sebagai berikut.
Sistematika Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Asmaul Husna
Pilihlah 9 pasang siswa.
Tugaskanlah para siswa tersebut untuk mencontohkan sifat-sifat/sikap yang menggambarkan keteladanan terhadap ke-9 asmaul husna dengan cara mengekspresikannya melalui drama atau sandiwara.
Tugaskanlah siswa yang lainnya (yang tidak terpilih) untuk mengamati dan menganalisis drama tersebut dengan cara menghubungkan ke-9 drama tersebut dan mencocokkannya dengan ke-9 asmaul husna yang tengah dibahas.
Perintahkanlah mereka untuk menulis jawaban dan gagasannya di dalam kertas selembar.
Setelah siswa selesai menjawab, kumpulkanlah tugas.
Berilah kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Komentarilah kegiatan pembelajaran (sosiodrama).
Berikanlah kesimpulan atas kegiatan pembelajaran.

Media Pembelajaran
Adapun media pembelajaran yang dapat digunakan di dalam pembelajaran Asmaul Husna adalah: Media Audio (Speaker), Media Visual (Gambar) serta Media Audio Visual (Video)




Evaluasi Pembelajaran
PENILAIAN KELOMPOK DISKUSI
Penilaian kelompok yang maju/presentasi
KELOMPOK: …
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Maks
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut



a
B
c


T
BT
R
P

1











2











3











Dst











Keterangan: 
T : Tuntas mencapai nilai ....( disesuaikan dengan nilai KKM ) 
BT : Belum Tuntas jika nilai yang diperoleh kurang dari nilai KKM 
R : Remedial 
P : Pengayaan
Aspek dan rubrik penilaian:
a. Kejelasan dan kedalaman informasi
1) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi lengkap dan sempurna, skor 30.
2) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 20.

3) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi kurang lengkap, skor 10.
b. Keaktifan dalam diskusi
1) Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 30.
2) Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 20.
3) Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 10.
c. Kejelasan dan kerapian presentasi 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi, skor 40. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi, skor 30. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan kurang rapi, skor 20. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 10. 

  
Penilaian individu peserta didik dalam diskusi  
Guru diharapkan untuk memiliki catatan sikap atau nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik selama dalam proses pembelajaran. Catatan terkait dengan sikap atau nilai-nilai karakter yang dimiliki boleh peserta didik dapat dilakukan dengan tabel berikut ini: 
No
Nama
Aktifitas
Jumlah Skor
Tingkat Penguasaan nilai (MK, MP, MT BT)
Keterangan



Keaktifan
Kerja
sama
Disiplin






1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4




1

















2

















Dst


















Rubrik penilaian: 
Apabila peserta didik belum memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku tetapi belum konsisten yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku dan sudah kosisten yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku kebiasaan yang dinyatakan dalam indikator. 
Catatan: 
Penguasaan nilai disesuaikan dengan karakter yang diinginkan.
MK = 4 – 12
MB = 1- 11
MT = 8 - 10 
BT = 4-7 
Keterangan: 
BT : Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator). 
MT : Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten). 
MB : Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten). 
MK : Membudaya/kebiasaan (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan








PENILAIAN INDIVIDU
Aspek Religi 
Nama: ......
No.
PERNYATAAN
PILIHAN JAWABAN
SKOR



Yakin
Ragu-Ragu
Tidak Yakin


1.
Allah adalah Sang Pemilik Asmaul Husna





2.
Keperkasaan Allah tidaklah mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya.





3.
Segala jenis dosa apapun akan diampuni Allah, kecuali dosa syirik





4.
Allah Maha Melapangkan rezeki atas makhluk yang dikehendaki-Nya





5.
Allah Maha Pemberi Manfaat, dan Allah tidaklah menciptakan segala sesuatu secara sia-sia





6.
Kedermawanan Allah dapat dirasakan oleh semua makhluk-Nya tanpa terkecuali. 





7.
Allah Maha Pembuka Dan Pemberi Kemenangan, contohnya seperti saat fathul Makkah





8.
Allah tidak pernah mendzalimi makhluk-Nya, Allah senantiasa berlaku Adil





9.
Allah Maha Cermat Dalam Mengurus Makhluk-Nya, tidak ada satupun yang luput dari pengawasanNya





10.
Allah memiliki nama-nama terbaik







Aspek Afektif
Nama: .......
No.
PERNYATAAN
PILIHAN JAWABAN
SKOR



A
B
C
D


1
Senang menolong orang yang kesusahan. 






2
Bersikap adil dan mandiri, Bisa berlaku adil pada diri sendiri dan juga orang yang dicintai.






3
Memiliki rasa percaya akan kebesaran Allah






4
Berusaha meraih prestasi terbaik 






5
Cermat dalam belajar dan bekerja 






6
Bersikap hormat pada manusia yang lebih tua. 






7
Belajar dan berilmu






8
Ingin berbagi “ilmu/pengalaman/rizki” pada orang lain.  






9
Menyayangi makhluk Allah termasuk pada hewan, tumbuhan dan lain-lain. 






10
Senang menolong orang lain. 






JUMLAH SKOR






KETERANGAN






A (Selalu) = Skor 4
B (Sering) = Skor 3
C (Kadang-kadang) = Skor 2
D (Tidak Pernah) = Skor 1
Nilai 23-25 = A (Sangat Baik)
Nilai 15- 23 = B (Baik)
Nilai 08-15 = C (Cukup)
Nilai 00-07 = D (Kurang)

CATATAN :
...................................................................................................................................................................



Aspek Kognitif dan Psikomotor
Soal Essay:
Jelaskan secara singkat ke-9 Asmaul Husna yang telah dipelajari!
Tuliskanlah satu ayat yang mengandung Asmaul Husna!
Sebutkan contoh perilaku dalam meneladani Asmaul Husna ”Al-’Adl”!
Sebutkan bukti kebenaran atas sifat Allah dalam Asmaul Husna ”Al-Qoyyum” di dalam fenomena alam yang nampak!
Mengapa kita harus mengenal Asmaul Husna?

















LAMPIRAN

9 Gambar yang Digunakan dalam Metode Kerja Kelompok (tujuan: Dapat memberikan contoh orang yang mengamalkan sikap dari 9 Asmaul Husna)







KISAH INSPIRATIF (METODE RESITASI)
Menemukan Asmaul Husna dalam penggalam kisah, dengan tujuan: siswa dapat menunjukkan fenomena-fenomena alam yang merupakan bukti atas wujud kebesaran Allah dalam 9 Asmaul Husna yang sudah dipaparkan.

Carilah Asmaul Husna yang terkandung dalam penggalan kisah berikut!
Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah.Maka Allah telah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampunganya dan sampai di suatu kawasan terpencil. 
Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia seorang diri, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andai kata anak-anakku ada di sisi pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmat-Mu ya Allah."
Akhir sekali pemuda itu berkata: Ya Allah, janganlah Kau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu. Ya Allah hanya Engkau saja harapanku", Setelah berkata maka matilah pemuda itu.
Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, firmannya: "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang wali-Ku telah meninggal. Mandikan, bungkus dengan kafan dan shalatkanlah dia."
Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata: "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu." Allah berfirman: "Benar. Aku kasihan kepadanya disebabkan rintihan sakitnya dan berjauhan dari keluarganya, lalu ia hanya berharap utuh kepadaKu. Apabila seseorang mu’min yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis kerana kasihan kepadanya. Oleh karena itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah zat Yang Maha Penyayang di antara penyayang."
Sebutkan sikap Rasulullah (dalam meneladani sikap dari Asmaul Husna) yang dapat diteladani dalam penggalan kisah berikut!
Dalam suatu khutbahnya Rasulullah s.a.w. telah menyeru supaya manusia berbuat baik antara satu sama lain terutama terhadap anak-anak yatim, janda-janda bahkan juga terhadap binatang.  
Pada suatu hari ketika baginda Rasul berjalan pulang ke rumahnya, lalu dilihat seekor kucing sedang tidur dengan anak-anaknya di atas jubah yang hendak dipakainya. Sikap baginda yang mengasihi binatang membuat baginda menggunting sebagian jubah yang selebihnya untuk di pakai. Dengan itu kucing-kucing tersebut tidak terganggu.
Suatu ketika yang lain pula sedang baginda berjalan-jalan disuatu lorong di bandar, tiba-tiba baginda memandang seekor unta sedang berlari dengan kencangnya. Orang ramai berlarian untuk mengelakkan diri khawatir akan tertabrak oleh unta itu. Tetapi anehnya ketika unta itu sampai kepada Rasulullah ia menjadi jinak, lalu ia dipeluk oleh baginda. Sejurus kemudian pemilik unta itu datang dengan dengan tergesa-gesa sambil mengucapkan terima kasih kepada Rasul.
Rasulullah amat tahu apa yang menyebabkan unta itu lari dari pemiliknya. Baginda berkata: "Kenapa engkau tidak memberikan makanan yang cukup untuk unta ini? Ia mengadu lapar kepadaku. Kalau engkau dapat menjaganya dengan baik, ia tidak akan lari." 
Orang itu sangat terkejut mendengar kata-kata Rasulullah, dia tidak menyangka bahwa unta itu bisa mengadu kepada Rasulullah dan baginda memahami bahasa binatang itu. Lantas ia mengakui kesalahannya. Sejak saat itulah ia sadar bahwa unta itu merupakan hamba Allah juga yang harus dijaga dengan baik dan tidak boleh membebani dengan beban-beban berat di luar kesanggupannya.


DAFTAR PUSTAKA

A. Wahid. 2009. Akidah Akhlak MTs. Kelas VII Semester 1 dan 2 Berdasarkan Standar Isi 2008. Bandung: CV Armico
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh. 2003. Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir. Diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar dan Abdurrahim Mu’thi. Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i 
Ahmad Taufik Nasution. 2009. Melejitkan SQ dengan Prinsip 99 Asmaul Husna Merengkuh Puncak Kebahagian dan Kesuksesan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Ary Ginanjar Agustian. 2011. Nasihat Asmaul Husna. Jakarta: PT. Arga Publishing
Ida Rosyidah. 2009. Perencanaan Pengajaran dalam Dimensi Kekinian. Bandung
Kementrian Agama. 2014. Akidah Akhlak/Buku Guru untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII edisi pertama. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia
Kementrian Agama. 2014. Akidah Akhlak/Buku Siswa untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII edisi pertama. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia
Kementrian Agama Republik Indonesia. 2014. Akidah Akhlak untuk MA/IPA, IPS, Bahasa Kelas X. Jakarta: Kementrian Agama 
Rizem Aizid. 2012. Asmaul Husna untuk Nutrisi Otak Kanan dan Kiri. Yogyakarta: Diva Press
Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 2010. Syarah Asma’ Allah al-Husna fii Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah. Diterjemahkan oleh: Sharih al-Khalid. Jakarta: Embun Publishing Group 
Udin wahyudin. 2012. Advanced Learning Islamic Education 1. Bandung: Grafindo Media Pratama
Zakiah Daradjat, dkk. 2011. Metodik Khusus pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara 
Aplikasi kutubuttis’ah
Anonim. 2015. Peneladanan Sepuluh Asmaul Husna. http://kisahmuslim.blogspot.co.id/2015/09/peneladanan-sepuluh-asmaul-husna.html?m=1 ,18 Maret 2017 pukul 13.43 WIB

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...