ALLAH AL MAAJID

AlMaajid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun mulia perbuatan-Nya.
Kemuliaan Allah pada zat-Nya memantul dalam kesempurnaan eksistensi-Nya, sehingga tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemuliaan Allah pada sifatNya mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milik-Nya saja. Dan kemuliaan Allah pada af’al atau perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi
Maha Pemurah” (Qs. Hûd: 73). 

Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, (Qs. al-Buruj: 13-15).

ALLAH AL WAJIID

Allah al-Waajid, karena dengan kekuasaan-Nya Allah yang menciptakan segala yang ada ini, Allah menemukan apapun
yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan segala kebaruan yang ada di alam ini, Allah menemukan dan mengetahui apapun niat, pikiran dan perbuatan yang manusia lakukan.

Allah berfirman yang artinya, Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”.
Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang
ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Saba: 3).

ALLAH AL QAYYUM

Al-Qayyum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mandiri. Allah mandiri dengan sendirinya, baik zat-Nya, sifatNya maupun af’al atau perbuatan-Nya. Allah tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, justru tempat bergantung apapun dan siapapun.

Para ulama memberi penegasan bahwa al-Qayyum dapat dimaknai dengan dua makna. Pertama, Allah adalah zat yang
maha mandiri, Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan justru malah membantu, tidak memerlukan sesuatu justru malah diperlukan oleh hamba-hamba-Nya. Kedua, Allah adalah zat yang
maha mengatur dan memenuhi hajat makhluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini teratur karena diatur oleh Allah. Semua
manusia membutuhkan Allah, dari sejak penciptaannya hingga kapanpun jua.

Allah berfirman yang artinya katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orangorang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka (Qs. al-Anbiyâ: 42). 

ALLAH AL HAYYU

Al-Hayyu dipahami bahwa Allah adalah Rabb yang maha hidup, sumber kehidupan, dan maha menghidupkan seluruh makhlukNya. Allah berfirman yang maknanya, adalah Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (Qs. al-Baqarah: 255).

Kesedihan yang sangat

Asy-Syibli mengatakan, "Cinta adalah kenikmatan yang luar biasa dan
kesedihan yang sangat." Asy-Syibli juga mengatakan, "Kerinduan adalah api
yang dinyalakan oleh Allâh dalam hati orang-orang yang menjadi kekasih-
Nya, sehingga dengan api itulah Dia membakar semua perasaan, ungkapan
dan kehendak yang ada dalam hati mereka."
Pahamilah hal itu, niscaya engkau akan memperoleh manfaatnya. Wallahu
a'lam.

HAMBA YANG ALLAH CINTAI DAN DIRINDUKAN.

Diriwayatkan dari seorang ulama salaf, sesungguhnya Allah Ta'ala pernah mengatakan kepada seorang shiddiqin, "Aku mempunyai seorang hamba
di antara hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku dan Aku pun mencintainya.
la merindukan-Ku dan Aku pun merindukannya. Ia mengingat-Ku dan Aku
pun mengingatnya. Ia memandang-Ku dan Aku pun memandangnya. Jika
engkau ikuti jalannya, Aku akan mencintamu. Dan jika engkau menyimpang dari bimbingannya, Aku akan menghukummu."
Orang itu bertanya, "Wahai Rabbku, apa tanda-tanda orang yang Engkau
sebutkan tadi?" Allah berkata, "Ia menjaga bayang-bayang pada siang hari,
seperti seorang penggembala yang dengan penuh kasih sayang menjaga kawanan dombanya. Ia rindu pada terbenamnya matahari, seperti burung-burung yang rindu pada sarangnya saat matahari terbenam. Ketika gelap malam telah menyelimutinya, tikar-tikar telah digelar, tempat-tempat tidur telah dipasang dan setiap kekasih sedang berduaan dengan kekasihnya, ia menegakkan kedua kakinya, menengadahkan wajahnya kepada-Ku, tekun mendengarkan firman-
Ku dan merasa senang atas segala karunia berupa nikmat-Ku, Dan di antara
hamba-Ku itu ada yang menjerit, ada yang menangis, ada yang mengadu, ada
yang mengeluh, ada yang berdiri, duduk, serta ada yang ruku' dan sujud. Di
depan mata-Ku ia tabah demi Aku dan di dekat telinga-Ku ia tidak mengeluh
karena mencintai-Ku. Pertama-tama yang Aku berikan kepadanya ada tiga.
Pertama, aku pasang cahaya-Ku di hatinya, lalu ia menceritakan tentang Aku
sebagaimana Aku pun menceritakan tentang kondisinya. Kedua, seandainya
langit dan bumi serta seluruh isinya dalam timbangannya, niscaya Aku meng-
anggapnya sedikit baginya. Ketiga, Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya.
Tahukah engkau, siapa hamba yang Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya,
niscaya apa pun yang ia minta pasti Aku berikan kepadanya."

ALLAH AL MUMIIT

Al-Mumiitu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengambil nyawa kembali kepada-Nya, Allah yang mematikan
siapapun yang dikehendaki-Nya, baik manusia, jin, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Hidup di dunia ini ada batasnya. Makanya ketika batas itu sudah diliwati, kita menyebutnya
yang bersangkutan telah meninggal (kan) dunia atau yang lazim disebut mati. Tapi mesti diingat, bahwa manusia mati untuk
hidup lagi di akhirat guna mempertangungjawabkan apapun yang telah diperbuat sebelumnya...

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Qs. al-Mu’minun: 80). Di tempat lain Allah
berfirman yang maknanya, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan (Qs. al-A’raf: 25).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...