ALLAH AL MU'IID

Bila al-Mubdi’ bermakna Allah maha memulai, maha mencipta, maka al-Mu’iid bermakna Allah maha mengembalikan. Allah berfirman yang maknanya Dan
Dialah yang (Mubdi`) menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)-nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs. al-Rûm: 27).

ALLAH AL MUBDI'

Al-Mubdi’ dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memulai, Allah maha kreatif, Allah maha menciptakan
segala hal yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam konteks al-Mubdi’, Allah berfirman yang artinya, Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai
penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (Qs. al-’Ankabut:19).

ALLAH AL MUHSHII

Al-Muhshii merupakan salah satu asmaul husna-Nya Allah yang maknanya sangat dekat dengan al-Hasiib, dimana secara
umum dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha menghitung dengan cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Supaya Dia mengetahui,bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu” (Qs. al-Jin: 28).

ALLAH AL HAMIID

Allah adalah zat yang maha terpuji, baik terpuji zatNya, terpuji sifat-Nya maupun terpuji perbuatan-Nya. Dalam serangkaian
asmaul husna, Allah yang maha terpuji disebut dengan asma-Nya al-Hamiid. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi
dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui (Qs. al-Saba: 1).

ALLAH AL WALIYY

Al-Waliy dipahami bahwa Allah
adalah zat yang maha dekat, sehingga karenanya kedekatan-Nya, maka Allah maha pelindung dan penolong bagi hamba-hambaNya yang beriman.

Allah berfirman yang artinya, Allah Pelindung orangorang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka
itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Qs. alBaqarah: 257).

ALLAH AL MATIIN

Para ulama menjelaskannya bahwa al-Qawiyyu lebih pada ketiadaan dari cacat, kekurangan dan kelemahan sedikitpun pada Allah, baik pada zat, sifat maupun perbuatan-Nya, dan al-Matiin untuk menjelaskan bahwa kekuatan Allah itu maha dahsyat dan sangat sempurna. Dengan demikian al-Qawiyyu dan al-Matiin bisa saling terjalin berkelindan satu sama lain, sebagaimana asmaul husna lainnya yang menunjukkan kesempurnaan Allah.
Kedahsyatan kekuatan Allah tidak ada yang bisa menolakNya, ketentuan-Nya mengikat, sesuatu yang pasti, dan tidak ada yang kuasa lari dari pada-Nya. Bila Allah menghendaki sesuatu terjadi pada makhluk-Nya, pasti menjadi kenyataan adanya. Bila Allah menurunkan rahmat-Nya, maka tidak ada yang kuasa
menghentikaan-Nya, dan ketika Allah menahannya maka tidak ada yang kuasa meraih-Nya. 

Allah berfirman yang artinya,
Sesungguhnya Allah Dialah maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh (Qs. Al-Dzariyat: 58)

ALLAH AL QAWIYYU

Al-Qawiyyu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuat nan perkasa, yang kekuatan-Nya tidak ada ada bandingan,
yang keperkasaan-Nya tidak ada saingannya. Dengan kekuatan-Nya, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan seluruh yang makhluk-Nya yang berjiwa; Allah menguasai segala yang ada, Allah melindungi hamba-hambaNya, Allah mencurahkan rezeki untuk semua makhlukNya, Allah mengijabah semua permohonan yang disampaikan kepada-Nya. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang maknanya Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki
kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Qs. al-Syu’ara: 19). Dan, Allah Maha lembut
terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa
(Qs. al-Syu’ara: 19).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...