Engkau Akan Dikumpulkan Bersama Orang Yang Kau Cintai


FB_IMG_15161725061154911Siapakah orang yang kita idolakan? artis? penyanyi? pemain bola? orang kafir? yang perlu diingat baik-baik adalah, mereka semua itu tidak kenal siapa kita! jika kenal saja tidak, maka apa yang bisa mereka lakukan untuk kita di akhirat nanti? padahal…Rasulullah berkata :

(أنت مع من احببت)
diakhirat engkau akan dikumpulkan bersama dengan orang yang engkau cintai/idolai.
Sedangkan rasulullah diakhir hayatnya berkata sambil menahan perihnya sakaratul maut : umatku…umatku…umatku, tanda begitu besar cintanya kepada umatnya, disaat seperti itu beliau tidak memikirkan kondisi dirinya sendiri tapi malah teringat kondisi umatnya, beliau itulah yang mengenal kita, tau siapa kita sebenarnya, sungguh amat rugi jika kita malah mengidolai selainnya, tidak mencintainya & tidak menempuh jalan hidup sesuai sunnahnya dan para pengikutnya yang setia.
Rasulullah berkata :
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?” beliau menjawab: “Siapa yang mentaatiku ia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku sugguh ia telah enggan masuk surga.” (H.R. Al-Bukhari)
 Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah. berkata :
“Orang yang tidak bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau tunduk kepada ajaran yang beliau bawa maka orang ini telah menolak masuk surga”
Wallahua’lam [elwafii]

Menyelami Samudera Cinta Yang Tak Bertepi Mendeteksi Kadar Cinta Kepada Allah

Cinta adalah kata yang tidak asing lagi bagi kita semua, khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi. Dalam masalah cinta ini terdapat banyak sekali definisi. Dalam bahasa arab cinta disebut dengan menggunakan dua huruf yaitu hubb, Ha dan Ba, Ha yang berarti adalah keluarnya jiwa dan mengarahkannya kepada sesuatu yang dicintai dan Ba yang berarti adalah keluarnya badan dan mengarahkannya untuk ketaatan kepada sesuatu yang dicintai.

Adapula yang mengatakan bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dicintainya, merasa ketentraman, ketenangan, hatinya pun terhubung dengan yang dicintainya. Masih banyak lagi definisi mengenai cinta. Masing-masing sulit untuk mendefinisikan cinta secara jelas dan mudah difahami, karena memang cinta tidak dapat terlihat hanya dari kata-kata yang keluar dari mulut saja, sesungguhnya cinta hanya

dapat tampak dari tabiat dan perilaku seorang pecinta. Banyak dari orang-orang yang mencintai hati mereka dipenuhi dengan cinta, yang jika ditanya mengenai definisnya, ketentuan dan hakikatnya dia tidak mampu mengungkapkan dan menjelaskannya. Kebanyakan ahli ilmu kalam didalam masalah cinta hanya berbicara mengenainya secara lisan ilmu dan bukan lisan kenyataan.

Abu Umar Az-Zujaji mengatakan, “Hakikat cinta adalah mencintai apa yang dicintai Allah dalam hamba-hamba-Nya dan membenci apa yang dibenci Allah dalam hamba-hamba-Nya”. Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Hakikat cinta adalah pengesaan terhadap Allah Dzat yang dicintai, dan tidak mempersekutukan-Nya, kalaupun mencintai selain-Nya maka hal itu didasari cinta karena-Nya dan merupakan sarana untuk menggapai cinta-Nya”.

Maka siapa saja yang tidak menjadikan Allah (ilah) sesembahan (rabb) sebagai penguasa dan pemelihara yang menjadi cinta terbesarnya niscaya hawa nafsulah yang akan menjadi ilah nya (sesembahannya). Allah berfirman dalam Q.S Al-Jatsiyah ayat 23 :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Dilain ayat Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”(Q.S. Al-Baqarah : 165).
Allah mengabarkan bahwa ada manusia yang membuat tandingan selain Allah, dan mereka mencintainya sebagiamana mereka mencintai Allah. Perlu diketahui bahwa jika mencintai sesuatu dan amat merendahkan diri kepadanya (menyamai bahkan melebihi Allah) itu bisa menjadi bentuk ibadah dengan hatinya. Karena ibadah merupakan tingkatan terakhir atau puncak dari cinta. Hal ini disebut dengan Tatayyum.

Tingkatan cinta yang pertama adalah ‘alaqah (hubungan). Dinamakan hubungan karena terdapat keterkaitan antara hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintai.

Tingkatan cinta berikutnya adalah shababah (kerinduan). Dinamakan kerinduan karena tertuangnya hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintainya.

Tingkatan cinta selanjutnya adalah gharam (cinta yang membara). Maksudnya adalah rasa cinta yang senantiasa menetap dan telah masuk ke hati yang paling dalam dan tidak terpisahkan darinya.

Tingkatan cinta berikutnya adalah ‘isyq (mabuk asmara), yaitu cinta yang berlebihan dan rasa amat ingin memiliki, serta senantiasa membayangkan sesuatu yang dicintainya. Ini bisa menjadi penyakit bagi hati jika tidak ditangani dengan serius.

Tingkatan cinta diatasnya adalah syauq (sangat rindu), yakni berkelananya hati menuju yang dicintainya, perasaan yang menggebu-gebu, membuat hati tidak karuan ingin bertemu dengan yang  dicintainya, dan tak akan pernah berhenti sampai dia berhasil mendapatkan tujuannya.

Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah tatayyum, yang dimaksud dengan tatayyum adalah penghambaan pecinta terhadap apa yang dicintainya. Jika telah sampai pada tingkatan ini maka akan menjadi ta’abud yang bermakna peribadahan, maksudnya dia akan menjadi hamba yang menyembah bagi sesuatu yang dicintainya.

Setiap manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam tingkat kecintaannya kepada sesuatu yang dicintainya, baik cintanya kepada hal duniawi ataupun cinta kepada hal ukhrowi. Akan tetapi sebagai hamba Allah maka wajib bagi kita untuk menempatkan cinta kita kepada Allah adalah yang pertama dan yang tertinggi dari sesuatu apapun, karena Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi dan tidak boleh dipersekutukan. Akan tetapi bagaimana caranya untuk mengetahui kadar (tingkat) cinta kita kepada Allah Ta’ala, maka yang pertama dapat dilihat dari kecintaan kita kepada Kalamullahu Ta’ala Al-Qur’an Al-Karim, perhatian kita dengan mendengar seruan firman-firman-Nya. Dikatakan oleh seorang penyair :

Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku , lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku

Tidaklah kau perhatikan apa yang ada didalamnya, yang merupakan kelezatan seruan-Ku.

Utsman bin Affan berkata : Sekiranya hati kita bersih, tentu ia tidak akan pernah merasa kenyang dengan firman Allah.

Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al Quran sebagai kumpulan surat cinta dari Rabb mereka”.

Para pecinta Al-Qur’an mampu merasakan kenikmatan dan ketentraman dari firman-firman Allah daripada mendengarkan nyanyian-nyanyian yang melalaikan mereka, karena mereka tau bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari sang Maha Penyayang, yang dengannya mereka dapat menggapai cintanya Allah Ta’ala. Seperti sebagiaman yang dikatakan dalam syair :

Dibacakan kepadamu Al-Qur’an, namaun hatimu keras seperti batu.

Tapi tatkala satu bait syair disenandungkan, engkau pun goyah seperti orang yang mabuk kepayang.

Yang kedua adalah mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“.(Q.S.Ali-Imron : 31).

Yang ketiga adalah beramal shalih, senantiasa mengerjakan ibadah yang fardhu dan sunnah disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (H.R.Bukhari)

Hadits ini menjelaskan, bahwa di antara sebab yang mendatangkan cinta dan kecintaan Allah adalah mengerjakan amalan wajib dan amalan sunnah sesudahnya secara istiqomah. Dan jika Allah sudah mencintai hamba, maka Allah akan memberi petunjuk pada anggota tubuhnya. Sehingga ia akan berkata dan berbuat sesuai keridhaan-Nya. Buah manis lain yang akan hamba tersebut dapatkan adalah doanya akan didengar dan dikabulkan. Ia berada pada perlindungan Allah Ta’ala  dari segala yang mengancam dirinya.

Dari pernyatan-pernyatan yang telah dijelaskan diatas kita mampu mengukur seberapa dalam dan besarkah kadar cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimanakah hubungan kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah kita menikmati bacaannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sudahkah kita hidup dengan mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam? Apakah kita telah melaksankan ibadah fardhu dengan baik dan menyempurnakannya dengan ibadah yang sunnah dengan istiqomah? Mari kita hisab terlebih dahulu diri kita sendiri didunia sebelum dihisab diakhirat kelak, agar kita bisa terus memperbaiki hubungan cinta kita dengan Allah Ta’ala dan tidak menyesal di hari akhir nanti.  Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, yaitu diatas jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah hingga kematian menjemput kita. aamiin

Wallahua’lam

Akhukum, Ibnu Setya

@ChannelEl-Wafii

SUMBER :

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2009. Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta : Pustaka Imam Syafi’i

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2015. Thariq Al-Hijrataini wa Bab As-Sa’adataini Jalan Orang Shalih Menuju Surga : Menuju Terminal Kebahagiaan Terakhir. Jakarta : Akbarmedia

JANGAN NYERAH

Ada hamba Allah yang diuji kekurangan harta, setiap hari dia memikirkan bagaimana caranya agar rasa laparnya dapat diatasi, belum lagi tidak punya tempat berteduh, dikala hujan tidak ada naungan tempatnya untuk berlindung....

Ada hamba Allah yang diuji dengan sakit menahun, kesakitan yang selama ini menyerangnya membuatnya sedih berkepanjangan....

Ada hamba Allah yang diuji kehilangan orang orang yang dicintainya.... Tidak ada tempat untuk bersandar dan tidak ada yang mengertinya ketika ia meluapkan keluh kesahnya.....

Ada hamba Allah yang diuji memiliki keterbatasan untuk menuntut ilmu, sehingga ia tidak mengetahui hukum hukum yang Allah perintahkan..

Ada hamba Allah yang diuji tentang rasa amannya, seperti saudara kita di Palestina.. mereka tidak bisa tenang dikala siang dan malam... Teror selalu menghantui mereka...anak anak sanak saudara kerabat orangtua mereka menjadi korban atas kejahatan zionis...

Ada hamba Allah yang diuji kehilangan anggota tubuhnya dan mendapatinya tidak lengkap... Sehingga ia memiliki kesusahan dalam beraktivitas layaknya manusia normal...

Ada hamba Allah yang terlilit hutang, dimana dia senantiasa memikirkan bagaimana caranya untuk melunasinya... 

Ada hamba Allah yang sudah memasuki usia senja, sedangkan ajalnya sudah didepan matanya, ia tidak mempunyai kesempatan untuk beramal Soleh dan bertaubat kepada Allah....

Semua hamba Allah memiliki ujiannya masing masing

Sungguh manusia itu senantiasa dalam keadaan susah payah... Hanya di Surga lah ketenangan itu dapat melingkupi...

Detik demi detik, kita berjuang untuk menaati perintah Allah...walaupun berat... Walaupun sudah payah....

Apa mau jika kita kembali kepada Allah kelak dalam keadaan merugi, menjadi penghuni neraka yang siksaannya sungguh dahsyat...

Masa iya kita sudah susah di dunia, dan kemudian kita juga susah diakhirat kelak??... Oleh karena itu Jadikan surga sebagai garis akhir dari semua perjuangan kita...

Allahu yahdii....

ALLAH AL HASIIB


Al-Hasiib secara umum 
dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat yang mengawasi dengan 
cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.
Allah berfirman yang maknanya, Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut 
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), 
maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah 
kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan 
(janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum 
mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, 
maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim 
itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta 
itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan 
harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-
 saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah 
sebagai Pengawas (atas persaksian itu) (Qs. an-Nisa’: 6).
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu 
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang 
lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan 
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala 
sesuatu (Qs. an-Nisa’: 86) (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan 
risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada 
merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan (QS. Al ahzab 39)

ALLAH AL MUQIIT


Para ulama menyebutkan beberapa makna al-Muqiit.
 Pertama al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha mampu, yang memiliki kudrah, sebagai al-Muqtadir. Allah 
mampu menciptakan, melindungi, memelihara, dan memenuhi 
kebutuhan semua makhluk-Nya.
Kedua al-Muqiit dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha 
menjaga dan memelihara, yakni yang memberikan penjagaan 
terhadap segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Dan hal 
ini Allah sebagai al-Hafizh.
 Ketiga, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang maha menyaksikan, sebagai As-Syahiid. Allah 
juga melihat apapun yang ada pada makhluk-Nya.
Kempat al-Muqiit diartikan bahwa Allah adalah zat Yang 
Maha Mencukupi. Allahlah yang menyediakan segala kebutuhan 
makhluk-makhluk-Nya. 
Kelima, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang Maha Mengawasi. Allah senantiasa menyaksikan apapun yang terjadi dan dilakukan oleh makhluk-Nya. 
Keenam, 
al-Muqit dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kekal. Allah 
adalah zat yang kekal abadi, tidak berawal dan mengenal kata 
akhir.
Ketujuh, al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha memberi makanan pokok. Allah menyediakan fasilitas dan 
kemampuan bagi manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan 
hidupnya. Allah berfirman yang maknanya Dan tiadalah 
sesuatupun daripada makhluk-makhluk yang melata (bergerak) 
di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya 
dan mengetahui tempat kediamannya dan tempat dia disimpan. 
Semuanya itu tersurat di dalam Kitab (Lauhul Mahfuz) yang nyata 
(kepada malaikat-malaikat yang berkenaan)” (Qs. Hûd: 6)

ALLAH AL HAFIZH


Al-Hafizh secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memelihara dengan pemeliharaan 
yang sempurna. Kesempurnaan pemeliharaan Allah meliputi atas 
seluruh makhluk-Nya, hukum-hukum kausalitasnya, keberadaan dan kepentingan hamba-hamba-Nya.
Allah lah yang memelihara alam semesta ini dan segala yang ada dalam pengertian menjaga dan merawat dengan sebaik-baik, sehingga terjadilah keseimbangan, ketertiban dan keserasian padanya. Allah juga zat maha memelihara makhluk-Nya dengan 
menyelamatkan, melindungi; melepaskan dari bahaya dan sebagainya, sehingga semua berjalan sesuai ketentuan-Nya.

Al-Hafizh disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an dalam konteks yang berbeda-beda. Di antaranya Allah berfirman yang artinya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk 
menyampaikan)-nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak  dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya 
Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu (Qs. Hûd: 57).

Dan tidaklah ada kekuasaan iblis terhadap mereka, 
melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang 
beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang raguragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu 
(Qs. Saba: 21).

ALLAH AL KABIIR

Al-Kabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha besar. Kebesaran Allah di antaranya keberadaan-Nya ada dengan sendiriNya, tak bermula dan tak akan pernah berakhir. Segala yang ada ini adalah makhluk yang diciptakan-Nya, sehingga sejatinya hanya Allah lah yang maha memiliki. Oleh karenanya Allah juga yang maha mengatur segalanya; Allah yang menghidupkan dan mematikan, serta Allah yang memberi rezeki.

Allah berfirman yang artinya, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati,
benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Hajj: 58-62).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...