ALLAH AL HASIIB


Al-Hasiib secara umum 
dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat yang mengawasi dengan 
cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.
Allah berfirman yang maknanya, Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut 
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), 
maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah 
kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan 
(janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum 
mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, 
maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim 
itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta 
itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan 
harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-
 saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah 
sebagai Pengawas (atas persaksian itu) (Qs. an-Nisa’: 6).
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu 
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang 
lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan 
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala 
sesuatu (Qs. an-Nisa’: 86) (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan 
risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada 
merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan (QS. Al ahzab 39)

ALLAH AL MUQIIT


Para ulama menyebutkan beberapa makna al-Muqiit.
 Pertama al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha mampu, yang memiliki kudrah, sebagai al-Muqtadir. Allah 
mampu menciptakan, melindungi, memelihara, dan memenuhi 
kebutuhan semua makhluk-Nya.
Kedua al-Muqiit dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha 
menjaga dan memelihara, yakni yang memberikan penjagaan 
terhadap segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Dan hal 
ini Allah sebagai al-Hafizh.
 Ketiga, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang maha menyaksikan, sebagai As-Syahiid. Allah 
juga melihat apapun yang ada pada makhluk-Nya.
Kempat al-Muqiit diartikan bahwa Allah adalah zat Yang 
Maha Mencukupi. Allahlah yang menyediakan segala kebutuhan 
makhluk-makhluk-Nya. 
Kelima, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang Maha Mengawasi. Allah senantiasa menyaksikan apapun yang terjadi dan dilakukan oleh makhluk-Nya. 
Keenam, 
al-Muqit dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kekal. Allah 
adalah zat yang kekal abadi, tidak berawal dan mengenal kata 
akhir.
Ketujuh, al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha memberi makanan pokok. Allah menyediakan fasilitas dan 
kemampuan bagi manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan 
hidupnya. Allah berfirman yang maknanya Dan tiadalah 
sesuatupun daripada makhluk-makhluk yang melata (bergerak) 
di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya 
dan mengetahui tempat kediamannya dan tempat dia disimpan. 
Semuanya itu tersurat di dalam Kitab (Lauhul Mahfuz) yang nyata 
(kepada malaikat-malaikat yang berkenaan)” (Qs. Hûd: 6)

ALLAH AL HAFIZH


Al-Hafizh secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memelihara dengan pemeliharaan 
yang sempurna. Kesempurnaan pemeliharaan Allah meliputi atas 
seluruh makhluk-Nya, hukum-hukum kausalitasnya, keberadaan dan kepentingan hamba-hamba-Nya.
Allah lah yang memelihara alam semesta ini dan segala yang ada dalam pengertian menjaga dan merawat dengan sebaik-baik, sehingga terjadilah keseimbangan, ketertiban dan keserasian padanya. Allah juga zat maha memelihara makhluk-Nya dengan 
menyelamatkan, melindungi; melepaskan dari bahaya dan sebagainya, sehingga semua berjalan sesuai ketentuan-Nya.

Al-Hafizh disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an dalam konteks yang berbeda-beda. Di antaranya Allah berfirman yang artinya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk 
menyampaikan)-nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak  dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya 
Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu (Qs. Hûd: 57).

Dan tidaklah ada kekuasaan iblis terhadap mereka, 
melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang 
beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang raguragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu 
(Qs. Saba: 21).

ALLAH AL KABIIR

Al-Kabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha besar. Kebesaran Allah di antaranya keberadaan-Nya ada dengan sendiriNya, tak bermula dan tak akan pernah berakhir. Segala yang ada ini adalah makhluk yang diciptakan-Nya, sehingga sejatinya hanya Allah lah yang maha memiliki. Oleh karenanya Allah juga yang maha mengatur segalanya; Allah yang menghidupkan dan mematikan, serta Allah yang memberi rezeki.

Allah berfirman yang artinya, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati,
benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Hajj: 58-62).

ALLAH AL 'ALIY

Al-’Aliy secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha tinggi yang tak tertandingi akan eksistensi-Nya, kedudukanNya, kemuliaan-Nya, kekuasan-Nya, dan segala kesempurnanNya lainnya. Misalnya terkait dengan kepemilikan-Nya, Allah  berfirman yang maknanya, Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di 
langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Syura: 4).

Ketika bertitah, Allah berfirman yang maknanya, Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkatakata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) 
lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (Qs. al-Syura: 51).

Oleh karena itu, untuk merengkuh kemuliaan, kita dituntun untuk mematuhi-Nya. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (Qs. al-A’la: 1). 

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah,
Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang bathil; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. Luqman: 30).

PAHALA SHOLAT



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالْعَبْدُ وَإِنْ أَقَامَ صُورَةَ الصَّلَاةِ الظَّاهِرَةَ فَلَا ثَوَابَ إلَّا عَلَى قَدْرِ مَا حَضَرَ قَلْبُهُ فِيهِ مِنْهَا، كَمَا جَاءَ فِي السُّنَنِ لِأَبِي دَاوُد، وَغَيْرِهِ: عَنْ {النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ مِنْهَا إلَّا نِصْفُهَا، إلَّا ثُلُثُهَا، إلَّا رُبْعُهَا، إلَّا خُمُسُهَا، إلَّا سُدُسُهَا، إلَّا سُبُعُهَا، إلَّا ثُمُنُهَا، إلَّا تُسْعُهَا، إلَّا عُشْرُهَا}. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَيْسَ لَك مِنْ صَلَاتِك إلَّا مَا عَقَلْتَ مِنْهَا

“Seorang hamba, meskipun dia telah melakukan bentuk sholat secara lahiriah, namun dia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai kadar kehadiran kalbunya saat sholat..

Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan selainnya, dari Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Seorang hamba, dia selesai dari sholatnya, padahal tidak dituliskan pahala baginya kecuali :
– setengahnya,
– sepertiganya,
– seperempatnya,
– seperlimanya,
– seperenamnya,
– sepertujuhnya,
– seperdelapannya,
– sepersembilannya, atau
– sepersepuluhnya..”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa juga mengatakan, “Engkau tidak mendapatkan pahala dari sholatmu kecuali apa yang engkau pahami..”

Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam 32 – 217

BERLOMBA



Al Hafidz Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

‎فمن عجـز عن مـسابقة المـحبين
‎‏فـي مضـمارهم ؛
‎‏فلا يعجز عن مسـابقة
‎‏المذنبيــن في اسـتغفارهــم

“Siapa yang merasa lemah untuk berlomba dengan para pecinta akherat dalam amal sholeh, maka janganlah ia lemah untuk berlomba dengan para pendosa dalam memohon ampunan..”

Lathoiful Ma’arif hal. 45

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...