ALLAH AL QAHHAAR

Allah al-Qahhaar secara populis dipahami bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Perkasa Menundukkan, Maha Mengalahkan. Seluruh
makhluk ciptaan-Nya tunduk pada sunatullah-Nya. Allah mencipta dan menundukkan siang dan malam, matahari, bulan dan bintang dan seluruh planet tata surya melalui sunatullahNya yang rapi. Semua planet tata surya beredar menurut garis edarnya. Tidak ada satupun yang menyalahi dan keluar dari ketentuan-Nya. Tetapi justru di sinilah, lahirnya keseimbangan dan tetap berlangsung keharmonisan...

Dalam Surat Ar-Ra`d: 16, Allah berfirman yang artinya Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak
menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang;  apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan
itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa”.

Allah juga menundukkan manusia dan makhluk hidup lainnya melalui sunatullah-Nya dan menunjukkan keesaan-Nya
agar manusia menggunakan akal budinya untuk berpikir. Tidak satupun yang dapat menolak rencana dan ketentuan-Nya. Allah
yang menimpakan kehinaan karena ulah tangannya sendiri dan Allah pula yang memberi kekuasaan kepada yang dikehendakiNya. Allah menggenggam semua makhluk-Nya. Namun ketika
manusia pongah terhadap kebenaran, maka pastilah mengalami kerugian....

ALLAH AL GHAFFAR

Asma Allah yang akan mengingatkan akan dosa dan kesalahan kita serta pengharapan ampunan-Nya adalah al-Ghaffaar....

Kita meyakini sepenuh hati bahwa semua nama Allah adalah
sangat baik dan mulia. Al-Ghaffaar, al-Ghafuur, dan al-’Afuwwu dapat dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pengampun Mengampuni, Maha Pemaaf-Memaafkan. Namun para ulama memberi penjelasan brilian sehingga satu sama lainnya bersinergi menunjukkan kemahapengampunan-Nya yang sempurna....

Asma al-Ghaffaar, dan al-Ghafuur, serta istilah maghfirah untuk menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya
ditutupi oleh Allah di dunia dan di akhirat nanti juga ditutupi sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga tidak ada dosa lagi diperuntukkan bagi Allah al-‘Afuww....

Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah melakukan kesalahan...
Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dengan demikian pemberian maaf
dengan melebur dosanya lebih istimewa ketimbang mengampuni dengan sekedar menutupi dosa dalam kesalahannya saja. 

Dalam konteks Allah al-Ghaffaar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, sedangkan
al-Ghafuur adalah mengampuni dosa dari segi kualitasnya...

ada juga ulama yang berpendapat bahwa
al-Ghaffaar berorientasi preventif pada kepengampunan dosa masa kini dan datang. Adapun al-Ghafuur lebih lengkap yaitu Allah mengampuni dosa dari masa lalu, kini hingga masa mendatang.
Allah berfirman, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. Shad :66).

ALLAH AL MUSHAWWIR

Saudaraku, pernahkah terpikir oleh kita tentang keindahan akan keragaman bentuk dan rupa-rupa serta keserasiannya
terhadap makhluk ciptaan Allah yang ada di sekitar kita...

Allah al-Mushawwir secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendesain secara sempurna akan segala makhluk-Nya. Allah telah menggambar, menjadikan, dan mendesain seluruh makhluk-Nya dengan bentuk, rupa bahkan sifat yang melekat pada kediriannya masing-masing..

Diri kita manusia, misalnya, telah didesain dengan sangat menawan oleh Allah swt, malah sudah sejak di rahim orangtua
kita dan disempurnakan-Nya akan kecantikan atau ketampanan saat kita hidup di dunia ini. Allah berfirman. Dialah yang membentukmu dalam rahim ibu sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs. Ali Imran: 6).

Kita memiliki dua mata menghadap ke depan, dua lobang hidung menghadap ke bawah, satu mulut pas di bagian depan
wajah kita, dua telinga di samping kiri dan kanan di kepala kita. Kedua tangan di sebelah kiri dan kanan dari badan kita. Dua kaki yang sangat kokoh menyangga tubuh kita...

saat kita perhatikan pada makhluk lainnya,
maka sungguh hanya decak kagum seraya spontan melafalkan subhanallah, maha suci Allah yang mendesain ini semua dengan serasi dan menawan. Burung diciptakan dengan indah dan bebeda-beda, baik bentuk, rupa, warna, bulu maupun suara kicauannya. Demikian juga ikan-ikan di lautan, aneka binatang buas di hutan, hewan piaraan di kandang-kandang, aneka
rerumputan, bunga, pepohononan, batu, gunung atau lainnya....

Ya Allah tidaklah engkau menjadikan semua ini sia sia, Maha Suci Engkau,maka jauhkanlah kami dari adzab neraka... Rabbana maa khalaqta haadza bathilaa, subhaanak faqina 'adzabannar

ALLAH AL BAARI'

Allah al-Baari’ dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengadakan dan membentuk segalanya dari tiada. Allah menjadikan segalanya dengan perencanaan yang sempurna, terutama terkait dengan makhluk hidupnya. 

Oleh karenanya al-Baari’ juga dapat dipahami bahwa Allah sebaga pemenage, perencana, penata yang sempurna ketelitian dan keserasian-Nya.

Dengan Al-Baari` Allah Yang Maha Mengadakan semua makhluk-Nya sesuai dengan rencana-Nya, sesuai dengan
kegunaan dan tujuannya masing-masing. Dia-lah yang menciptakan semua makhluk-Nya dan segala kejadian di seluruh
alam semesta ini, sehingga selaras dalam keserasian yang sempurna, sesuai rencana yang diinginkan-Nya dan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Berbeda dengan al-Khaliq yang cenderung bersifat general untuk makna menciptakan, maka al-Baari’ lebih cenderung bersifat spesifik, terencana dan jelas untuk makna menjadikan atau mengadakan. Sehingga ada ulama yang berpendapat bahwa al-Khaliq itu digunakan untuk menunjuk penciptaan Allah semuanya, tetapi al-Baari’ lebih diistimewakan pada penciptaan
atau menjadikan makhuk hidup dan tidak termasuk benda-benda mati yang sudah terelaborasi pada al-Khaliq....

ALLAH AL KHALIQ

Allah al-Khaliq secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pencipta, zat yang menciptakan segala yang ada dan yang mungkin ada dan semuanya. Mengapa Allah disebut Yang Maha Pencipta? Karena di antaranya, Allah mencipta semua yang ada dan mungkin
ada di seluruh alam dan semesta. 

Allah menciptakan makhluk hidup juga benda-benda mati. Allah menciptakan langit, bumi, pergantian siang dan malam, angin, air dunia, akhirat, surga, neraka, malaikat, setan, panas, dingin, dan seterusnya.

Aneka ragam makhluk hidup ciptaan Allah kemudian menghiasi isi alam semesta dari yang sangat kecil seperti serangga sampai yang besar seperti gajah, dari yang tampak seperti manusia sampai yang ghaib seperti malaikat. Allah juga
mencipta dan menumbuhkan aneka tetumbuhan, biji-bijian, buah-buahan dan seterusnya. Demikian juga benda-benda mati.

Di samping itu kemahaciptaan Allah juga tanpa preseden atau tidak ada contoh sebelumnya. Allah benar-benar maha pencipta kebaruan. Semua ciptaan-Nya tidak ada contoh sebelumnya yang dapat ditiru....

Semua ciptaan Allah, tidaklah dibuat dalam keadaan sia sia.... Semuanya terkandung hikmah di dalamnya... Kita sebagai makhluk perlu menafakkuri ciptaan Allah... Dan kita juga harus memperhatikan diri sendiri sebagai ciptaan Allah Sang Khaliq...

ALLAH AL MUTAKABBIR

Al-Mutakabbir dapat dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha besar yang kebesaran-Nya sempurna tak tertandingi oleh selain-Nya. Allah adalah zat yang
maha agung yang keagungan-Nya sempurna, Allah adalah maha megah yang kemegahan-Nya tak terbantahkan dan Allah maha tinggi yang ketinggian-Nya mengatasi apapun juga.

Oleh karenanya hanya Allah sajalah zat yang berhak menyandang selendang kesombongan dan mahkota kebesaranNya. Karena selain-Nya adalah makhluk yang hanya melekat sebagian kecil sifat dari kesempurnaan-Nya, sehingga makhluk tidak pantas memeluk kesombongan....

ALLAH AL JABBAR

alJabbar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha tinggi, agung, berkuasa mutlak sehingga mau tidak mau, sadar atau tidak
“memaksa” makhluk-Nya untuk tunduk terhadap sunnatullahNya. Tidak ada sama sekali di antara makhluk-Nya yang
menyalahi ketentuan-Nya.. Oleh karena itu secara bahasa al-Jabbar dimaknai sebagai
ketinggian, keagungan, keistiqamahan, kekuatan yang memaksa.

Ketinggian dan keagungan Allah tidak dapat dijangkau oleh makhluk atau manusia siapapun ia. Karena kemahatinggian dan kemahaagungan-Nya, maka semua makhluk ciptan-Nya yang
notabene rendah bila dibandingkan dengan-Nya untuk tunduk patuh kepada-Nya. Dari sini kemudian al-Jabbar dimaknai bahwa Allah sebagai zat Yang Maha Pemaksa, zat yang kehendak-Nya
tidak bisa diingkari.

Allah menciptakan langit, bumi dan semua seisinya serta memerintahkannya berjalan mengikuti sunnah-Nya atau ketentuan atasnya. Tidak ada satupun yang menyimpang atau menyalahi sunatullah-Nya. Semua berjalan seperti adanya;
seperti matahari terbit dari timur kecuali suatu saat nanti ketika kiamat, angin berhembus sebagai ungkapan tasbih pada
Rabbnya, air mendinginsejukkan, api menghangatkan atau bahkan membakar, malaikat senantiasa menyampaikan ilham
kebaikan kepada hamba-Nya, setan mengilhamkan kejahatan untuk menguji manusia dan seterusnya.

Di samping itu dengan al-Jabbar, Allah juga diyakini sebagai zat yang berkuasa mengatur segala hal ikhwal makhluk-Nya. Diantaranya Allah berkuasa mengaruniai kekuatan kepada hambahamba-Nya. Allah berfirman, Allah, Dialah yang menciptakan
kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Qs. al-Rûm: 54).

Allah juga berkuasa menganugerahi kekuasaan atau mencabutnya dari hamba-Nya. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Ali Imran: 26).
Allah juga kuasa mengatur siang dan malam, menghidupkan dan mematikan serta memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan
siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan
tidak terkira (Qs. Ali Imran: 27).

Semua makhluk Allah tidak terlepas dari sunnatullah ketentuanNya... Semuanya tunduk kepada Allah baik secara sukarela ataupun terpaksa....

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...