RIYA



Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke 20, Riya’

Ayyuhal Ikhwah adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allâh ﷻ akan tetapi ingin di lihat manusia dan di puji. Riya’ hukumnya haram dan dia termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari islam.

Riya’ adalah diantara sebab tidak di terimanya amal ibadah seseorang bgaimanapun besar amalan tersebut. Rasulullâh ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى يْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah berfirman: “Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik, barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan, dia menyekutukan Aku bersama yang lain didalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyrikannya” (HR Muslim No 2985)

Sebagian Ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk di ampuni oleh Allâh ﷻ. Artinya dia harus di adzab supaya bersih dari dosa riya’ tersebut. Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allâh ﷻ yang kalau Allâh ﷻ menghendaki maka akan di ampuni langsung dan kalau Allâh ﷻ menghendaki maka mereka akan di adzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki” (An-Nisa :48)

Tahukah kita, siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?, mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam, tapi mereka justru adalah orang orang yang beramal sholeh.

Mereka adalah orang yang mengajarkan al-Qur’an supaya dikatakan sebagai seorang qari’,seorang yang suka membaca,seorang yang mahir membaca, dan juga orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan, dan berjihad supaya dikatakan sebagai pemberani beramal bukan karena Allâh ﷻ, sebagaimana hal ini telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Oleh karena itu saudara sekalian..

Ikhlaslah di dalam beramal dan ikhlas adalah barang yang sangat berharga, para salaf kita merekapun merasa atau merasakan beratnya memperbaiki hati mereka. Dan hanya kepada Allâh ﷻ kita meminta keikhlasan di dalam beramal. Menjauhkan kita dari riya’, sum’ah, ujub dan berbagai penyakit hati. Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada maslahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke 20 ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

Wabillâhi taufiq wal hidayah

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

SIHIR




Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Ayyuhal Ikhwah.. Sihir bermacam-macam jenisnya dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syetan, dan syetan tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yg dia ridhoi yaitu:

-Kufur kepada Allâh ﷻ,
-Kafir kepada Allâh ﷻ

Dengan cara menyerahkan sebagaian ibadah kepada syetan tersebut atau dengan menghina Al-Qur’an atau dengan mencela agama dan lain-lain. Allâh ﷻ berfirman :

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Dan bukanlah sulaiman yang kafir akan tetapi syetan-syetanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (QS. Al-Baqarah :102)

Rasulullâh ﷺ bersabda yang artinya:

“Jauhilah 7 perkara yang membinasakan, para sahabat bertanya “Ya Rasulullâh apa 7 perkara tersebut? Maka beliau Shalallâhu ‘alaihi Wasallam mengatakan : “Syirik kepada Allâh,Sihir,dan seterusnya”.(Muttafaqun Alaih)

Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati, bila dia tidak bertobat sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi ﷺ dan yang berhak melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari islam. Demikian pula, meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram. Karena Rasulullâh ﷺ mengabarkan bukan termasuk pengikut beliau orang yang menyihir dan orang minta disihirkan. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya dan dishohihkan oleh syeikh Albani rahimahullâh.

Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir, diantaranya adalah dengan menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti :

-Dzikir pagi dan petang
-Dzikir setelah sholat 5 waktu
-Dzikir akan tidur
-Dzikir mau makan
-Dzikir masuk rumah dan keluar rumah
-Dzikir masuk kamar kecil dan keluar kamar kecil dan lain-lain.

Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridho syetan, seperti :

-Jimat- jimat,
-Musik – musik,
-Gambar-gambar makhluk bernyawa dan lain-lain.

Dan apabila qadarullâh terkena sihir maka hendaknya dia bersabar, merendahkan diri kepada Allâh ﷻ memohon dari-Nya kesembuhan, dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Dan jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin, baik secara langsung, maupun lewat dukun, paranormal dan semisal mereka.

Semoga Allâh ﷻ melindungi kita dan keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di akhirat. Aamiin..

Itulah halaqah yang ke 15 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)

 


Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)”

Ar-Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh. Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikannya. Diriwayatkan dari ‘Auf bin Mālik raḍiyallāhu ʿanhu, beliau berkata

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺮْﻗِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ

Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh ﷺ, “Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?” Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan”. (HR. Muslim).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan adalah seperti ruqyah dari:

Ayat-ayat Al-Qur’an.
Do’a-do’a yang diajarkan Nabi ﷺ dan ini lebih utama.
Do’a-do’a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya, baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.
Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah sebab semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya, dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh ﷻ. Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh ﷻ, baik kepada jin, wali atau selainnya, biasanya disebutkan di situ nama-nama mereka.

Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qur’ān atau dengan nama-nama Allāh ﷻ atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu. Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh ﷺ di dalam sabda Beliau:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan pelet adalah syirik.” (HR. Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albānī raḥimahullāhu taʿālā).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Berdo’a Kepada selain Allāh ﷻ adalah Syirik Besar



Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang “Berdo’a Kepada Selain Allāh ﷻ Adalah Syirik Besar”.

Berdo’a kepada Allāh ﷻ adalah seseorang menghadap Allāh ﷻ dengan maksud supaya Allāh ﷻ mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap, dan takut kepada Allāh ﷻ. Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.

Berkata An-Nu’mān Ibnu Basyīrin raḍiyallāhu ʿanhu, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

الدعاء هو العبادة

“Do’a adalah ibadah”

Kemudian Beliau ﷺ membaca ayat:

وَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Dan Rabb kalian telah berkata, ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina’.” (Surah Ghāfir: 60)

(HR. Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani raḥimahullāh).

Dan makna “beribadah kepada-Ku” pada ayat ini adalah “berdo’a kepada-Ku.”

Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh ﷻ semata, maka berdo’a kepada selain Allāh ﷻ dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap, dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh ﷻ, adalah termasuk syirik besar.

Dan termasuk jenis do’a adalah:

Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)
Isti’ādzah (meminta perlindungan)
Isti’ānah (meminta pertolongan)
Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan, dan takut, maka ini adalah ibadah yang hanya boleh diserahkan kepada Allāh ﷻ semata. Namun perlu kita ketahui bahwasanya boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, atau beristi’ānah kepada makhluk dengan 4 syarat berikut:

Makhluk tersebut masih hidup.
Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.
Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.
Makhluk tersebut diyakini hanya sebagai sebab sehingga tidak boleh bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakkal kepada Allāh ﷻ yang menciptakan sebab tersebut.
Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah, atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup akan tetapi tidak berada di depan kita, atau tidak mendengar ucapan kita, atau meminta kepada makhluk perkara yang tidak mungkin bisa melakukannya kecuali oleh Allāh ﷻ, maka ini termasuk syirik besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


BERLEBIHAN KEPADA ORANG SHALIH

Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Orang yang sholih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allâh ﷻ baik dalam hal Aqidah, Ibadah maupun Muamalah. Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allâh ﷻ. Kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk mencintai mereka, kita juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dalam kebaikan.

Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan, membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati kita, Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan agama.

Namun, berlebih-lebihan terhadap orang yang sholih seperti mendudukan mereka diatas kedudukannya sebagai manusia, atau menyifati mereka dengan sifat-sifat yg tidak pantas kecuali untuk Allâh ﷻ, maka ini hukumnya haram, tidak diperbolehkan menurut agama.

Karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allâh ﷻ. Mencintai Rasulullâh ﷺ melebihi cinta kita kepada orang tua, anak dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama.

Sebagaimana dalam hadits. Namun beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau dengan mendudukkan beliau diatas kedudukan beliau sebenarnya yaitu sebagai seorang Hamba Allâh ﷻ dan Rasul. Beliau ﷺ bersabda:

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى ابن مريم فإنما انا عبده فقولوا عبد لله ورسوله
Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku, sebagaimana orang-orang nasrani berlebih-lebihan terhadap ‘Isa ibnu Maryam. Sesungguhnya aku adalah hambaNya, maka katakanlah hamba Allâh dan RasulNya (HR. Al-Bukhori)

Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah dan Beliau adalah seorang Rasul maka tidak boleh dicela dan diselisihi, Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia yaitu Rasulullâh ﷺ tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain?

Dan diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang orang sholih adalah meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu ghoib, atau membangun di atas kuburan mereka, atau beribadah kepada Allâh ﷻ disamping kuburan mereka dan lain-lain.

Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka. Semoga Allâh ﷻ melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

Itulah halaqah yang ke 14 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allâh ﷻ



Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh ﷻ.

Bernadzar untuk Allāh ﷻ adalah seseorang mengatakan, wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allāh ﷻ, atau dengan mengatakan misalnya saya bernadzar untuk Allāh ﷻ bila terlaksana hajat saya.

Bernadzar adalah ibadah dan sebuah bentuk pengagungan, karenanya bernadzar tidak diperkenankan kecuali untuk Allāh ﷻ semata, seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa satu hari jika lulus ujian, atau bernadzar untuk Allāh ﷻ akan mengadakan umrah jika sembuh dari penyakitnya dan lain-lain. Allāh ﷻ berfirman:

ُوَمَآأَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allāh ﷻ mengetahuinya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dzhalim” (Surah Al-Baqarah: 270).

Di dalam ayat ini Allāh ﷻ mengabarkan bahwa Allāh ﷻ mengetahui nadzar para hamba-Nya dan akan membalas dengan balasan yang baik. Ini menunjukkan bahwasanya nadzar adalah ibadah yang seorang Muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut. Menunaikan nadzar apabila dalam ketaatan hukumnya adalah wajib. Berdasarkan firman Allāh ﷻ:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُم

“Dan supaya mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka”. (Surah Al-Ḥajj: 29)

Dan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ

“Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allāh maka hendaknya menaatinya, dan barang siapa yang bernadzar untuk memaksiati Allāh maka janganlah dia memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari).

Bernadzar untuk selain Allāh ﷻ termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan, atau berpuasa untuk syeikh fulan dan lain-lain. Semoga Allāh ﷻ melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Termasuk Syirik Besar Menyembelih Untuk Selain Allâh ﷻ



Silsilah: Belajar Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Belajar Tauhid adalah tentang Menyembelih Untuk Selain Allāh ﷻ Termasuk Syirik Besar.

Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam, di dalamnya ada pengagungan terhadap Allāh ﷻ Rabb semesta alam. Diantara wujud cinta kepada Allāh ﷻ adalah dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk-Nya, seperti ibadah qurban di hari raya Idul Adha, aqiqah, dan hadyu bagi sebagian jama’ah haji.

Allāh ﷻ telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang mulia ini hanya untuk-Nya semata, sebagaimana Firman Allāh ﷻ:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah dan menyembelihlah untuk Tuhanmu” (Surah Al-Kautsar: 2).

Barang siapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain Allāh ﷻ dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allāh ﷻ baik kepada Nabi, wali, jin atau selainnya maka dia telah terjatuh di dalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, membatalkan amalannya, dan terkena ancaman laknat dari Allāh ﷻ, sebagaimana sabda Nabi ﷺ

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allāh melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allāh” (HR. Muslim).

Makna laknat adalah dijauhkan dari Rahmat Allāh ﷻ. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang Muslim berkorban dan menyembelih untuk selain Allāh ﷻ sedikitpun, meskipun dengan seekor lalat, dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudharat. Kita harus yakin sebagai seorang Muslim bahwa manfaat dan juga mudharat di tangan Allāh ﷻ semata. Dan hanya kepada-Nya lah seorang Muslim bertawakkal.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh ﷻ

Silsilah: Belajar Tauhid Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Transkrip: ilmiyyah.com السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لل...