SAHABAT SEJATI YANG SESUNGGUHNYA


Ketahuilah bahwa ‘sahabatmu’ yang tak pernah ber­pisah denganmu entah dalam keadaan diam, bepergian, tidur, diam, bahkan dalam hidup dan matimu adalah Tuhan Penciptamu. Selama engkau mengingatNya, niscaya Dia menjadi ‘Teman dudukmu’. Sebab, Allah Swt. berkata, “Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir pada-Ku.” Selama hatimu sedih karena tak mampu menunaikan kewajiban agamamu, maka Dia se­nantiasa menyertaimu. Sebab Allah Swt. berkata, “Aku berada bersama mereka yang hatinya sedih karena-Ku.” Apabila engkau betul-betul mengenali-Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya sebagai ‘sahabat’ dan niscaya engkau akan meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tak mampu melaksanakan hal itu setiap waktu, maka eng­kau harus menyediakan waktu di malam dan di siang hari untuk kau pergunakan berkhalwat bersama Tuhan dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya. Ber­kenaan dengan hal itu, engkau harus mengetahui adab­-adab menjalin hubungan dengan Tuhan. Yaitu, menun­dukkan kepala, menjaga pandangan mata, mengkonsen­trasikan pikiran, senantiasa diam, menenangkan anggota badan, segera mengerjakan perintah, meninggalkan la­rangan, tidak menolak takdir, senantiasa berzikir dan berpikir, mengutamakan yang hak atas yang batil, putus asa dari makhluk, tunduk dengan perasaan hormat, ri­sau diliputi oleh rasa malu, tenang dalam berusaha ka­rena yakin atas jaminan-Nya, bertawakal kepada karunia Allah Swt. Semua ini harus menjadi karaktermu sepan­jang siang dan malam. Itulah adab menjalin hubungan dengan ‘Teman yang tak pernah berpisah denganmu.’ Adapun semua makhluk, dalam waktu tertentu akan berpisah denganmu.

Adab Sholat


Apabila engkau telah selesai membersihkan kotoran dan najis yang terdapat di badan, pakaian, dan tempat salat, juga engkau telah menutup aurat dari pusar sam­pai dengkul, maka berdirilah menghadap ke arah kiblat dengan kaki yang lurus tapi tidak dirapatkan sedang­kan engkau berada dalam posisi tegak. Lalu bacalah surat an-Naas guna berlindung dari setan yang terku­tuk. Hadirkan hatimu ketika itu. Buanglah segala bisik­an dan rasa was-was. Perhatikan kepada siapa engkau sedang menghadap dan bermunajat sekarang. Hendak­nya engkau malu untuk bermunajat kepada Tuhan de­ngan hati yang lalai dan dada yang penuh dengan bi­sikan dunia beserta kebejatan syahwat. Sadarlah bahwa Allah Swt. mengetahui semua yang tersembunyi di da­lam dirimu dan melihat hatimu. Allah hanya menerima salatmu sesuai dengan kadar kekhusyukan, ketundukan, dan ketawaduanmu.

Sembahlah Allah dalam salatmu seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tak melihat-Nya, sesung­guhnya Dia melihatmu. Jika hatimu tidak hadir dan ang­gota badanmu tidak bisa tenang maka hal itu disebab­kan engkau tidak betul-betul mengenal keagungan-Nya. Bayangkan jika ada seorang saleh di antara keluargamu yang melihatmu ketika engkau salat. Pada saat itu, pasti hatimu akan khusyuk dan anggota badanmu akan te­nang. Lalu, tanyakan pada dirimu, “Wahai jiwa yang buruk, tidakkah engkau malu kepada Pencipta dan Tu­anmu?” Apabila engkau mampu salat secara khusyuk dan tenang karena dilihat seorang hamba yang hina, yang tak bisa memberikan manfaat atau bahaya pada­mu, sedang engkau mengetahui bahwa Dia melihatmu tapi engkau tak takut pada keagungan-Nya, apakah Allah SWT. lebih rendah dibandingkan hamba-Nya itu? Betapa durhaka dan bodohnya engkau! Betapa engkau memusuhi dirimu itu!
Obatilah hatimu dengan cara itu, barangkali ia akan menjadi hadir dalam salatmu. Salatmu hanyalah saat engkau sadar kepadanya. Adapun salat yang engkau kerjakan dengan hati yang lalai dan lupa, maka ia butuh pada istigfar dan perenungan.

Manakala hatimu sudah hadir, jangan lupa meng­ucapkan ikamah kalau engkau salat sendirian. Tapi, jika engkau menunggu datangnya jamaah yang lain hendak­nya engkau melakukan azan lalu ikamah. Apabila eng­kau sudah mengucapkan ikamah, berniatlah dan bacalah dalam hatimu, “Aku laksanakan salat lohor karena Allah Swt.” Usahakan niat tersebut hadir dalam hatimu ketika engkau bertakbir. Jangan sampai niatmu tak kau sadari sebelum takbir selesai. Angkatlah tanganmu saat bertakbir ke arah pipi dan pundakmu dengan jari-jari yang tidak dihimpitkan. Jangan terlalu menempel atau­pun menjauh. Yang penting ibu jarimu berada di hadapan kedua cuping telingamu, ujung-ujung jarimu berada di atas kuping, serta telapak tangan di atas pundak. Jika kedua telapak tanganmu sudah berada pada posisi ter­wbut bertakbirlah lalu turunkan kembali dengan perla­han. Saat diangkat atau diturunkan, jangan kau hentak­kan tanganmu ke depart secara keras dan jangan pula diangkat sampai ke belakang. Selain itu, jangan kau gerakkan ia ke kanan atau ke kiri. Ketika diturunkan, mulailah engkau meletakkan tanganmu di atas dada. Iangan kanan berada di atas yang kiri. Renggangkan lari-jari kananmu di lengan tangan yang kiri. Genggam di atas siku. Setelah bertakbir bacalah:
Allahu akbar kabiiran walhamduilllah katsiiran wa subhanalla bukrattan wa ashiilla, inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samawati wal ardha haniifan musliman wa ma ana minal musyrikin. Inni shalatii wa nusukii wa mahyaya wamamatii lillahi rabbil ‘alamiin laa syarikallahuwa bi dzalika umirtu wa ana minal muslimiin.

“Allah Mahabesar dengan segala sifat kebesaran-Nya. Pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya dan Mahasuci Allah pada tiap pagi dan sore. Aku hadapkan wajahku pada Tuhan yang mencipta langit dan bumi dengan lu­rus dan aku bukan dari golongan yang musyrik. Se­sungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata karena Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintah dan aku ter­masuk dari golongan Islam (menyerah dan patuh).”
Setelah itu, bacalah al-Fatihah dengan tekanan yang kuat. Usahakan untuk membedakan antara huruf dhad dan zha’ dalam bacaan salatmu. Lalu ucapkan amin se­cara terpisah dengan kata wala ad-dhaliin.

Nyaringkan bacaanmu pada salat subuh, magrib, dan isya. Maksudnya, pada dua rakaat yang pertama, ke­cuali jika engkau menjadi makmum. Jika menjadi mak­mum, nyaringkan bacaan amin. Lantas, dalam salat subuh, bacalah salah satu surat yang panjang setelah bacaan surat al-Fatihah. Sementara pada waktu magrib, cukup surat yang pendek. Adapun pada salat lohor, asar, dan isya, bacalah surat yang pertengahan. Misalnya su­rat al-Buruj dan yang semisalnya. Ketika salat subuh yang dilaksanakan dalam perjalanan, bacalah surat al­-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Jangan engkau sambungkan akhir bacaan surat dengan takbir untuk rukuk, tapi pi­sahkan antara keduanya dengan seukuran bacaan subhanallah.

Ketika berdiri, usahakan untuk senantiasa menunduk dengan hanya memandang tempat salatmu. Hal itu, akan membuatmu lebih berkonsentrasi dan membuat hatimu lebih khusyuk. Jangan engkau menoleh ke kiri atau ke kanan pada saat sedang salat.

Lalu bertakbirlah untuk rukuk. Angkat tanganmu dengan cara yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pan­jangkan bacaan takbir sampai engkau berada pada po­sisi rukuk. Lalu, letakkan telapak tanganmu di atas lu­tut sementara jari-jemarimu berada pada posisi yang renggang. Tegakkan lututmu serta bentangkan pung­gung, leher, dan kepalamu secara lurus. Lantas, jauhkan sikumu dari pinggang. Sementara untuk wanita tidak demikian karena mereka hendaknya menempelkan yang satu dengan yang lain. Lalu ucapkan:

Subhana rabbiyal ‘azhiim
“Maha suci Tuhanku Yang Mahaagung.”
Bacaan tersebut diucapkan sebanyak tiga kali. Jika engkau salat sendirian, bagus pula kalau ditambah sam­pai menjadi tujuh atau sepuluh kali. Kemudian angkat kepalamu sampai berdiri tegak seraya mengangkat ta­ngan dan membaca:

Sami ‘allahu liman hamidah
“Allah mendengar siapa yang memuji-Nya.”
Apabila engkau telah berdiri tegak lurus, ucapkan:

 Rabbana lakal hamdu mil’as samawati wa mil ardhi wa mil ama syi’ta min syai’in ba’du
“Wahai Tuhan kami, segala puji bagi-Mu sepenul langit dan bumi dan sepenuh apa yang Kau kehendak sesudah itu.”
Apabila engkau sedang dalam melakukan salat subuh, bacalah doa qunut pada rakaat kedua ketika dalan posisi iktidal. Lalu, sujudlah dengan bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Pertama-tama, letakkanlal kedua lututmu diikuti kemudian oleh kedua tanganmi lalu dahimu yang berada dalam keadaan terbuka. Letakkan hidung beserta dahimu. jauhkan sikumu dari pinggang dan angkat perutmu dari paha (Hal ini tidak berlaku bagi wanita). Letakkan kedua tanganmu di atas tanah sejajar dengan pundakmu. Jangan kau bentangkan lenganmu di atas tanah. Dan ucapkan:

Subhana rabbiyal ‘alaa
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”

Doa di atas dibaca sebanyak tiga kali, tujuh kali, atau sepuluh kali jika engkau salat sendirian.
Lalu, angkat kepalamu dari sujud seraya bertakbir sampai engkau duduk dengan tegak. Duduklah di atas kaki kiri. Tegakkan kaki kananmu. Letakkan kedua ta­nganmu di atas paha dengan jari-jemari yang renggang. Lantas ucapkan (minimal):

‘rabbighfirlii warhamnii warzuqni wajburnii wa ‘afinii wa ‘afuanii
“Ya Tuhan, ampunilah aku, sayangilah aku, berikar rezeki padaku, pimpinlah aku, tambahkan kekurang­anku, dan maafkanlah daku.”
Kemudian lakukan sujud yang kedua sama seperti sebelumnya. Lalu duduk tegak sebentar untuk istirahat pada setiap rakaat yang tak disertai tasyahud.
Setelah itu, engkau berdiri dan meletakkan kedua tangan di atas tanah. Jangan engkau mendahulukan sa­lah satu kakimu ketika berdiri. Mulailah dengan takbir untuk berdiri saat hampir selesai dari duduk istirahat. Panjangkan bacaan takbir tersebut sampai pada posisi setengah berdiri. Usahakan agar duduk istirahat tersebut berlangsung sebentar. Lalu, laksanakan rakaat ke­dua seperti rakaat pertama. Ulangi membaca taawud ketika memulai. Lalu duduklah pada rakaat kedua un­tuk membaca tasyahud pertama. Saat duduk tasyahud, letakkan tangan kananmu di atas paha kanan dengan jari yang tergenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari. Berilah isyarat dengan jari telunjukmu yang kanan saat membaca illallah (kecuali Allah), bukan pada kata-kata Iaa ilaha (tiada Tuhan). Sementara itu, engkau letakkan tangan kirimu dengan jari jari terbuka di atas paha kiri. Duduklah di atas kaki kiri dalam tasyahud pertama ini seperti ketika

duduk antara dua sujud. Adapun pada tasyahud akhir, duduklah secara tawaruk (di atas pang­kal paha). Setelah mengucapkan salawat atas Nabi Saw., bacalah doa yang sudah dikenal. Duduklah di atas pang­kal paha yang kiri sementara kaki kirimu keluar dari sisi bawah. Tegakkan posisi kaki kananmu lalu ucapkan salam dua kali dari ke kanan dan kiri. Menolehlah hing­ga tampak putihnya kedua pipimu dari kedua sisi. Ber­niatlah untuk menyudahi salat dan arahkan salammu pada para malaikat dan kaum muslim yang berada di sampingmu. Begitulah gerakan salat sendirian.


Tiang penopang salat adalah kekhusyukan dan ke­hadiran hati disertai bacaan, dan pemahaman. Ha­san al-Basri rahimahullah berkata, “Setiap salat yang tidak disertai oleh kehadiran hati akan cepat terkena hukum­an.” Rasul Saw. bersabda, “Seorang hamba adakalanya melakukan salat tapi ia tidak mendapat seperenam atau sepersepuluh dari salatnya. Karena, ganjaran salat bagi seorang hamba sesuai dengan kadar kekhusyu’kannya.”

Misteri Kedasyatan Doa Dan Dzikir


Dahsyatnya Pengaruh Dzikir

Ibadah ini termasuk ibadah yang paling mudah. Tidak memerlukan banyak waktu, dapat dilakukan kapan dan di mana saja, dengan atau tanpa wudhu, bahkan oleh wanita yang datang bulan sekalipun. Ya, tanpa halangan.

Tetapi ibadah ini menuntut frekuensi yang tinggi, dilakukan sesering mungkin, dan bukan ketika sempat saja. Mengapa demikian? Anda mesti tahu makna zikir terlebih dahulu. Zikir pada dasarnya adalah "tidak lupa", alias "ingat" yang lawannya adalah lupa. Mungkinkah Anda mengingat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala barang sebentar, kemudian Anda bilang, "Beginilah cara berzikir yang benar?" Tentu saja tidak demikian, akan tetapi sekali lagi, dia terkait dengan pengertian "banyak" dan "sering".

Cermatilah firman-firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berbicara tentang zikir dan kaitannya dengan frekuensi pelaksanaannya.Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya."
(QS. Al Ahzâb: 41).

Demikian pula firman-Nya:

"Dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
(QS. Al Ahzâb: 35).

Demikian pula:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
(QS. Al Anfâl: 45).

Juga firman-Nya:

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring."
(QS. Âli ‘Imrân: 191).

Dalam ayat yang lain:

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bangga-kan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu."
(QS. Al Baqarah: 200).

Di dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tidak pernah menyebutkan suatu ibadah yang secara khusus diperintahkan untuk diperbanyak selain zikir. Maka, marilah perbanyak zikir sejak sekarang, sebab jika tidak, Anda harus berhati-hati terhadap peringatan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam ayat berikut ini.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.
" (QS. An-Nisâ’: 142).

Sudahkah Anda membaca ayat di atas dengan hati terbuka? Sedikit mengingat Allah adalah sifat orang-orang munafik. Maka segeralah, jangan lewatkan waktu-waktu Anda tanpa mengingat Allah. Berangkat ke sekolah, ke kampus, tempat kerja, olahraga, bahkan ketika hendak masuk ke kamar kecil sekalipun, kita diperintahkan untuk berzikirdengan membaca doa sebelum masuk WC. Tidak ada yang sulit, Anda tidak perlu melakukan apa-apa selain "memulai".


Keutamaan Berzikir

Allah Taala berfirman:

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…
(Al-Baqarah, 2:152).

Menakjubkan! Hanya dengan banyak mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita. Adakah kebahagiaan dan keberuntungan yang lebih besar daripada ketika seorang hamba yang lemah dan fakir diingat oleh Sang Pencipta Alam Semesta?

Perhatikan pula sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

"Allah Taala berfirman:

‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia mengingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka….
(HR. Bukhârî dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah keluar menemui para sahabat. Beliau ternyata sedang mendapatkan mereka sedang duduk-duduk. Lantas beliau bertanya, "Apa yang membuat kalian duduk (di sini)?" Para sahabat menjawab, "Kami duduk untuk berzikir kepada Allah, Wahai Rasulullah." Rasulullah pun kembali bertanya, "Demi Allah, kalian tidak duduk selain karena itu?" Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak duduk selain karena itu." Rasulullah  pun bersabda, "Aku tidaklah menanyakannya (dengan meminta sumpah) kepada kalian karena curiga, namun karena aku mendapat kabar bahwa Allah sedang membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya."
(HR. Muslim).

Bayangkan, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala bersama Anda, Allah bahkan membanggakan Anda di hadapan para malaikat-Nya! Jika Anda mengingat-Nya. Masih kaitannya dengan zikir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati."
(HR. Bukhârî).

Camkan hadits ini dan renungkanlah baik-baik, apabila Anda tidak berzikir dan mengingat Allah, maka Anda adalah orang mati. Sebab zikir adalah nyawanya hati, sehingga orang yang tidak berzikir hatinya akan mati.

Sekarang, tanyakanlah pada diri Anda, ‘Di manakah diri Anda dari dua perumpamaan itu? Masih hidupkah Anda ataukah sebenarnya Anda hanyalah mayat berjalan?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

"Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu? Para sahabat yang hadir berkata, Mau (wahai Rasulullah)! Beliau bersabda, Zikir kepada Allah Yang Mahatinggi."
(HR. At-Tirmidzî, Ibnu Mâjah. Lihat pula Shahih Tirmidzî 3/139 dan Shahih Ibnu Mâjah 2/316).


Jika Anda Enggan Berzikir

Anda telah mengetahui betapa banyak dan luar biasanya keutamaan zikir ini. Sungguh sangat mengherankan, dan sepantasnya Anda menangis sejadi-jadinya jika sampai saat ini hati Anda belum juga tersentuh untuk segera berzikir menyebut nama Allah. Semoga hati Anda tidak sampai demikian. Sebab jika tidak, tidak ada yang bisa kami sampaikan lagi kepada Anda kecuali firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." Berkatalah ia, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"


Allah berfirman:

"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakan-nya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamu pun dilupakan."
(QS. Thâha: 124-126).

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Mahapemurah (Al Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
(QS. Az-Zukhruf: 36).

Dan firman-Nya yang lain:

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi."
(QS. Al Munâfiqûn: 9).

Setelah membaca ketiga ayat di atas, menurut Anda, apa yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau berzikir? Kehidupan yang sempit, dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta, temannya adalah setan, dan menjadi orang yang rugi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berzikir kepada Allah di dalamnya, niscaya akan menjadi penyesalan baginya (di hari Kiamat) dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi penyesalan baginya (di hari Kiamat) "
(HR. Abû Dâwûd Shahihul Jaami 5/342).

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau sebutkan dalam ayat ini:

"Dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah."
(QS. Al Ahzâb: 35).


Manfaat Dzikir

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari masalah. Entah itu masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, masalah keuangan, dan lain sebagainya. Begitu satu masalah selesai, masalah yang lain menghampiri, seolah-olah hidup hanya untuk menanggung masalah.

Banyak orang yang bisa mengatasi semua masalahnya dengan baik, tapi tak sedikit pula yang mengeluh karena masalahnya tak kunjung usai. Apakah anda juga sedang mengalaminya? Bagaimana caranya keluar dari masalah-masalah tersebut? Barangkali kita lupa akan kekuatan dzikir.

Kata dzikir berasal dari bahasa Arab, adz-dzikir yang berarti mengingat, mengucap dan berbuat baik. Pengertian dzikir sendiri adalah mengingat dan menyebut asma Allah SWT, seperti dengan membaca tasbih, tahlil, istighfar maupun shalawat.

Dengan berdzikir, manusia akan menyadari bahwa ada kekuasaan dari segala yang ada di dunia ini, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, dalam mewujudkan segala yang diinginkan dan diharapkan, manusia membutuhkan pertolongan-Nya.

Dzikir dapat pula berarti berbuat baik atau beramal saleh guna mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasullullah saw, misalnya dengan berbakti kepada orang tua, berlaku jujur, melakukan kebaikan dan menghindari kemungkaran.

Kekuatan dzikir sangat dahsyat bagi kehidupan. Dzikir merupakan salah satu bentuk komitmen keberagamaan seseorang. Dzikir juga merupakan kunci ketenangan jiwa, karena menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah.

Manfaat dzikir sudah dibuktikan oleh banyak ilmuwan di berbagai belahan dunia. Berikut ini manfaat dan kekuatan dzikir dalam kehidupan kita:

1) Mencegah dan mengobati penyakit. Berdasarkan penelitian dari Dr. Francis Keefe, seorang peneliti dari Duke University Medical School, Amerika Serikat, efek dzikir dapat mengatasi nyeri artritis rematik.

Penelitian yang dilakukan pada 35 orang yang mengalami arthritis rematik membuktikan bahwa pasien yang dekat dengan Tuhan lebih mampu mengatasi rasa nyerinya. Dalam Journal of Chronic Diseases, 1972, yang diungkapkan oleh Comstock, membuktikan bahwa orang yang melakukan dzikir secara teratur dapat menurunkan resiko kematian akibat jantung koroner hingga 50%. Selain itu, kekuatan dzikir juga dapat memperpanjang usia penderita HIV/AIDS.

2) Kunci ketenangan jiwa. Dengan berdzikir dapat menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana dan mendatangkan ketenangan, ketentraman serta kebahagiaan hati.

3) Mendatangkan rizki.

4) Mendatangkan ridha Allah.

5) Semakin dekat dengan Allah.

6) Melindungi dari marabahaya.

7) Dzikir akan mengusir setan dan mengekangnya.

8) Dzikir dapat menghapus dosa dan menyelamatkan manusia dari azab Allah.

9) Menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.

10) Dzikir dapat menghindarkan dari sifat munafik dan sifat buruk lainnya.

Selain yang disebutkan diatas, masih banyak lagi manfaat dari kekuatan dzikir dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat nanti. Dzikir bisa menjadi cahaya ketika manusia telah berada di alam kubur.

Dzikir adalah ibadah yang paling ringan dan sangat mulia. Ibarat sebuah bangunan, dzikir adalah pondasinya. Bisa dibayangkan apabila sebuah bangunan tanpa pondasi tentunya akan hancur. Seperti itulah kekuatan dzikir. Begitu pentingnya dzikir, sehingga, tidak ada alasan apapun bagi seorang muslim untuk meninggalkan dzikir.

Sebenarnya tak ada waktu khusus yang perlu dipersiapkan untuk berdzikir. Kita bisa berdzikir dimana saja dan kapan saja, entah itu seusai shalat, saat menjelang tidur, dan sebagainya. Yakinlah, sebanyak atau seberat apapun masalah yang kita hadapi, dengan berdzikir Allah akan menunjukkan jalan keluarnya. Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.


Amalan-Amalan Ketaatan


Ketahuilah bahwa perintah Allah ada yang wajib dan ada yang sunah. Yang wajib merupakan harta po­kok. Dia adalah modal perdagangan yang dengannya na bisa selamat. Sementara yang sunah merupakan laba yang dengannya kita bisa meraih derajat mulia.

Nabi saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Tidaklah orang­-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah se­orang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal­-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku su­dah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang ber­bicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan.”

Engkau tidak akan dapat menegakkan perintah Allah, kecuali dengan senantiasa mengawasi hati dan anggota badanmu pada setiap waktu dan pada setiap tarikan nafasmu, dari pagi hingga sore. Ketahuilah bahwa Allah Swt. menangkap isi hatimu, mengawasi lahir dan batin­mu, mengetahui semua lintasan pikiranmu, langkah-lang­kahmu, serta diam dan gerakmu. Saat bergaul dan me­nyendiri, engkau sedang berada di hadapan-Nya. Tidak ada yang diam, dan tak ada yang bergerak, melainkan semuanya diketahui oleh Penguasa langit, Allah Swt.

 “Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyi­kan hati” (Q.S. Ghafir: 19),
 “Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi” (Q.S. Thaha: 7).

Oleh karena itu, hendaklah engkau beradab di hadapan Allah Swt. de­ngan adab seorang hamba yang hina dan berdosa di hadapan-Nya. Berusahalah agar Allah tidak melihatmu sedang melakukan sesuatu yang dilarang dan tidak me­laksanakan apa-apa yang diperintah. Hal itu hanya bisa terwujud jika engkau bisa membagi waktu dan meng­atur wirid-wiridmu dari pagi hingga petang. Jagalah perintah Allah Swt. yang diwajibkan kepadamu, sejak dari bangun tidur hingga engkau kembali ke pemba­ringan.

Menghindari Kesedihan yang Berlebihan

Sedih itu, sedih ini.

Sedih dengan berbagai perkara.

Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Mungkin kita pernah membaca ayat ini:

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(At-Taubah:40)


Ok, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih?

Ini ertinya ada sesuatu yang salah didalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita.

Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis.

Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah, supaya kita bebas dari api neraka. Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan menunjukan kelemahan diri.



Bersedih Itu Adalah Fitrah Manusia


Para Nabi bersedih.

Bahkan Rasulullah saw pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang dicintai dan dicintai beliau.

Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam bersedih.

Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan kesedihan. Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.

Seakan Allah tidak wujud dalam kehidupan kita.



Bersedih Yang Tidak Diajarkan Dalam Islam


Bersedih (selain takut kerana Allah) tidak diajarkan dalam agama.

Bahkan kita banyak menemui ayat mahupun hadis yang melarang kita untuk bersedih.

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS.At-Taubah:40)


"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS.Ali ‘Imran:139)


Rasulullah saw pun berdoa untuk agar terhindar dari kesedihan

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.”
(HR. Abu Dawud)



Bagaimana Caranya Supaya Kita Tidak Bersedih Lagi?


Jika kita melihat ayat dan hadis yang disebutkan diatas, setidaknya kita sudah memiliki dua kekuatan agar kita tidak terus berada dalam kesedihan.

Pertama:

Dari ayat diatas (At Taubah:40) bahawa cara menghilangkan kesedihan ialah dengan menyedari, mengetahui, dan mengingati bahawa Allah bersama kita.

Jika kita sedar bahawa Allah bersama kita, oleh itu apa yang perlu kita takutkan?

Apa yang membuat kita sedih. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Saat kesedihan terus menimpa kita, mungkin kita lupa atau hilang kesedaran, bahawa Allah bersama kita. Untuk itulah kita diperintahkan untuk terus mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar Ra’d: 28)


Dari ayat ini, kita sudah mengetahui cara menghilangkan kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yaitu bi zikrillah, dengan berzikir memuji Allah.

Saat saya mengalami kesedihan, ketakutan, atau kecemasan, ada tiga kalimat yang sering saya gunakan untuk berzikir.


1. Istighfar, memohon ampun kepada Allah.

2. La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

3. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung)


Alhamdulillah, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan menjadi reda setelah berzikir dengan kalimat-kalimat diatas. Harus diingat, zikir bukan sahaja di mulut tetapi harus sampai masuk ke hati.


Kedua:

Cara menghilangkan kesedihan ialah dengan berdoa seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Nabi pun meminta pertolongan Allah, apa lagi kita, jauh lebih memerlukan pertolongan Allah.

Maka berdoalah.

"Ya Allah, aku memohon perlindungan denganMu daripada keluh kesah dan kesedihan, rasa lemah dan kemalasan, Aku memohon perlindungan denganMu daripada sifat penakut dan kebakhilan, dan aku mohon perlindungan denganMu dari bebanan hutang dan dikuasai seseorang.
(Hadith riwayat Abu Daud)

Doa ini adalah diajarkan Rasulullah kepada Abu Umamah ra sewaktu Baginda mendapati beliau sedang bersedihan didalam masjid.



Kesedihan Adalah Keperluan. Tetapi Tidak Boleh Berlebihan


Sedih memang baik.

Sekali sekala ia melembutkan hati.

Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.

Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.

Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?

Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah. Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.

Jika masalah itu bukan datang dengan penyesalan, sebagai contoh: Kematian rakan karib, guru tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.

Kerana dia ada Allah di sisinya.

Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya

Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah

(لا مَحْبُوْبَ إلا الله)
Orang yang meyakini akan merasakan manisnya iman
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain,tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)

Hati Yang Sejuk

**

Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...