Menghindari Kesedihan yang Berlebihan

Sedih itu, sedih ini.

Sedih dengan berbagai perkara.

Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Mungkin kita pernah membaca ayat ini:

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(At-Taubah:40)


Ok, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih?

Ini ertinya ada sesuatu yang salah didalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita.

Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis.

Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah, supaya kita bebas dari api neraka. Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan menunjukan kelemahan diri.



Bersedih Itu Adalah Fitrah Manusia


Para Nabi bersedih.

Bahkan Rasulullah saw pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang dicintai dan dicintai beliau.

Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam bersedih.

Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan kesedihan. Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.

Seakan Allah tidak wujud dalam kehidupan kita.



Bersedih Yang Tidak Diajarkan Dalam Islam


Bersedih (selain takut kerana Allah) tidak diajarkan dalam agama.

Bahkan kita banyak menemui ayat mahupun hadis yang melarang kita untuk bersedih.

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS.At-Taubah:40)


"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS.Ali ‘Imran:139)


Rasulullah saw pun berdoa untuk agar terhindar dari kesedihan

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.”
(HR. Abu Dawud)



Bagaimana Caranya Supaya Kita Tidak Bersedih Lagi?


Jika kita melihat ayat dan hadis yang disebutkan diatas, setidaknya kita sudah memiliki dua kekuatan agar kita tidak terus berada dalam kesedihan.

Pertama:

Dari ayat diatas (At Taubah:40) bahawa cara menghilangkan kesedihan ialah dengan menyedari, mengetahui, dan mengingati bahawa Allah bersama kita.

Jika kita sedar bahawa Allah bersama kita, oleh itu apa yang perlu kita takutkan?

Apa yang membuat kita sedih. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Saat kesedihan terus menimpa kita, mungkin kita lupa atau hilang kesedaran, bahawa Allah bersama kita. Untuk itulah kita diperintahkan untuk terus mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar Ra’d: 28)


Dari ayat ini, kita sudah mengetahui cara menghilangkan kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yaitu bi zikrillah, dengan berzikir memuji Allah.

Saat saya mengalami kesedihan, ketakutan, atau kecemasan, ada tiga kalimat yang sering saya gunakan untuk berzikir.


1. Istighfar, memohon ampun kepada Allah.

2. La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

3. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung)


Alhamdulillah, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan menjadi reda setelah berzikir dengan kalimat-kalimat diatas. Harus diingat, zikir bukan sahaja di mulut tetapi harus sampai masuk ke hati.


Kedua:

Cara menghilangkan kesedihan ialah dengan berdoa seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Nabi pun meminta pertolongan Allah, apa lagi kita, jauh lebih memerlukan pertolongan Allah.

Maka berdoalah.

"Ya Allah, aku memohon perlindungan denganMu daripada keluh kesah dan kesedihan, rasa lemah dan kemalasan, Aku memohon perlindungan denganMu daripada sifat penakut dan kebakhilan, dan aku mohon perlindungan denganMu dari bebanan hutang dan dikuasai seseorang.
(Hadith riwayat Abu Daud)

Doa ini adalah diajarkan Rasulullah kepada Abu Umamah ra sewaktu Baginda mendapati beliau sedang bersedihan didalam masjid.



Kesedihan Adalah Keperluan. Tetapi Tidak Boleh Berlebihan


Sedih memang baik.

Sekali sekala ia melembutkan hati.

Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.

Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.

Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?

Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah. Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.

Jika masalah itu bukan datang dengan penyesalan, sebagai contoh: Kematian rakan karib, guru tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.

Kerana dia ada Allah di sisinya.

Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya

Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah

(لا مَحْبُوْبَ إلا الله)
Orang yang meyakini akan merasakan manisnya iman
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain,tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)

Hati Yang Sejuk

**

Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

Celaan Hawa Nafsu


Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan:
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:
“Hawa nafsu dinamakan al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya (ke dalam Neraka-pent)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Orang yang memperturutkan hawa nafsu, hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan nafsu sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang akibatnya, walaupun harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

Apakah Hawa Nafsu Tercela?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitab tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.

Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.



Namun Mengapa Banyak Disebutkan Celaan Terhadap Hawa Nafsu?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Ketika sikap yang sering terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarah tidak bisa berhenti sampai pada batas mengambil manfaat saja (darinya), karena itulah (banyak) disebutkan nafsu, syahwat dan amarah dalam konteks yang tercela. Karena dominannya bahaya yang ditimbulkannya (dan) jarang orang yang mampu bersikap tengah-tengah dalam hal itu (mengatur nafsu, syahwat, dan amarahnya)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:



وربما استعمل بمعنى محبة الحق خاصة والانقياد إليه
“Bisa pula digunakan secara khusus untuk makna kecintaan terhadap kebenaran dan tunduk (kepada Allah) dengan mengamalkannya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Beliau juga berkata:
و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondonggan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).

Maksud Ucapan Kedua Ulama Tersebut

Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan adil, tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarahnya. Karena itulah hawa nafsu sering disebutkan dalam konteks yang tercela.



Kesimpulan Tentang Status Hawa Nafsu

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela.

Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.

Jadi, Ia lawan atau kawan?
Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.



Celaan Terhadap Mengikuti Hawa Nafsu dalam Kitabullah

Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, diantaranya adalah
firman-Nya:



أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”
(Al-Furqaan: 43).

Allah Ta’ala berfirman:


أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”
(Al-Jaatsiyah: 23).

Allah Ta’ala berfirman:


فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(Al-Qashash:50).


Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat

Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.

Ulama merinci sebagai berikut:

1. Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.

2. Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Seluruh maksiat tumbuh dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”,


Beliau juga berkata:
“Dan demikian pula bid’ah, sesungguhnya bid’ah hanyalah muncul dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas syari’at, oleh karena itu mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan, sesungguhnya maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang Dia cintai”.
(Jami’ul Uluum wal Hikam: 2/397-398).


Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama (syubhat) Lebih Parah dibandingkan Dalam Urusan Syahwat:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:



واتباع الأهواء في الديانات أعظم من اتباع الأهواء في الشهوات
“Mengikuti hawa nafsu dalam beragama (syubhat) lebih parah dibandingkan Mengikuti hawa nafsu dalam urusan syahwat”
(Al-Istiqomah, Ibnu Taimiyyah)

Tidaklah Allah Subhanahu wa Tala’ala menyebutkan kata “Nafsu” di dalam Kitab-Nya, melainkan dalam bentuk celaan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan yang ada di dalam diri manusia sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya.

Kendati mustahil untuk menghilangkan nafsu itu sama sekali, akan tetapi pertempuran yang senantiasa terjadi di dalam diri manusia antara nafsu dan akalnya, menjadikannya sebagai suatu topik yang selalu menarik untuk dibicarakan dan dikaji.


Berikut ini beberapa kiat untuk mengendalikan nafsu, yang telah kami ringkas dan sadur secara bebas dari kitab “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”, Al-Imam, Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:

1. Harus mempunyai hasrat, sehingga ada rasa cemburu terhadap diri sendiri dan nafsunya.

2. Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan pada saat itu.

3. Memiliki kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk meminum seteguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat.

4. Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari.

5. Mempertimbangkan penderitaan yang akan semakin menjadi-jadi, sebagai akibat dari memperturutkan kenikmatan hawa nafsu.

6. Lebih mementingkan kedudukannya disisi Allah dan di hati para hambanya yang beriman daripada menurutkan keinginan hawa nafsunya.

7. Lebih mementingkan kehormatan diri dan kelezatannya daripada kenikmatan sesaat.

8. Memikirkan kebanggaan yang akan diperoleh bila berhasil menaklukkan musuhnya.
Allah suka dan membanggakan hamba-Nya, serta melimpahkan rezeki kepada mereka jika berani menghadapi musuhnya, Sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Dan mereka tidak menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.”
(At-Taubah; 120)

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(An-Nisa’; 100)

Karena diantara tanda cinta yang tulus dari seorang hamba terhadap Kekasihnya adalah, melibas musuh kekasih-Nya dan mengalahkannya.

9. Harus menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk mementingkan nafsunya, tetapi untuk suatu urusan yang besar dan mulia, yang tak akan bisa dicapai kecuali dengan menentang hawa nafsunya.

10. Manusia diberikan akal sebagai alat yang dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang akan membahayakan dirinya. Sangat berbeda dengan hewan yang tidak diberikan perangkat alat tersebut dalam menikmati makan, minum dan hubungan seksual sehingga mereka tidak mengetahui akibat kesudahannya (hanya sekedar mengikuti naluri dan tabiatnya).

11. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu dapat melalaikan keta’atan dan berapa banyak kehinaan yang akan didatangkannya. Betapa sering syahwat yang sedikit menghancurkan kehormatan seseorang, menundukkan kepala, serta mengabadikan kenangan yang buruk.

12. Orang yang berakal harus mampu menggambarkan tujuan mewujudkan nafsu itu, dan menggambarkan keadaan dirinya setelah memenuhi tuntutan tersebut dan apa yang hilang / “tercabut” dari dirinya.

13. Harus mampu mengambil pelajaran dari orang lain yang pernah melakukan perbuatan yang sama.

14. Harus memikirkan apa yang dituntut jiwanya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan memberitahukan bahwa, apa yang dituntut itu sebenarnya tidak mempunyai arti apa-apa.

Abdullah bin Mas’ad Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
“Jika salah seorang diantara kalian tertarik kepada seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat-ingat kebusukannya.”

15. Tidaklah seseorang memperturutkan hawa nafsunya, melainkan pasti akan mendapatkan kehinaan pada dirinya. Jangan tertipu dengan kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari sisi bathinnya mereka adalah orang-orang yang paling hina-dina.

16. Pertimbangkanlah keselamatan Agama, kehormatan, harta dan kedudukan dengan kenikmatan yang didapatkan. Antara keduanya tidak ada perimbangan sama sekali.

17. Menggambarkan kehinaan dirinya andaikata dia berada dibawah kekuasaan musuhnya. Jika dia memiliki kekuatan, semangat dan kemuliaan jiwa, maka syaithan tidak akan tertarik kepadanya dan tidak akan mampu mengganggunya kecuali dengan cara mencuri-curi.

18. Harus mengetahui, bahwa tidaklah nafsu itu mencampuri sesuatu melainkan ia akan merusaknya. Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia akan mengeluarkannya kepada bid’ah dan kesesatan, pelakunya mengikuti orang-orang yang mengikuti nafsu. Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya dan menyelisihi Sunnah. Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia akan mengeluarkan pelakunya kepada kezhaliman dan penentang kebenaran.

19. Harus mengetahui, bahwa syaithan tidak mempunyai jalan masuk kedalam diri anak Adam, melainkan melalui pintu nafsu.

20. Allah menjadikan nafsu sebagai penentang apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan menjadikan para pengikut nafsu sebagai musuh para pengikut Rasul. Karena manusia itu bisa dibagi menjadi dua bagian: Pengikut Wahyu dan Pengikut Nafsu. Hal ini banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Firman Allah:
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(Al-Qashash; 50)

“Dan, jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
(Al-Baqarah; 120)

21. Allah menyerupakan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dengan hewan yang paling buruk, baik rupa maupun perangainya. Terkadang Allah menyerupakan mereka dengan anjing, seperti
firman-Nya (artinya):

“Tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).”
(Al-A’raf; 176)

“Seakan-akan mereka itu kelelawar liar yang lari terkejut, lari daripada singa.”
(Al-Muddatstsir; 50-51)
Terkadang rupa mereka dirubah Allah menjadi kera, dan terkadang menjadi babi.

22. Pengikut nafsu tidak layak untuk dita’ati, tidak patut menjadi pemimpin dan diikuti. Sesungguhnya Allah menghindarkannya dari kepemimpinan dan melarang keta’atan kepadanya, seperti
firman-Nya (artinya):
“...Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zhalim.”
(Al-Baqarah; 124).
Setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang zhalim.

“Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.”
(Ar-Rum; 29)

Larangan keta’atan kepadanya seperti firman Allah (artinya):

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta memperturutkan hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”
(Al-Kahfi; 28)

23. Allah menempatkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya sama dengan kedudukan penyembah berhala

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.”
(Al-Furqan; 43)

24. Nafsu adalah dinding pagar yang melingkari neraka Jahannam. Barangsiapa terseret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.”

25. Orang yang mengikuti hawa nafsunya dikhawatirkan akan terlepas dari iman, sementara dia tidak menyadarinya, ,sebagaimana disebutkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Seseorang diantara kalian tidak beriman sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.”

“Ketakutan yang paling kutakutkan atas kalian adalah godaan dalam perut dan kemaluan kalian serta hawa nafsu.”

26. Mengikuti hawa nafsu termasuk tindakan yang merusak

“Ada tiga perkara yang merusak dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang merusak adalah kekikiran yang diikuti, hawa nafsu yang diperturutkan dan ketaajuban seseorang terhadap diri sendiri.
Tiga perkara yang menyelamatkan adalah, takwa kepada Allah disaat terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, bersikap adil dikala marah dan ridha, kesederhanaan disaat miskin dan kaya.”
(Al-Hadits)

27. Menentang hawa nafsu menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
Selagi seseorang membiasakan dirinya untuk menentang hawa nafsunya, berarti dia menambah kekuatan di atas kekuatan yang sudah ada.

“Orang yang kuat itu bukanlah karena dengan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala sedang marah.”
(HR. Bukhari-Muslim dan Ahmad).

28. Orang yang paling kesatria adalah orang yang paling keras menentang hawa nafsunya.

29. Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan nafsu dan akal saling bergulat pada diri seseorang. Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya.

30. Sesungguhnya Allah menjadikan kesalahan dan mengikuti hawa nafsu sebagai dua hal yang berdampingan, dan menjadikan kebenaran dan menentang nafsu sebagai dua hal yang berdampingan pula.

31. Nafsu itu merupakan penyakit dan obat penawarnya adalah menentangnya dan meninggalkannya.

32. Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih besar daripada memerangi orang-orang kafir.
Seseorang bertanya kepada Al-Hasan Al-Basri:
“Wahai Abu Said, apakah jihad yang paling utama?” Dia menjawab, “Jihadmu memerangi hawa nafsumu.”
Jihad memerangi nafsu adalah dasar jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan munafik.

33. Nafsu itu merupakan kegoncangan dan kebingungan, sedangkan memerangi nafsu merupakan pertahanan diri.

34. Mengikuti nafsu bisa menutup pintu taufik dan membukakan pintu penyesalan. Padahal dia menyukai jika Allah memberinya taufik, seandainya dia berbuat begini dan begitu. Sementara Allah telah menutup pintu taufik karena dia mengikuti hawa nafsunya.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata:
“Barangsiapa mengikuti nafsu dan memperturutkan syahwatnya, maka terputuslah tali taufik dari dirinya.”

35. Barangsiapa yang memanjakan nafsunya, maka dia akan merusak akal dan pikirannya. Sebab dia telah mengkhianati Allah dalam penggunaan akal, sehingga Allah merusak akalnya.

Al-Mu’thasim berkata:
“Jika nafsu dimanja, maka pikiran menjadi sirna.”

36. Barangsiapa melapangkan dirinya untuk mengikuti hawa nafsu, maka dia akan disempitkan di dalam kuburnya dan saat kembalinya. Barangsiapa menyempitkan dirinya dengan cara menentang nafsu, maka akan dilapangkan kuburnya dan tempat kembalinya.

37. Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bisa bangkit untuk mencapai surga bersama-sama dengan orang-orang yang berhasil meraihnya.

38. Mengikuti nafsu bisa mengendorkan semangat, dan menentang nafsu bisa menguatkan semangat. Semangat merupakan tunggangan hamba, yang membawanya kepada Allah dan Hari Akhirat. Jika tunggangannya lemah dan tak berdaya, saat itu pula perjalanan menjadi terhenti.

Yahya bin Mu’az pernah ditanya:
“Siapakah yang paling benar semangatnya?” Dia menjawab, “Orang yang menundukkan nafsunya.”

39. Seorang yang Arif Bijaksana berkata: “Tunggangan yang paling cepat ke surga adalah zuhud di dunia, dan tunggangan yang paling cepat ke neraka ialah mencintai syahwat.”

40. Tauhid dan mengikuti hawa nafsu merupakan dua hal yang saling bertentangan. Nafsu itu ibarat berhala. Setiap hamba mempunyai berhala di dalam hatinya menurut hawa nafsunya. Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya untuk menghancurkan berhala dan memerintahkan untuk menyembah-Nya semata, tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Hasan bin Al-Muththawwiy berkata:
“Berhala setiap manusia adalah nafsunya. Barangsiapa menghancurkan berhala itu dengan cara menentangnya, maka dia layak disebut pemberani.”

Hal ini sesuai dengan berhala-berhala yang diinginkan hati dan yang disembah secara tekun selain Allah.
Firman-Nya (artinya):

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu).”
(Al-Furqan; 43-44)

41. Menentang nafsu bisa melenyapkan penyakit dari hati dan badan, sedangkan mengikuti nafsu bisa mendatangkan penyakit bagi hati dan badan.

42. Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya, berarti dia membuat hati dan badannya menjadi tenteram dan sehat.

43. Allah menciptakan nafsu dan akal di dalam diri manusia. Mana yang menang diantara keduanya, maka yang lain akan menyingkir.
Ali bin Sahl berkata:
“Akal dan nafsu saling bermusuhan. Taufik merupakan kesudahan akal dan penyesalan merupakan kesudahan nafsu. Jiwa berada diantara keduanya. Mana yang tampil sebagai pemenang, maka jiwa akan mengikutinya.”

44. Allah menjadikan hati sebagai raja bagi anggota badan, tambang pengetahuan, cinta dan ibadahnya, lalu Dia mengujinya dengan dua kekuasaan, dua pasukan dan dua pendukung: Kebenaran, Zuhud dan Petunjuk merupakan satu kekuasaan, pendukungnya Para Malaikat, pasukannya Kejujuran, Ikhlas dan Menjauhi Nafsu.

Sedangkan Kebathilan merupakan kekuasaan satunya lagi, para pendukungnya adalah Syaithan,pasukannya adalah mengikuti hawa nafsu. Sementara jiwa berada diantara dua pasukan ini. Pasukan kebathilan tidak berani maju mendekati hati kecuali melalui jiwa.

45. Musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan dan hawa nafsunya. Sedangkan rekan yang paling dipercaya adalah akalnya dan kekuasaan yang memberikan nasihat kepadanya.

46. Setiap manusia mempunyai permulaan dan kesudahan. Barangsiapa yang permulaannya ditandai dengan mengikuti hawa nafsu, maka kesudahannya adalah kehinaan, kemerosotan dan bencana, tergantung seberapa jauh dia mengikuti hawa nafsunya.

Sedangkan di akhirat Allah menjadikan Surga sebagai kesudahan bagi orang-orang yang menentang hawa nafsunya, dan Neraka sebagai kesudahan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.

47. Nafsu merupakan budak hati, belenggu di leher dan tali di kaki. Orang yang mengikuti nafsu menjadi tawanan dari penguasa yang buruk, dan siapa yang menentang nafsu bisa bebas dari perbudakan dan menjadi orang yang merdeka.

Dikatakan dalam sebuah sya’ir:
"Orang yang mengikuti syahwat adalah hamba sahaya
Namun jika syahwat ditaklukkan dia kan menjadi raja

48. Menentang nafsu bisa menempatkan hamba pada suatu kedudukan, yang jika ia memohon kepada Allah pasti akan dikabulkan, sehingga Dia memenuhi segala kebutuhannya sekian kali lipat dari nafsu yang ditinggalkannya. Dia itu bisa diibaratkan orang yang tidak menyukai kotoran hewan, lalu diganti dengan Mutiara.

49. Menentang nafsu pasti akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat, keperkasaan lahir dan bathin. Sedangkan mengikuti nafsu akan menghinakan manusia di dunia dan di akhirat, lahir dan bathin.

50. Tujuh Golongan orang-orang yang mendapat perlindungan ‘Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, maka engkau akan mendapati bahwa mereka mendapatkan perlindungan itu semua karena menentang hawa nafsunya.


Mengapa Kebaikan Terasa Berat Diamalkan..?

**

“Kenapa kebaikan begitu berat dikerjakan, dan kenapa kejelekan begitu mudah dilakukan..?”

Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan jawaban dari ulama salaf,

“Karena saat melakukan kebaikan, pahit segera terasa dalam jiwa, sementara buah manisnya belum hadir di depan mata, jadilah terasa berat mengamalkannya.. maka jangan sekali-kali perasaan berat itu menyebabkanmu meninggalkan kebaikan tersebut..

berbeda ketika melampiaskan kejelekan, manisnya segera terasa, sementara akibat buruknya belum terlihat nyata, sehingga jiwa pun begitu mudah melakukannya.. maka janganlah perasaan mudah itu menggelincirkanmu untuk terjatuh dalam kejelekan..”

Fathul Bari

KEUTAMAAN AKAL

Seorang alim Mekkah, Atha’ bin Rabah rahimahullah ditanya tentang karunia Allâh yang paling utama bagi hamba-Nya, ia menjawab, “Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla ”

Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla , memahami firman-Nya, dan memahami maksud yang diinginkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Itulah gerbang terbesar kebaikan dunia dan akhirat. Saat itu berarti ia telah mengerti apa maksud tujuan diciptakannya akal.

Sedangkan akal yang berobsesi dunia akan menjadi sumber petaka yang melahirkan problematika dalam semua bidang kehidupan. Ia adalah penyebab utama yang menjadikan banyak orang enggan turut serta berjuang untuk agama ini.

Dan akal yang tidak digunakan semestinya, akan menyeret manusia ke dalam siksa neraka,
sebagaimana yang difirmankan Allâh Azza wa Jalla:


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allâh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allâh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allâh)."
[Al-A’raf /7:179]

Orang-Orang yang Beriman akan Melihat Wajah Allah di Surga



Melihat wajah Allah Ta’ala di surga adalah kenikmatan terbesar yang akan diperoleh seorang mukmin. Orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala di akhirat, melihat secara langsung dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan purnama atau melihat matahari di siang hari yang cerah tanpa tertutup awan.

Aqidah ini berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga merupakan ijma’ para ulama ahlus sunnah. Yang mengingkari dan tidak meyakini hal ini hanyalah sekte-sekte yang menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.

Allah Ta’ala telah menyatakan,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23).

Maksudnya, wajah orang beriman akan tampak cemerlang, cerah atau berseri-seri karena melihat wajah Allah Ta’ala secara langsung. Hal ini karena dalam bahasa Arab, kata نظر  jika digandengkan dengan إلي sebagaimana ayat di atas, maksudnya berarti “melihat dengan mata kepala sendiri”.

Hal ini juga sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)

 وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17-18).

Artinya, tidakkah mereka melihat secara langsung makhluk-makhluk yang menakjubkan ini, yang menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala? Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala beriman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus [10]: 26).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan  الحسني (pahala terbaik) adalah surga. Sedangkan yang dimaksud dengan الزيادة (tambahan pahala) adalah melihat wajah Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi kami ada tambahannya” (QS. Qaaf [50]: 35).

Yang dimaksud dengan مزيد (tambahan) dalam ayat ini adalah melihat wajah Allah Ta’ala.

Adapun dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlahnya sangat banyak, sehingga mencapai derajat mutawatir. Di antaranya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ

 تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya” (HR. Bukhari no. 554, 573, 4851, 7434 dan Muslim no. 633).

“Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan melihat wajah Allah Ta’ala itu sebagaimana kita melihat matahari yang jernih dan terang tanpa tertutup awan” (HR. Bukhari no. 806, 6573, 7437 dan Muslim no. 182).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan dengan tegas,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

“Kalian akan melihat Rabb kalian secara langsung (dengan mata kepala)” (HR. Bukhari no. 7435).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika melihat wajah Allah Ta’ala, orang-orang yang beriman tidak perlu antri berdesak-desakan. Karena setiap orang bisa memandang wajah Allah Ta’ala di tempatnya masing-masing tanpa berdesakan, sebagaimana ketika mereka memandang matahari dan bulan. Kita bisa saksikan sendiri jika kita melihat sesuatu yang tinggi semacam matahari dan bulan, maka kita tidak perlu berdesak-desakan.

Perlu mendapatkan catatan adalah bahwa dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya (matahari dan bulan). Yang Rasulullah samakan adalah “kaifiyyah”, yaitu bagaimana “cara memandang” Allah Ta’ala di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyamakan “objek yang dilihat” dalam hal ini adalah Allah Ta’ala dengan matahari dan bulan. Hal ini karena Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha besar, yang tidak serupa dan tidak semisal dengan satu pun makhluk-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita ke surga dan mendapatkan nikmat untuk memandang wajah-Nya.

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 72-76, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...