Hati Yang Sejuk

**

Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

Celaan Hawa Nafsu


Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan:
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:
“Hawa nafsu dinamakan al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya (ke dalam Neraka-pent)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Orang yang memperturutkan hawa nafsu, hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan nafsu sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang akibatnya, walaupun harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

Apakah Hawa Nafsu Tercela?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitab tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.

Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.



Namun Mengapa Banyak Disebutkan Celaan Terhadap Hawa Nafsu?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Ketika sikap yang sering terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarah tidak bisa berhenti sampai pada batas mengambil manfaat saja (darinya), karena itulah (banyak) disebutkan nafsu, syahwat dan amarah dalam konteks yang tercela. Karena dominannya bahaya yang ditimbulkannya (dan) jarang orang yang mampu bersikap tengah-tengah dalam hal itu (mengatur nafsu, syahwat, dan amarahnya)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:



وربما استعمل بمعنى محبة الحق خاصة والانقياد إليه
“Bisa pula digunakan secara khusus untuk makna kecintaan terhadap kebenaran dan tunduk (kepada Allah) dengan mengamalkannya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Beliau juga berkata:
و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondonggan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).

Maksud Ucapan Kedua Ulama Tersebut

Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan adil, tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarahnya. Karena itulah hawa nafsu sering disebutkan dalam konteks yang tercela.



Kesimpulan Tentang Status Hawa Nafsu

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela.

Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.

Jadi, Ia lawan atau kawan?
Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.



Celaan Terhadap Mengikuti Hawa Nafsu dalam Kitabullah

Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, diantaranya adalah
firman-Nya:



أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”
(Al-Furqaan: 43).

Allah Ta’ala berfirman:


أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”
(Al-Jaatsiyah: 23).

Allah Ta’ala berfirman:


فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(Al-Qashash:50).


Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat

Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.

Ulama merinci sebagai berikut:

1. Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.

2. Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Seluruh maksiat tumbuh dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”,


Beliau juga berkata:
“Dan demikian pula bid’ah, sesungguhnya bid’ah hanyalah muncul dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas syari’at, oleh karena itu mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan, sesungguhnya maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang Dia cintai”.
(Jami’ul Uluum wal Hikam: 2/397-398).


Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama (syubhat) Lebih Parah dibandingkan Dalam Urusan Syahwat:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:



واتباع الأهواء في الديانات أعظم من اتباع الأهواء في الشهوات
“Mengikuti hawa nafsu dalam beragama (syubhat) lebih parah dibandingkan Mengikuti hawa nafsu dalam urusan syahwat”
(Al-Istiqomah, Ibnu Taimiyyah)

Tidaklah Allah Subhanahu wa Tala’ala menyebutkan kata “Nafsu” di dalam Kitab-Nya, melainkan dalam bentuk celaan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan yang ada di dalam diri manusia sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya.

Kendati mustahil untuk menghilangkan nafsu itu sama sekali, akan tetapi pertempuran yang senantiasa terjadi di dalam diri manusia antara nafsu dan akalnya, menjadikannya sebagai suatu topik yang selalu menarik untuk dibicarakan dan dikaji.


Berikut ini beberapa kiat untuk mengendalikan nafsu, yang telah kami ringkas dan sadur secara bebas dari kitab “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”, Al-Imam, Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:

1. Harus mempunyai hasrat, sehingga ada rasa cemburu terhadap diri sendiri dan nafsunya.

2. Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan pada saat itu.

3. Memiliki kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk meminum seteguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat.

4. Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari.

5. Mempertimbangkan penderitaan yang akan semakin menjadi-jadi, sebagai akibat dari memperturutkan kenikmatan hawa nafsu.

6. Lebih mementingkan kedudukannya disisi Allah dan di hati para hambanya yang beriman daripada menurutkan keinginan hawa nafsunya.

7. Lebih mementingkan kehormatan diri dan kelezatannya daripada kenikmatan sesaat.

8. Memikirkan kebanggaan yang akan diperoleh bila berhasil menaklukkan musuhnya.
Allah suka dan membanggakan hamba-Nya, serta melimpahkan rezeki kepada mereka jika berani menghadapi musuhnya, Sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Dan mereka tidak menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.”
(At-Taubah; 120)

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(An-Nisa’; 100)

Karena diantara tanda cinta yang tulus dari seorang hamba terhadap Kekasihnya adalah, melibas musuh kekasih-Nya dan mengalahkannya.

9. Harus menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk mementingkan nafsunya, tetapi untuk suatu urusan yang besar dan mulia, yang tak akan bisa dicapai kecuali dengan menentang hawa nafsunya.

10. Manusia diberikan akal sebagai alat yang dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang akan membahayakan dirinya. Sangat berbeda dengan hewan yang tidak diberikan perangkat alat tersebut dalam menikmati makan, minum dan hubungan seksual sehingga mereka tidak mengetahui akibat kesudahannya (hanya sekedar mengikuti naluri dan tabiatnya).

11. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu dapat melalaikan keta’atan dan berapa banyak kehinaan yang akan didatangkannya. Betapa sering syahwat yang sedikit menghancurkan kehormatan seseorang, menundukkan kepala, serta mengabadikan kenangan yang buruk.

12. Orang yang berakal harus mampu menggambarkan tujuan mewujudkan nafsu itu, dan menggambarkan keadaan dirinya setelah memenuhi tuntutan tersebut dan apa yang hilang / “tercabut” dari dirinya.

13. Harus mampu mengambil pelajaran dari orang lain yang pernah melakukan perbuatan yang sama.

14. Harus memikirkan apa yang dituntut jiwanya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan memberitahukan bahwa, apa yang dituntut itu sebenarnya tidak mempunyai arti apa-apa.

Abdullah bin Mas’ad Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
“Jika salah seorang diantara kalian tertarik kepada seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat-ingat kebusukannya.”

15. Tidaklah seseorang memperturutkan hawa nafsunya, melainkan pasti akan mendapatkan kehinaan pada dirinya. Jangan tertipu dengan kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari sisi bathinnya mereka adalah orang-orang yang paling hina-dina.

16. Pertimbangkanlah keselamatan Agama, kehormatan, harta dan kedudukan dengan kenikmatan yang didapatkan. Antara keduanya tidak ada perimbangan sama sekali.

17. Menggambarkan kehinaan dirinya andaikata dia berada dibawah kekuasaan musuhnya. Jika dia memiliki kekuatan, semangat dan kemuliaan jiwa, maka syaithan tidak akan tertarik kepadanya dan tidak akan mampu mengganggunya kecuali dengan cara mencuri-curi.

18. Harus mengetahui, bahwa tidaklah nafsu itu mencampuri sesuatu melainkan ia akan merusaknya. Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia akan mengeluarkannya kepada bid’ah dan kesesatan, pelakunya mengikuti orang-orang yang mengikuti nafsu. Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya dan menyelisihi Sunnah. Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia akan mengeluarkan pelakunya kepada kezhaliman dan penentang kebenaran.

19. Harus mengetahui, bahwa syaithan tidak mempunyai jalan masuk kedalam diri anak Adam, melainkan melalui pintu nafsu.

20. Allah menjadikan nafsu sebagai penentang apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan menjadikan para pengikut nafsu sebagai musuh para pengikut Rasul. Karena manusia itu bisa dibagi menjadi dua bagian: Pengikut Wahyu dan Pengikut Nafsu. Hal ini banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Firman Allah:
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(Al-Qashash; 50)

“Dan, jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
(Al-Baqarah; 120)

21. Allah menyerupakan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dengan hewan yang paling buruk, baik rupa maupun perangainya. Terkadang Allah menyerupakan mereka dengan anjing, seperti
firman-Nya (artinya):

“Tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).”
(Al-A’raf; 176)

“Seakan-akan mereka itu kelelawar liar yang lari terkejut, lari daripada singa.”
(Al-Muddatstsir; 50-51)
Terkadang rupa mereka dirubah Allah menjadi kera, dan terkadang menjadi babi.

22. Pengikut nafsu tidak layak untuk dita’ati, tidak patut menjadi pemimpin dan diikuti. Sesungguhnya Allah menghindarkannya dari kepemimpinan dan melarang keta’atan kepadanya, seperti
firman-Nya (artinya):
“...Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zhalim.”
(Al-Baqarah; 124).
Setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang zhalim.

“Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.”
(Ar-Rum; 29)

Larangan keta’atan kepadanya seperti firman Allah (artinya):

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta memperturutkan hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”
(Al-Kahfi; 28)

23. Allah menempatkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya sama dengan kedudukan penyembah berhala

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.”
(Al-Furqan; 43)

24. Nafsu adalah dinding pagar yang melingkari neraka Jahannam. Barangsiapa terseret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.”

25. Orang yang mengikuti hawa nafsunya dikhawatirkan akan terlepas dari iman, sementara dia tidak menyadarinya, ,sebagaimana disebutkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Seseorang diantara kalian tidak beriman sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.”

“Ketakutan yang paling kutakutkan atas kalian adalah godaan dalam perut dan kemaluan kalian serta hawa nafsu.”

26. Mengikuti hawa nafsu termasuk tindakan yang merusak

“Ada tiga perkara yang merusak dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang merusak adalah kekikiran yang diikuti, hawa nafsu yang diperturutkan dan ketaajuban seseorang terhadap diri sendiri.
Tiga perkara yang menyelamatkan adalah, takwa kepada Allah disaat terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, bersikap adil dikala marah dan ridha, kesederhanaan disaat miskin dan kaya.”
(Al-Hadits)

27. Menentang hawa nafsu menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
Selagi seseorang membiasakan dirinya untuk menentang hawa nafsunya, berarti dia menambah kekuatan di atas kekuatan yang sudah ada.

“Orang yang kuat itu bukanlah karena dengan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala sedang marah.”
(HR. Bukhari-Muslim dan Ahmad).

28. Orang yang paling kesatria adalah orang yang paling keras menentang hawa nafsunya.

29. Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan nafsu dan akal saling bergulat pada diri seseorang. Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya.

30. Sesungguhnya Allah menjadikan kesalahan dan mengikuti hawa nafsu sebagai dua hal yang berdampingan, dan menjadikan kebenaran dan menentang nafsu sebagai dua hal yang berdampingan pula.

31. Nafsu itu merupakan penyakit dan obat penawarnya adalah menentangnya dan meninggalkannya.

32. Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih besar daripada memerangi orang-orang kafir.
Seseorang bertanya kepada Al-Hasan Al-Basri:
“Wahai Abu Said, apakah jihad yang paling utama?” Dia menjawab, “Jihadmu memerangi hawa nafsumu.”
Jihad memerangi nafsu adalah dasar jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan munafik.

33. Nafsu itu merupakan kegoncangan dan kebingungan, sedangkan memerangi nafsu merupakan pertahanan diri.

34. Mengikuti nafsu bisa menutup pintu taufik dan membukakan pintu penyesalan. Padahal dia menyukai jika Allah memberinya taufik, seandainya dia berbuat begini dan begitu. Sementara Allah telah menutup pintu taufik karena dia mengikuti hawa nafsunya.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata:
“Barangsiapa mengikuti nafsu dan memperturutkan syahwatnya, maka terputuslah tali taufik dari dirinya.”

35. Barangsiapa yang memanjakan nafsunya, maka dia akan merusak akal dan pikirannya. Sebab dia telah mengkhianati Allah dalam penggunaan akal, sehingga Allah merusak akalnya.

Al-Mu’thasim berkata:
“Jika nafsu dimanja, maka pikiran menjadi sirna.”

36. Barangsiapa melapangkan dirinya untuk mengikuti hawa nafsu, maka dia akan disempitkan di dalam kuburnya dan saat kembalinya. Barangsiapa menyempitkan dirinya dengan cara menentang nafsu, maka akan dilapangkan kuburnya dan tempat kembalinya.

37. Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bisa bangkit untuk mencapai surga bersama-sama dengan orang-orang yang berhasil meraihnya.

38. Mengikuti nafsu bisa mengendorkan semangat, dan menentang nafsu bisa menguatkan semangat. Semangat merupakan tunggangan hamba, yang membawanya kepada Allah dan Hari Akhirat. Jika tunggangannya lemah dan tak berdaya, saat itu pula perjalanan menjadi terhenti.

Yahya bin Mu’az pernah ditanya:
“Siapakah yang paling benar semangatnya?” Dia menjawab, “Orang yang menundukkan nafsunya.”

39. Seorang yang Arif Bijaksana berkata: “Tunggangan yang paling cepat ke surga adalah zuhud di dunia, dan tunggangan yang paling cepat ke neraka ialah mencintai syahwat.”

40. Tauhid dan mengikuti hawa nafsu merupakan dua hal yang saling bertentangan. Nafsu itu ibarat berhala. Setiap hamba mempunyai berhala di dalam hatinya menurut hawa nafsunya. Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya untuk menghancurkan berhala dan memerintahkan untuk menyembah-Nya semata, tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Hasan bin Al-Muththawwiy berkata:
“Berhala setiap manusia adalah nafsunya. Barangsiapa menghancurkan berhala itu dengan cara menentangnya, maka dia layak disebut pemberani.”

Hal ini sesuai dengan berhala-berhala yang diinginkan hati dan yang disembah secara tekun selain Allah.
Firman-Nya (artinya):

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu).”
(Al-Furqan; 43-44)

41. Menentang nafsu bisa melenyapkan penyakit dari hati dan badan, sedangkan mengikuti nafsu bisa mendatangkan penyakit bagi hati dan badan.

42. Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya, berarti dia membuat hati dan badannya menjadi tenteram dan sehat.

43. Allah menciptakan nafsu dan akal di dalam diri manusia. Mana yang menang diantara keduanya, maka yang lain akan menyingkir.
Ali bin Sahl berkata:
“Akal dan nafsu saling bermusuhan. Taufik merupakan kesudahan akal dan penyesalan merupakan kesudahan nafsu. Jiwa berada diantara keduanya. Mana yang tampil sebagai pemenang, maka jiwa akan mengikutinya.”

44. Allah menjadikan hati sebagai raja bagi anggota badan, tambang pengetahuan, cinta dan ibadahnya, lalu Dia mengujinya dengan dua kekuasaan, dua pasukan dan dua pendukung: Kebenaran, Zuhud dan Petunjuk merupakan satu kekuasaan, pendukungnya Para Malaikat, pasukannya Kejujuran, Ikhlas dan Menjauhi Nafsu.

Sedangkan Kebathilan merupakan kekuasaan satunya lagi, para pendukungnya adalah Syaithan,pasukannya adalah mengikuti hawa nafsu. Sementara jiwa berada diantara dua pasukan ini. Pasukan kebathilan tidak berani maju mendekati hati kecuali melalui jiwa.

45. Musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan dan hawa nafsunya. Sedangkan rekan yang paling dipercaya adalah akalnya dan kekuasaan yang memberikan nasihat kepadanya.

46. Setiap manusia mempunyai permulaan dan kesudahan. Barangsiapa yang permulaannya ditandai dengan mengikuti hawa nafsu, maka kesudahannya adalah kehinaan, kemerosotan dan bencana, tergantung seberapa jauh dia mengikuti hawa nafsunya.

Sedangkan di akhirat Allah menjadikan Surga sebagai kesudahan bagi orang-orang yang menentang hawa nafsunya, dan Neraka sebagai kesudahan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.

47. Nafsu merupakan budak hati, belenggu di leher dan tali di kaki. Orang yang mengikuti nafsu menjadi tawanan dari penguasa yang buruk, dan siapa yang menentang nafsu bisa bebas dari perbudakan dan menjadi orang yang merdeka.

Dikatakan dalam sebuah sya’ir:
"Orang yang mengikuti syahwat adalah hamba sahaya
Namun jika syahwat ditaklukkan dia kan menjadi raja

48. Menentang nafsu bisa menempatkan hamba pada suatu kedudukan, yang jika ia memohon kepada Allah pasti akan dikabulkan, sehingga Dia memenuhi segala kebutuhannya sekian kali lipat dari nafsu yang ditinggalkannya. Dia itu bisa diibaratkan orang yang tidak menyukai kotoran hewan, lalu diganti dengan Mutiara.

49. Menentang nafsu pasti akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat, keperkasaan lahir dan bathin. Sedangkan mengikuti nafsu akan menghinakan manusia di dunia dan di akhirat, lahir dan bathin.

50. Tujuh Golongan orang-orang yang mendapat perlindungan ‘Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, maka engkau akan mendapati bahwa mereka mendapatkan perlindungan itu semua karena menentang hawa nafsunya.


Mengapa Kebaikan Terasa Berat Diamalkan..?

**

“Kenapa kebaikan begitu berat dikerjakan, dan kenapa kejelekan begitu mudah dilakukan..?”

Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan jawaban dari ulama salaf,

“Karena saat melakukan kebaikan, pahit segera terasa dalam jiwa, sementara buah manisnya belum hadir di depan mata, jadilah terasa berat mengamalkannya.. maka jangan sekali-kali perasaan berat itu menyebabkanmu meninggalkan kebaikan tersebut..

berbeda ketika melampiaskan kejelekan, manisnya segera terasa, sementara akibat buruknya belum terlihat nyata, sehingga jiwa pun begitu mudah melakukannya.. maka janganlah perasaan mudah itu menggelincirkanmu untuk terjatuh dalam kejelekan..”

Fathul Bari

KEUTAMAAN AKAL

Seorang alim Mekkah, Atha’ bin Rabah rahimahullah ditanya tentang karunia Allâh yang paling utama bagi hamba-Nya, ia menjawab, “Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla ”

Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla , memahami firman-Nya, dan memahami maksud yang diinginkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Itulah gerbang terbesar kebaikan dunia dan akhirat. Saat itu berarti ia telah mengerti apa maksud tujuan diciptakannya akal.

Sedangkan akal yang berobsesi dunia akan menjadi sumber petaka yang melahirkan problematika dalam semua bidang kehidupan. Ia adalah penyebab utama yang menjadikan banyak orang enggan turut serta berjuang untuk agama ini.

Dan akal yang tidak digunakan semestinya, akan menyeret manusia ke dalam siksa neraka,
sebagaimana yang difirmankan Allâh Azza wa Jalla:


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allâh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allâh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allâh)."
[Al-A’raf /7:179]

Orang-Orang yang Beriman akan Melihat Wajah Allah di Surga



Melihat wajah Allah Ta’ala di surga adalah kenikmatan terbesar yang akan diperoleh seorang mukmin. Orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala di akhirat, melihat secara langsung dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan purnama atau melihat matahari di siang hari yang cerah tanpa tertutup awan.

Aqidah ini berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga merupakan ijma’ para ulama ahlus sunnah. Yang mengingkari dan tidak meyakini hal ini hanyalah sekte-sekte yang menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.

Allah Ta’ala telah menyatakan,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23).

Maksudnya, wajah orang beriman akan tampak cemerlang, cerah atau berseri-seri karena melihat wajah Allah Ta’ala secara langsung. Hal ini karena dalam bahasa Arab, kata نظر  jika digandengkan dengan إلي sebagaimana ayat di atas, maksudnya berarti “melihat dengan mata kepala sendiri”.

Hal ini juga sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)

 وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17-18).

Artinya, tidakkah mereka melihat secara langsung makhluk-makhluk yang menakjubkan ini, yang menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala? Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala beriman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus [10]: 26).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan  الحسني (pahala terbaik) adalah surga. Sedangkan yang dimaksud dengan الزيادة (tambahan pahala) adalah melihat wajah Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi kami ada tambahannya” (QS. Qaaf [50]: 35).

Yang dimaksud dengan مزيد (tambahan) dalam ayat ini adalah melihat wajah Allah Ta’ala.

Adapun dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlahnya sangat banyak, sehingga mencapai derajat mutawatir. Di antaranya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ

 تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya” (HR. Bukhari no. 554, 573, 4851, 7434 dan Muslim no. 633).

“Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan melihat wajah Allah Ta’ala itu sebagaimana kita melihat matahari yang jernih dan terang tanpa tertutup awan” (HR. Bukhari no. 806, 6573, 7437 dan Muslim no. 182).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan dengan tegas,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

“Kalian akan melihat Rabb kalian secara langsung (dengan mata kepala)” (HR. Bukhari no. 7435).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika melihat wajah Allah Ta’ala, orang-orang yang beriman tidak perlu antri berdesak-desakan. Karena setiap orang bisa memandang wajah Allah Ta’ala di tempatnya masing-masing tanpa berdesakan, sebagaimana ketika mereka memandang matahari dan bulan. Kita bisa saksikan sendiri jika kita melihat sesuatu yang tinggi semacam matahari dan bulan, maka kita tidak perlu berdesak-desakan.

Perlu mendapatkan catatan adalah bahwa dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya (matahari dan bulan). Yang Rasulullah samakan adalah “kaifiyyah”, yaitu bagaimana “cara memandang” Allah Ta’ala di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyamakan “objek yang dilihat” dalam hal ini adalah Allah Ta’ala dengan matahari dan bulan. Hal ini karena Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha besar, yang tidak serupa dan tidak semisal dengan satu pun makhluk-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita ke surga dan mendapatkan nikmat untuk memandang wajah-Nya.

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 72-76, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala

Fakta Fakta Ilmiah Al Quran Terbukti !!


  


Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Setiap Rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia dibekali dengan keistimewaan-keistimewaan yang disebut mukjizat. Mukjizat ini bukanlah kesaktian ataupun tipu muslihat untuk memperdayai
umat manusia, melainkan kelebihan yang Allah SWT berikan untuk meneguhkan kedudukan para Rasulnya dan mempertegas seruan (dakwah) mereka agar manusia beriman kepada Allah SWT dan tidak
mempersekutukan-Nya (tauhid).

Namun mukjizat setiap nabi dan Rasul berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan karakter dan kondisi kaumnya yang menjadi objek dakwah. Lalu, apakah mukjizat Nabi Muhammad saw?

Para ulama sependapat, di antara sekian banyak mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw, yang terbesar adalah Alquran. Alquran adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab suci para nabi sebelumnya.

Alquran bukan hanya petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi umat
Muslim, tapi juga seluruh umat manusia.

Salah satu keajaiban Alquran, adalah terpelihara keasliannya dan tidak berubah sedikitpun sejak pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadan 14 abad yang lalu hingga kiamat nanti. Otentisitas Alquran sudah dijamin oleh Allah, seperti dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9)

Bukti otentisitas ini adalah banyaknya penghafal Alquran yang terus lahir ke dunia, dan pengkajian ilmiah terhadap ayat-ayatnya yang tak pernah berhenti. Kejaibannya, meski Alquran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan
bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Alquran yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah.

Berikut beberapa fakta ilmiah Alquran yang dihimpun dari berbagai sumber, di mana berbagai penemuan ilmiah saat ini ternyata sesuai dengan ayat-ayatnya.


    1. Fakta tentang besi

Besi adalah salah satu logam berat yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Dalam Alquran surat Al Hadiid ayat 25 menjelaskan bahwa Allah menurunkan
besi yang memiliki kekuatan hebat dan memiliki banyak manfaat bagi manusia.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa
bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan (anzalnaa) besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”

Dalam ayat ini, kata “anzalnaa” memiliki arti “kami turunkan” digunakan untuk menunjuk besi. Apabila diartikan secara kiasan kata “anzalnaa” menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.

Apabila mengartikan kata itu secara harfiah, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, maka diperoleh arti bahwa besi diturunkan dari langit. Beberapa ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran ayat itu.

Partikel besi tidak berasal dari bumi melainkan berasal dari benda-benda luar angkasa.

Paling tidak, terdapat sembilan ayat dalam Alquran yang membahas dan menjelaskan tentang besi. Salah satunya, “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian
yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan.

Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (QS An-Nahl: ayat 81)


    2. Fakta penciptaan berpasang-pasangan

Surat Yaasin ayat 36 menjelaskan, Allah menciptakan segala sesuatu secara
berpasang-pasang. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS
Adz-Zaariyat: 49).

Menurut ayat ini, Allah menciptakan yang berpasangan tidak hanya manusia, melainkan segala sesuatu yang tumbuh dari bumi dan berbagai partikel yang tidak terlihat mata.

Seorang ilmuwan asal Inggris, Paul Dirac, berhasil melakukan penelitian yang membuktikan bahwa materi diciptakan secara berpasangan. Penemuannya
dinamakan ‘Parite. Dia memperoleh Nobel di bidang fisika pada tahun 1933 karena penemuannya itu.


    3. Fakta tentang garis edar tata surya

Matahari, planet, satelit dan benda langit lainnya bergerak dalam garis edarnya masing-masing. Alquran surat Al Anbiya ayat 33 dan surat Yaasin ayat 38 menjelaskan mengenai fakta ilmiah itu dan terbukti kebenaranya.

Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan tentang alam semesta dan tata
surya. Beberapa di antaranya seperti:

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al Anbiya:33)

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yaa Siin: 38)

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah
dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.” (QS Yaa Siin: 39)

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak
dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(QS Yaa Siin: 40)

Pengamatan astronomi telah membuktikan kebenaran fakta ini. Menurut ahli astronomi, matahari bergerak sangat cepat dengan kecepatan mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang dinamakan Solar Apex.

Selain matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Semua bintang yang ada di alam semesta juga berada dalam suatu gerakan serupa.

    4. Fakta tentang penciptaan manusia dalam 3 tahap

Dalam Alquran surat Az Zumar ayat 6 dijelaskan, manusia diciptakan dalam
tubuh ibunya dalam tiga tahapan.

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya
isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”

Perkembangan ilmu Biologi modern telah berhasil mengungkap petunjuk dari
ayat itu. Pertumbuhan bayi di dalam rahim melewati tiga tahap (tiga kegelapan). Alquran menggunakan istilah ‘kegelapan’ karena memang proses penciptaan manusia dalam perut ibu terjadi di dalam rahim yang gelap.

Tahap-tahap itu, pertama, tahap Pre-embrionik, zigot tumbuh membesar
melalui pembelahan sel kemudian menjadi segumpalan sel yang membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot, sel-sel penyusunnya mengatur diri mereka sendiri untuk membentuk tiga lapisan.

Kedua, tahap Embrionik yang berlangsung lima setengah minggu. Bayi pada tahap ini disebut “embrio”. Organ dan sistem tubuh bayi juga mulai terbentuk.

Ketiga tahap fetus yang dimulai sejak kehamilan bulan 8 hingga lahir.

Pada tahap ini bayi telah menyerupai manusia dengan wajah, kedua tangan dan kakinya.


    5. Fakta tentang jenis kelamin bayi

Hasil penemuan ilmu genetika abad 20 menjelaskan bahwa jenis kelamin
seorang bayi ditentukan oleh air mani dari pria. Dalam air mani pria terdapat kromosom X yang berisi sifat-sifat kewanitaan dan kromosom Y berisi sifat kelaki-lakian.

Sedangkan dalam sel telur wanita hanya mengandung kromosom x yang mengandung sifat-sifat kewanitaan. Jenis kelamin seorang bayi tergantung pada sperma yang membuahi, apakah mengandung kromosom X atau Y.

Alquran telah menjelaskan fakta itu dalam surat An Najm ayat 45-46, “Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.”

Sebelum penemuan itu diperoleh, masyarakat menganggap bahwa penentu
jenis kelamin berasal dari wanita.


    6. Fakta tentang sidik jari manusia

Setiap manusia memiliki ciri sidik jari yang unik dan berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Keunikan sidik jari baru ditemukan pada abad 19. Sebelum penemuan itu, sidik jari hanya dianggap sebagai lengkungan biasa yang tidak memiliki arti.

Alquran surat Al Qiyaamah ayat 3-4 menjelaskan tentang kekuasaan Allah
untuk menyatukan kembali tulang belulang orang yang telah meninggal, bahkan Allah juga mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya dengan sempurna.

QS Al Qiyamah ayat 3-4:
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”
“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya
dengan sempurna.”

     7. Fakta tentang menyusui bayi selama 2 tahun

Air susu ibu atau ASI sangat bermanfaat bagi bayi. ASI adalah sumber makanan terbaik bagi bayi dan mengandung zat yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tidak ada susu buatan manusia yang mampu menandingi kualitas ASI.

Alquran surat Luqman ayat 14 menganjurkan manusia untuk berbuat baik
kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Surat ini menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk memberikan ASI bagi seorang bayi adalah 2 tahun karena memberikan banyak manfaat.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”


    8. Fakta tentang relativitas waktu

Albert Einstein pada awal abad 20 berhasil menemukan teori relativitas waktu.

Teori ini menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Waktu
dapat berubah sesuai dengan keadaannya. Beberapa ayat dalam Alquran juga telah
megisyaratkan adanya relativitas waktu ini, di antaranya dalam Alquran surat Al Hajj ayat 47, surat As Sajdah ayat 5 dan Alquran surat Al Ma’aarij ayat 4.

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al Hajj: 47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajdah:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari
yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij:4)

Beberapa ayat Alquran lainnya menjelaskan, manusia terkadang merasakan waktu secara berbeda, waktu yang singkat dapat terasa lama dan begitu juga sebaliknya.


    9. Fakta tentang gunung

Gunung tidak hanya memperindah pemandangan. Dikaji dari ilmu geologi, gunung berfungsi sebagai penyeimbang bumi dari goncangan. Gunung muncul karena tumbukan lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip ke bawah
sedangkan lempengan yang lemah melipat ke atas membentuk dataran tinggi dan gunung.

Alquran menjelaskan fungsi gunung dalam beberapa ayat di antaranya dalam surat Al Anbiyaa ayat 21 dan surat An Naba’ ayat 6-7. Gunung diibaratkan sebuah paku yang menjadikan lembaran kayu tetap saling menyatu.

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”
 (QS Al Anbiya:31)

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,” (QS An Naba’: 6-7)


    10. Fakta tentang dasar lautan yang gelap

Manusia tidak mampu menyelam di laut dengan kedalaman di bawah 40 meter
tanpa peralatan khusus. Dalam sebuah buku berjudul Oceans juga dijelaskan, pada kedalaman 200 meter hamper tidak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman 1000 meter tidak terdapat cahaya sama sekali.

Kondisi dasar laut yang gelap baru bisa diketahui setelah penemuan teknologi canggih. Namun Alquran telah menjelaskan keadaan dasar lautan semenjak ribuan tahun lalu sebelum teknologi itu ditemukan. Alquran surat An Nur ayat 40 menjelaskan mengenai fakta ilmiah ini.

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya,
tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS An Nuur: 40).

Dan tentunya lebih banyak lagi kebenaran tentang Al Qur’an, hanya saja saat ini masih belum diteliti oleh para ilmuan. Masih ragukah kita tentang kebeneran kitab suci
Al Qur’an, karena tidak ada sedikitpun kebohongan dalam Al Qur’an.

Kitab Al Hikam Ibnu Athoillah


  
Kajian Al-Hikam

        Pengantar Kajian Al-Hikam

Kitab Al-Hikam adalah buah karya Syekh Ibnu Atha'illah, mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah. Adapun pendiri pertama Syadziliyah adalah Syekh Abu Hasan Ali Asy-Syadzili, seorang Maroko yang kemudian menetap di Iskandariah, Mesir dan wafat pada 1258 M. Penggantinya adalah Syekh Abu Abbas Al-Mursi, yang berasal dari Murcia, Andalusia, Spanyol (wafat di tahun 1287 M), yang sepeninggalnya dilanjutkan oleh Syekh Ibnu
Atha'illah.

Syekh Ibnu Atha'illah hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Beliau lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), Mesir, lalu pindah ke Kairo. Di kota inilah beliau menghabiskan hidupnya dengan mengajar Fikih Mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual.

Ibn Atha'illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya
yang pernah dihasilkannya. Karya itu meliputi bidang tasawuf, tafsir, akidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah Kitab Al-Hikam yang disebut-sebut sebagai
magnum opus beliau.

Al-Hikam adalah sebuah kitab yang diperuntukkan bagi para pejalan (salik), yang di dalamnya berisi panduan lanjut bagi setiap pejalan untuk menempuh perjalanan spiritual. Al-Hikam berisi berbagai terminologi suluk yang ketat, yang merujuk pada berbagai istilah dalam Al-Qur'an.

       Al-Hikam Pasal 7: Cahaya Basirah dan Cahaya Sirr

لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ

 الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ

يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً

 ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ

"Janganlah karena tiadanya pemenuhan atas apa-apa yang dijanjikan, padahal telah jatuh waktunya, membuatmu ragu terhadap janji-Nya; agar yang demikian itu tidak menyebabkan bashirah-mu buram dan cahaya sirr-mu padam!"

    Syarah

Dalam Al-Quran, ada sebuah hikmah dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya Siti Sarah.

Ibrahim a.s. senantiasa berdoa agar dikaruniai keturunan, sebagaimana
termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaaffaat [37]: 100: “Rabbii hablii
minash-shaalihiin.” Tatkala datang dua malaikat yang memberi kabar gembira akan lahirnya Ishaq a.s., Siti Sarah digambarkan “tersenyum keheranan” (Q.S. Huud [11]: 72-73 ), atau “memekik” (Q.S. Adz Dzaariyaat [51]: 29).

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَـٰذَا بَعْلِي

 شَيْخًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ‌ اللَّـهِ ۖ رَ‌حْمَتُ اللَّـهِ

 وَبَرَ‌كَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ

حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang
ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul-bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." – Q.S. Huud [11]: 72-73

Demikian halnya Ibrahim a.s. berkata:

قَالَ أَبَشَّرْ‌تُمُونِي عَلَىٰ أَن مَّسَّنِيَ الْكِبَرُ‌ فَبِمَ

 تُبَشِّرُ‌ونَ

قَالُوا بَشَّرْ‌نَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُن مِّنَ الْقَانِطِينَ

Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." Ibrahim berkata: "(Tidak ada)
orang yang berputus-asa dari rahmat-Nya, kecuali orang-orang yang sesat." – Q.S. Al-Hijr [15]: 54-55

Keraguan kita akan janji Allah, sesungguhnya adalah tanda dari kelemahan
tauhid, sehingga membuat bashirah menjadi buram dan cahaya sirr (rahasia-rahasia) menjadi padam. Keraguan adalah sesuatu yang berbahaya dalam jalan suluk. Dalam kisah Siti Hajar, hal tersebut telah membuat
kelahiran Ishaq a.s. tertunda sebagai sebuah hukuman karena bersitan keraguan akan janji Allah.

Mengenai bashirah, seperti telah dibahas dalam pasal-pasal sebelumnya, adalah
cahaya untuk melihat Al-Haqq pada segenap ufuk alam semesta. Adapun cahaya sirr merupakan cahaya yang akan menampakan jati diri setiap insan. Rahasia tentang hakikat diri kita, qadha dan qadar, misi hidup, hanya bisa ditampakkan dengan cahaya sirr Allah.

Al-Hikam Pasal 8: Amal, Berserah Diri dan Ma’rifat

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ

 مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا

لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ

 أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ

وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا

 تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan
engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.

Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu
(semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

    Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding
ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a.
untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي

 شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku
memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau
serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي

 طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ

إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau
serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam
Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang:
aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ

 مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

        Al-Hikam Pasal 9: Amal, Ahwal dan Warid

تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ

 اْلأَحْوَالِ

"Beragamnya jenis amal-amal itu disebabkan oleh beragamnya warid-warid
(yang turun) pada ahwal-ahwal (hamba-Nya)."

    Syarah

Warid adalah terminologi suluk yang banyak ditemukan dalam Al-Hikam.
Makna sederhana warid adalah karunia Allah yang turun kepada seorang hamba. Proses turunnya warid terkait dengan kesiapan qalb, dalam hal ini adalah kadar ahwal si hamba. Sebagai contoh, dalam Al-Quran Allah berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا ...

Tidak dianugerahkan (al-hasanah) itu melainkan kepada orang-orang yang
sabar ... – Q.S. Al-Fushilat [41]: 35

Dalam ayat di atas, sabar adalah ahwal si hamba, dan al-hasanah yang dianugrahkan merupakan warid yang Allah karuniakan.

Namun dalam pasal ini Ibnu Athaillah tidak hanya berbicara tentang ahwal dan warid; namun juga berbicara keterkaitan antara
warid dan amal. Bahwa warid yang diterima seorang hamba terkait dengan amal hamba tersebut. Amal yang dimaksud disini adalah berupa amal yang khusus, yakni amal atau dharma yang terkait dengan misi hidup atau
jatidiri seseorang.

Haruslah dipahami bahwa jatidiri setiap manusia adalah unik dan berbeda. Suatu warid yang Allah karuniakan kepada seorang hamba pasti akan mengungkap jatidiri hamba tersebut. Seorang nabi, seorang rasul, seorang wali, seorang mursyid, seorang raja, seorang ilmuwan,
masing-masing memiliki amal-amal yang khusus terkait jatidirinya. Misalkan seorang hamba yang jatidirinya sebagai mursyid,
maka akan dikaruniai warid berupa pengetahuan atau kemampuan untuk
membimbing murid-muridnya.


Al-Hikam Pasal 10: Cahaya Ikhlas

اَلْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُـهَا وُجُوْدُ سِرِّ

 اْلإِخْلاَصِ فِيهَا

"Amal-amal itu semata bentuk-bentuk yang tampil, adapun ruh-ruh yang
menghidupkannya adalah hadirnya sirr ikhlas (cahaya ikhlas) padanya"

    Syarah

Alkisah, suatu hari saat Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan beberapa
sahabatnya, datanglah seorang wanita kafir membawa beberapa biji buah jeruk sebagai hadiah. Rasulullah SAW menerimanya dengan senyuman gembira. Lalu mulailah jeruk itu dimakan oleh Rasulullah SAW dengan tersenyum, sebiji demi sebiji hingga habislah semua jeruk tersebut.

Maka ketika wanita itu meminta izin untuk pulang, maka salah seorang sahabat
segera bertanya mengapa tidak sedikit pun Rasulullah menyisakan jeruk tadi untuk sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun menjawab: “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam sewaktu saya merasakannya pertama kali. Kalau kalian turut makan, saya takut ada di antara kalian yang akan mengernyitkan dahi atau memarahi wanita tersebut. Saya takut
hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya.”

Akhlak yang agung seperti ini tidak dapat dipoles di permukaan, tetapi semata-mata karena ada cahaya ikhlas yang sudah tertanam di dalam hati. Sikap dan perilaku adalah cerminan hati. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda:

"Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah’, lalu Allah berfirman, ‘(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku, yang Aku berikan ke dalam
hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku" –Hadits Qudsi

Sirr secara bahasa artinya adalah “rahasia”. Secara hakikat sirr adalah cahaya khusus yang Allah berikan kepada seorang hamba yang Dia cintai, sebagaimana diungkap dalam hadits diatas.

Tidak ada amal-amal yang agung dapat tegak kecuali Allah telah menanamkan ruh berupa cahaya ikhlas yang dapat menghidupkan amal tersebut. Sebagaimana akhlak-akhlak yang tinggi yang ditampilkan oleh para nabi, rasul serta hamba-Nya yang Dia cintai adalah karena ada ruh-ruh yang menghidupkannya; dan itu berupa sirr (cahaya) ikhlas yang menyala di dalam hati.

Al-Hikam Pasal 11: Kuburlah Eksistensimu!

اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ

 مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ

"Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya."

    Syarah

Secara bahasa, al-humuul artinya adalah kosong, lemah, bodoh, tidak aktif, tidak dikenal; yang dalam pasal ini bermakna “kerendahan” atau “ketiadaan”. Sementara wujud atau eksistensi manusia pada dasarnya ingin diakui, dikenal, mahsyur, terpandang, paling hebat, dan semacamnya.
Dalam istilah psikologi, manusia diatur oleh ego yang ada dalam dirinya.

Bersuluk pada dasarnya adalah proses menumbuhkan jiwa. Adapun jiwa bagaikan pohon yang tumbuh; jiwa harus ditanam dan dirawat agar dapat tumbuh dan berbuah dengan sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً

 كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي

 السَّمَاءِ

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ

 الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan *kalimah tayyibah* itu seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit;

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka
selalu ingat.

– Q.S. Ibrahim [14]: 24-25

Kita tidak akan mampu mengenal siapa diri kita, buah takwa apa yang harus kita hasilkan, kecuali Allah memberi petunjuk dan perlindungan. Selama ini ego diri kita yang mengatur siapa diri kita dan apa yang kita inginkan; sementara Allah lah yang lebih mengetahui diri kita yang sesungguhnya.

Dalam pasal ini, Ibnu Athaillah mengungkap sebuah kunci agar kita dapat menghasilkan buah takwa yang sempurna, yakni dengan mengubur eksistensi kita, ego kita, dalam bumi ketiadaan.
 

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...