Jika apa yang dijanjikan (Allah) kepadamu belum turun, padahal waktunya telah tiba, maka janganlah engkau sampai meragukan janji tersebut. Jika tidak demikian, maka pandangan mata hatimu akan menjadi kabur dan pancaran cahanya (sarirah) akan redup dan padam.
JANGAN RAGU DALAM BERDOA
Sekalipun dilakukan doa secara rutin, tapi jika ada kelambatan waktu pemenuhan doa (al-‘atha), maka janganlah engkau putus harapan, sebab Allah menjamin untuk mengabulkan dia dalam apa yang Dia kehendaki untukmu, dan bukan menurut apa yang engkau kehendaki, dan waktunya adalah sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan kehendakmu. (Pemberian (al-‘atha) adalah respon surga terhadap faqir, tanda bahwa ia tengah menuju Allah).
Pedoman bagi Para Dai
Dakwah merupakan aktivitas yang sangat mulia dengan kebaikan dan keutamaan yang tiada tara. Tiada perkataan yang lebih baik selain dakwah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman dalam Al Qur’anul Karim
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)
Seorang Da’I yang ideal harus memiliki empat kredibilitas (misdaqiyah) untuk menunjang proses dakwah yang Ia lakukan. Empat kredibilitas tersebut adalah Misdaqiyah Ar ruhiyah(Kredibilitas Ruhani), Misdaqiyah Al Ilmiyah(Kredibilitas Keilmuan), Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial) dan Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq).
1. Misdaqiyah Ar ruhiyah (Kredibilitas Ruhani)
Ruhiyah merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan tingkat kedekatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Sebuah kata yang mewakili seberapa besar tercurahkannya pikiran seorang hamba kepada pencipta-Nya. Ruhiyah adalah bekal terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seseorang yang telah mengazzamkan dirinya sebagai seorang dai. Ruhiyah bagi seorang muslim berperan sebagai motivator, penggerak, dan evaluator dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Jika ruhiyah bagus kemauan dan kesadarannya berputar pada hal yang positif dan sebaliknya jika ruhiyahnya jelek maka kemauan dan kesadarannya akan berputar pada hal yang negatif.
Sebagai seorang Da’I kita harus senantiasa menjaga ketajaman ruhiyahnya sekaligus meningkatkan ruhiyah kita. “Barangsiapa yang memperbaiki bathinnya”, Kata Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, “maka Allah akan memperbaiki lahirnya”
Seorang Da’I yang mempunyai Ruhiyah yang bagus, maka ia akan memancarkan aura kebaikan bagi sekitarnya. Seperti kisah seorang Tabi’in masyhur Imam Hasan Al Basri ketika masuk pasar, orang satu pasar menangis melihat beliau dikarenakan ingat kepada Akhirat. Pernah suatu hari pula, ada sepasang suami istri yang sedang ribut bertengkar dan tidak mengetahui bagaimana agar bisa damai kembali, atas dasar rekomendasi tetangganya pergi ke rumah Imam Hasan Al Basri untuk meminta nasehat. Akan tetapi, Imam Hasan Al Basri baru buka pintu saja pasangan suami istri tersebut sudah langsung berdamai. Hal ini bisa terjadinya karena Imam Hasan Al Basri memiliki Ruhiyah yang sungguh luar biasa bagusnya sehingga memancarkan aura kebaikan yang berefek positif terhadap orang lain.
Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang diceritakan oleh Imam Dzahabi, ketika wafat satu juta mengitarinya. Enam ribu wanita mengantarnya karena daya tarik ruhiyahnya, padahal hukum wanita mengantar jenazah di kalangan ulama masih khilafiyah antara makruh dan haram. Ada yang memakruhkan secara makruh Tanziq seperti imam An Nawawi dan ada yang mengharamkan seperti kalangan addzhohiriyyah misalnya Imam Daud dan Imam Ibnu Hajm. Kemudian yang luar biasa, dua ribu orang masuk islam pada saat Imam Ahmad bin Hambal meninggal. Begitulah orang yang shaleh yang ruhiyahnya bagus, meninggalnya saja membawa manfaat apalagi hidupnya. Subhanallah.
2. Misdaqiyah Al Ilmiyah (Kredibilitas Keilmuan)
Seorang Da’i haruslah memiliki kredibilitas dalam keilmuan dan ini merupakan bekal yang sangat utama. Hujjah Al Balighoh (Argumen yang kuat dan mendalam) merupakan salah satu parameter dari da’I yang memiliki misdaqiyah al ilmiyah.
Seorang da’I yang berkewajiban menyampaikan ayat-ayatnya, mengajarkan manusia tentang Islam, menyampaikan manusia tentang halal dan haram haruslah kita faham tentang ilmunya terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah peribahasa Arab mengatakan Faaqidu asy-syai’i laa yu’ti syai’a yang memiliki arti orang yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan mampu memberikan apa-apa.
Suatu hari seorang wanita menghadap Khalifah Umar bin Khattab dan melapor bahwa ia telah diperkosa. Sebagai bukti, wanita ini membawa dan memperlihatkan selimut yang dalam pengakuan sang wanita adalah sperma laki-laki yang memperkosanya. Khalifah Umar bin Khattab kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menganalisis apakah sang wanita jujur atau tidak. Ali bin Abi Thalib kemudian menyiram selimut itu dengan air panas dan tidak lama kemudian bercak sperma tersebut menggumpal. Ali bin Abi Thalib lau berkata bahwa sang wanita telah berbohong karena itu adalah bercak putih telur. Begitulah profil seorang da’I ia haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang cukup untuk mengatasi permasalahan masyarakat yang ada.
3. Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial)
Seorang mu’min tidaklah cukup dengan menjadi shalih atau baik untuk dirinya sendiri saja. Namun, seorang mu’min haruslah menjadi mushlih atau menshalihkan orang lain sebagai salah bentuk dakwah yang kita lakukan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka”. (HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)
Hadits diatas menegaskan peran seorang mu’min untuk senantiasa bergaul dengan masyarakat, sehingga interaksi seorang da’i dengan masyarakat dalam kehidupan sosial adalah sebuah keniscayaan. Sebuah kisah masyhuryang seringkali kita dengar mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyuapi seorang tua yang buta beragama yahudi setiap harinya dengan kelembutan dan kesabaran. Lalu Abu bakar ash shidiq pun berusaha untuk mengamalkannya sepeninggalan beliau.
Serta-merta orang tua tunanetra ini kaget karena merasa “sentuhan” suapannya berbeda. Abu Bakar pun menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah yang telah tiada. Hingga akhirnya orang tua tersebut masuk islam karena Orang ini tidak menyadari bahwa yang menyuapi dirinya adalah seorang Nabi yang selalu diejek, dicaci maki, dan dibencinya. Ini merupakan contoh langsung dari Rasulullah kepada kita, agar senantiasa bergaul dengan masyarakat. Oleh karena itu setiap mu’min hendaknya mempunyai kredibilatas sosial untuk menunjang amal sya’bi kita.
4. Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Ta’ala dalam rangka untuk menyempurnakan Akhlaq manusia sebagaimana beliau bersabda
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ)وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ(الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)” (HR Bukhari)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”. (QS. al-Qalam [68]:4).
Begitupun juga sebagai Da’I saat kita ingin melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengajarkan kebaikan kepada setiap insan, mengajak mereka mengagungkan asmaNya, beribadah kepadaNya, dan memperbaiki akhlaq manusia, kita terlebih dahulu harus memiliki alkhlaqul mahmudah atau akhlak yang terpuji untuk kita semaikan kepada umat.
Seringkali Da’wah bil hal (dakwah dengan contoh perbuatan yang terpuji) seringkali lebih efektif untuk mengajak manusia kepada lingkaran kebaikan dibandingkan dengan da’wah bil lisan(dakwah dengan perkataan) semata, menimbulkan kesan dan memberikan efek magnetis. Begitu banyak kaum Quraisy yang masuk islam karena terkesan dengan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang begitu mulia.
Saat seorang da’I memiliki empat kredibilitas ini, maka InsyaAllah dakwah yang kita lakukan akan efektif dan optimal.
Terbukanya Pintu Makrifat
Jika Tuhan membukakan pintu ma’rifat bagimu, maka janganlah engkau menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit atau membandingkannya. Karena sesungguhnya Tuhan tidaklah membukakan bagimu melainkan Dia akan memperkenalkan diri kepadamu.
Tidakkah engkau mengerti, bahwa ma’rifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amalmu adalah pemberian dari dirimu? Maka di manakah letak perbandingan antara apa yang Dia anugerahkan kepadamu dengan apa yang engkau berikan kepada-Nya?
Futur; Sebab dan Penanggulangannya
📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.
🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃
Jika saat ini Anda mengalami:
- Malas hadir halaqah, kajian, ta'lim, padahal dulunya semangat
- Malas membaca Al Quran, padahal dulunya begitu giat
- Tidak merasa bersalah melihat aurat, padahal dulunya sangat takut dosa
- Menghindar dari aktivitas dakwah dan keislaman, setelah dulunya sebagai motor penggerak dan penuh dengan berbagai amanah
- Pembicaraan selalu dunia, dunia, dan dunia, padahal dulunya Allah, Rasul, Islam, Al Quran, dan Sunnah
Ketahuilah, itulah FUTUR, yaitu lemah setelah kuat, malas setelah semangat, menghilang setelah eksis. Jauh-jauh hari, Rasulullah ﷺ telah bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَإِنَّ لِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Setiap amalan itu ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa malasnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (Hr. Ahmad. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Sebab-Sebab Futur
Futur tidaklah muncul begitu saja tapi ada sebab yang mendahuluinya. Di antaranya:
1. Tidak Ikhlas
Ikhlas adalah salah satu unsur utama keistiqamahan seseorang pada kebaikan. Ketika kebaikan yang dia lakukan bertujuan pujian, sanjungan, dan like jempol orang lain, dan ternyata itu tidak dia dapatkan maka biasanya dia akan berhenti dan kecewa. Tidak lagi melanjutkan kebaikan tsb.
Hal ini secara implisit telah dikatakan Rasulullah ﷺ:
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً فَإِنْ كَانَ صَاحِبُهَا سَدَّدَ وَقَارَبَ فَارْجُوهُ وَإِنْ أُشِيرَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فَلَا تَعُدُّوهُ
"Sesungguhnya pada setiap sesuatu itu ada saat semangatnya dan setiap masa semangat ada masa melemahnya, jika pelakunya senantiasa bersikap istiqomah dan mendekat, berharaplah dia bisa tetap (semangat), sebaliknya jika ia hanya ingin ditunjuk dengan jari (sanjungan, pent.) maka janganlah orang itu kalian anggap (orang baik)." (HR. At Tirmidzi no. 2453, hasan shanih)
2. Trend atau Ikut-ikutan
Ini juga faktor futur yang sering terjadi. Kebaikan yang dilakukan tidak muncul dari kesadaran dirinya tapi karena melihat fenomena orang lain. Manusia ke Barat dia ikut, manusia ke Timur dia ikut. Ketika trend ini sedang hit dia pun ikut, ketika trend ini surut maka dia pun ikut surut, walau bisa jadi ada yg awalnya karena trend lalu berubah menjadi kesadaran. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا
“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak memiliki pendirian (ima'ah) yang berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Tetapi, teguhkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik, kalian juga berbuat baik, dan jika mereka berbuat jahat, maka janganlah ikut kalian berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi, no. 2007, hadits hasan)
3. Maksiat yang dibiarkan
Seorang yang berada dalam arus kebaikan, tidak lantas menjadi manusia suci. Sebab, semua pasti pernah berbuat salah dan dosa, dan yang terbaik dari yang berbuat dosa adalah yang mau bertobat.
Namun, masalah muncul jika dia membiarkan dosa tersebut berlarut-larut, dianggap enteng, akhirnya maksiat tersebut dominan dalam hati, pikiran, jiwanya dan tindakan. Sampai akhirnya dia sulit keluar dari situasi itu, maka kebaikan pun tidak lagi menjadi budayanya.
Imam Ibnul Qayyim menerangkan salah satu bahaya pembiaran thdp maksiat:
حِرْمَانُ الطَّاعَةِ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلذَّنْبِ عُقُوبَةٌ إِلَّا أَنْ يَصُدَّ عَنْ طَاعَةٍ تَكُونُ بَدَلَهُ، وَيَقْطَعَ طَرِيقَ طَاعَةٍ أُخْرَى، فَيَنْقَطِعَ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَرِيقٌ ثَالِثَةٌ، ثُمَّ رَابِعَةٌ، وَهَلُمَّ جَرًّا، فَيَنْقَطِعُ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَاعَاتٌ كَثِيرَةٌ
Di antara dampak buruk dari dosa adalah terhalangnya seseorang dari ketaatan. Seandainya dosa tidak membawa hukuman apa pun kecuali membuat seseorang luput dari satu amal ketaatan yang seharusnya menjadi gantinya, lalu memutus jalannya menuju amal ketaatan yang lain, kemudian tertutup pula jalan menuju amal ketiga, lalu keempat, dan seterusnya—maka cukuplah itu (terhalangnya dari ketaatan, pent) sebagai hukuman yang besar. Sebab, dengan satu dosa saja, seseorang bisa kehilangan banyak kesempatan untuk beramal saleh. (Ad Da'u wad Dawaa')
4. Adanya Konflik
Adanya konflik seseorang kepada orang lain, baik persoalan keluarga, tempat kerja, masyarakat, bahkan konflik dengan sesama teman pengajian juga menjadi faktor terjadinya futur. Baik konflik persoalan politik, utang piutang, dsb.
Tadinya, sekadar ingin menjaga jarak dengan satu-dua orang yang konflik dengannya, namun lama kelamaan berubah menjauh dari semuanya. Awalnya tidak suka dengan satu-dua orang, lama kelamaan tidak suka dengan semuanya. Akhirnya budaya kebaikan yang dulu menjadi rutinitasnya bersama kawan-kawannya tidak lagi dia lakukan.
5. Berlebihan dalam ibadah tanpa keseimbangan
Melakukan banyak amal sekaligus, secara ekstrem, tanpa jeda atau tanpa hikmah, bisa menyebabkan kelelahan ruhani. Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ ..
"Sesungguhnya agama ini mudah. Siapa yang memaksakan diri dalam agama, maka ia akan dikalahkan olehnya..."
(HR. Bukhari no. 39)
6. Jenuh
Ini juga menjadi faktor futur yang cukup sering. Sebab, jenuh dan semangat adlh dua sisi manusiawi yang selalu menghampiri manusia di tengah aktivitasnya, apa pun itu.
Ketika kejenuhan itu menghampiri, dan dia tidak pandai mensiasatinya maka dia akan berlama-lama dengan kejenuhan itu dan sulit untuk kembali bangkit. Sekali pun bangkit, dia tidak lagi bangkit bersama kebaikan yang dulu pernah menyelamatkan masa lalu hidupnya dari kegelapan dan kebodohan tapi dia bersama kondisi dan komunitas yang menjerumuskannya dalam kegelapan baru.
Solusi dan obatnya
- Taubat dan istighfar – karena dosa adalah sumber penyakit hati.
- Membangun rutinitas ibadah yang ringan tapi kontinyu – seperti sabda Nabi ﷺ:
_“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit.”_ (HR. Bukhari-Muslim)
- Menjaga lingkungan yang shaleh – dekat dengan orang-orang berilmu dan beramal.
- Menghidupkan hati dengan tadabbur Al-Qur’an dan dzikir.
- Menghadiri majelis ilmu dan peringatan akhirat.
- Berdoa agar diteguhkan hati – Nabi ﷺ sering berdoa:
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu."
- Tidak perfeksionis dalam memandang manusia dan komunitas, posisikan mereka sebagaimana manusia biasa yang bisa salah dan benar. Agar kita tidak mudah kecewa dan bad mood hanya karena kekeliruan mereka.
- Berikan variasi kegiatan positif agar tidak jenuh.
Wallahu A'lam
Wa Shalallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812
Manusia Amat Kanud Kepada Robbnya
Allah Ta’ala berfirman,
إنَّ الإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُود
“Sesungguhnya manusia itu amat kanud kepada Robbnya..”
.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Kanud adalah orang yang suka menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat nikmat..”
Tafsir Ath Thobari
Ketika ditimpa musibah manusia menyalahkan Allah atas takdirnya.... Ketika manusia mendapatkan nikmat, ia lupa kepada pemberi nikmat tersebut....
Padahal, setiap keburukan datang karena dosa... Dan setiap kebaikan datang dari Allah.... Semoga Allah jauhkan kita dari sifat lalai...aamiin
EMPAT UNSUR TAWAKKAL
Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu sebagai berikut :
1. Mujahadah, artinya sungguh sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, artinya tidak asal asalan. Contohnya, sebagai pelajar, belajarlah sungguh sungguh agat dapat memperoleh prestasi yang baik.
2. Doa, artinya walaupun kita sudah melakukan upaya mujahadah (sungguh sungguh) kita pun harus tetap berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala
3. Syukur, artinya apabila menemukan keberhasilan kita harus mensyukurinya. Prinsip ini perlu kita punya. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang sombong atau angkuh (kufur nikmat).
4. Sabar, Artinya tahan uji menghadapi berbagai cobaan termasuk hasil yang tidak memuaskan (kegagalan). Sabar tidak berarti diam dan meratami kegagalan, tetapi sabar adalah instropeksi dan bekerja lebih baik agar kegagalan tidak terulang
Kita ulangi lagi bahwa sebelum tawakal dan berpasrah diri, kita di perintahkan untuk berusaha dan bekerja sekuat tenaga terlebih dahulu karena allah, hanya akan mengubah keadaan suatu kaum ketika mau berusaha membuat perubahan, hal ini tertuang dalam firman allah surat ar-ra’du ayat 11
Gambaran Ringkas tentang Dunia
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ditanya, “wahai Abul Hasan, gambarkanlah dunia kepada kami..”
Beliau menjawab, “aku panjangkan atau aku ringkas..?”
“mohon anda ringkas..”
Beliau pun mengatakan,
“yang halal dari dunia akan dihitung dan dimintai pertanggung-jawabannya, sedangkan yang haramnya di neraka..”
Az Zuhd – Ibnu Abid Dunya
Yang halalnya saja dihisab, apalagi yang haramnya.... Ambillah dunia secukupnya saja untuk bertahan hidup didunia dan beramal Soleh dengan memperhatikan hak para masaakin... Taruhlah dunia ditangan jangan taruh dihati.. dengan demikian kita akan selamat dari fitnah dunia, jika Allah memberi kita hidayah dan taufikNya
Langganan:
Postingan (Atom)
melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah
Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...
-
Beberapa Atsar yang Memperingatkan Perbuatan-perbuatan Maksiat: Adalah para al-Salaf al-Shaleh-dengan semangat mereka untuk menjaga apa y...
-
. . Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa d...
-
Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu sebagai berikut : 1. Mujahadah, artinya sun...