Futur; Sebab dan Penanggulangannya


📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.
🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃

Jika saat ini Anda mengalami:

- Malas hadir halaqah,  kajian, ta'lim, padahal dulunya semangat

- Malas membaca Al Quran, padahal dulunya begitu giat

- Tidak merasa bersalah melihat aurat, padahal dulunya sangat takut dosa

- Menghindar dari aktivitas dakwah dan keislaman, setelah dulunya sebagai motor penggerak dan penuh dengan berbagai amanah

- Pembicaraan selalu dunia, dunia, dan dunia, padahal dulunya Allah, Rasul, Islam, Al Quran, dan Sunnah

Ketahuilah, itulah FUTUR, yaitu lemah setelah kuat, malas setelah semangat, menghilang setelah eksis. Jauh-jauh hari, Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَإِنَّ لِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Setiap amalan itu ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa malasnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (Hr. Ahmad. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Sebab-Sebab Futur

Futur tidaklah muncul begitu saja tapi ada sebab yang mendahuluinya. Di antaranya:

1. Tidak Ikhlas

Ikhlas adalah salah satu unsur utama keistiqamahan seseorang pada kebaikan. Ketika kebaikan yang dia lakukan bertujuan pujian, sanjungan, dan like jempol orang lain, dan ternyata itu tidak dia dapatkan maka biasanya dia akan berhenti dan kecewa. Tidak lagi melanjutkan kebaikan tsb.

Hal ini secara implisit telah dikatakan Rasulullah ﷺ:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً فَإِنْ كَانَ صَاحِبُهَا سَدَّدَ وَقَارَبَ فَارْجُوهُ وَإِنْ أُشِيرَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فَلَا تَعُدُّوهُ 

"Sesungguhnya pada setiap sesuatu itu ada saat semangatnya dan setiap masa semangat ada masa melemahnya, jika pelakunya senantiasa bersikap istiqomah dan mendekat, berharaplah dia bisa tetap (semangat), sebaliknya jika ia hanya ingin ditunjuk dengan jari (sanjungan, pent.) maka janganlah orang itu kalian anggap (orang baik)." (HR. At Tirmidzi no.  2453, hasan shanih)

2. Trend atau Ikut-ikutan

Ini juga faktor futur yang sering terjadi. Kebaikan yang dilakukan tidak muncul dari kesadaran dirinya tapi karena melihat fenomena orang lain. Manusia ke Barat dia ikut, manusia ke Timur dia ikut. Ketika trend ini sedang hit dia pun ikut, ketika trend ini surut maka dia pun ikut surut, walau bisa jadi ada yg awalnya karena trend lalu berubah menjadi kesadaran. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak memiliki pendirian (ima'ah) yang berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Tetapi, teguhkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik, kalian juga berbuat baik, dan jika mereka berbuat jahat, maka janganlah ikut kalian berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi, no. 2007, hadits  hasan)

3. Maksiat yang dibiarkan

Seorang yang berada dalam arus kebaikan, tidak lantas menjadi manusia suci. Sebab, semua pasti pernah berbuat salah dan dosa, dan yang terbaik dari yang berbuat dosa adalah yang mau bertobat.  

Namun, masalah muncul jika dia membiarkan dosa tersebut berlarut-larut, dianggap enteng,  akhirnya maksiat tersebut dominan dalam hati, pikiran, jiwanya dan tindakan. Sampai akhirnya dia sulit keluar dari situasi itu, maka kebaikan pun tidak lagi menjadi budayanya.

Imam Ibnul Qayyim menerangkan salah satu bahaya pembiaran thdp maksiat:

حِرْمَانُ الطَّاعَةِ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلذَّنْبِ عُقُوبَةٌ إِلَّا أَنْ يَصُدَّ عَنْ طَاعَةٍ تَكُونُ بَدَلَهُ، وَيَقْطَعَ طَرِيقَ طَاعَةٍ أُخْرَى، فَيَنْقَطِعَ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَرِيقٌ ثَالِثَةٌ، ثُمَّ رَابِعَةٌ، وَهَلُمَّ جَرًّا، فَيَنْقَطِعُ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَاعَاتٌ كَثِيرَةٌ

Di antara dampak buruk dari dosa adalah terhalangnya seseorang dari ketaatan. Seandainya dosa tidak membawa hukuman apa pun kecuali membuat seseorang luput dari satu amal ketaatan yang seharusnya menjadi gantinya, lalu memutus jalannya menuju amal ketaatan yang lain, kemudian tertutup pula jalan menuju amal ketiga, lalu keempat, dan seterusnya—maka cukuplah itu (terhalangnya dari ketaatan, pent) sebagai hukuman yang besar. Sebab, dengan satu dosa saja, seseorang bisa kehilangan banyak kesempatan untuk beramal saleh. (Ad Da'u wad Dawaa')

4. Adanya Konflik

Adanya konflik seseorang kepada orang lain, baik persoalan keluarga,  tempat kerja, masyarakat, bahkan konflik dengan sesama teman pengajian juga menjadi faktor terjadinya futur. Baik konflik persoalan politik, utang piutang, dsb.

Tadinya, sekadar ingin menjaga jarak dengan satu-dua orang yang konflik dengannya, namun lama kelamaan berubah menjauh dari semuanya. Awalnya tidak suka dengan satu-dua orang, lama kelamaan tidak suka dengan semuanya. Akhirnya budaya kebaikan yang dulu menjadi rutinitasnya bersama kawan-kawannya tidak lagi dia lakukan.

5. Berlebihan dalam ibadah tanpa keseimbangan

Melakukan banyak amal sekaligus, secara ekstrem, tanpa jeda atau tanpa hikmah, bisa menyebabkan kelelahan ruhani. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ ..

"Sesungguhnya agama ini mudah. Siapa yang memaksakan diri dalam agama, maka ia akan dikalahkan olehnya..."
(HR. Bukhari no. 39)

6. Jenuh

Ini juga menjadi faktor futur yang cukup sering. Sebab, jenuh dan semangat adlh dua sisi manusiawi yang selalu menghampiri manusia di tengah aktivitasnya, apa pun itu.

Ketika kejenuhan itu menghampiri, dan dia tidak pandai mensiasatinya maka dia akan berlama-lama dengan kejenuhan itu dan sulit untuk kembali bangkit. Sekali pun bangkit, dia tidak lagi bangkit bersama kebaikan yang dulu pernah menyelamatkan masa lalu hidupnya dari kegelapan dan kebodohan tapi dia bersama kondisi dan komunitas yang menjerumuskannya dalam kegelapan baru.

Solusi dan obatnya

- Taubat dan istighfar – karena dosa adalah sumber penyakit hati.

- Membangun rutinitas ibadah yang ringan tapi kontinyu – seperti sabda Nabi ﷺ:

_“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit.”_ (HR. Bukhari-Muslim)

- Menjaga lingkungan yang shaleh – dekat dengan orang-orang berilmu dan beramal.

- Menghidupkan hati dengan tadabbur Al-Qur’an dan dzikir.

- Menghadiri majelis ilmu dan peringatan akhirat.

- Berdoa agar diteguhkan hati – Nabi ﷺ sering berdoa:

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu."

- Tidak perfeksionis dalam memandang manusia dan komunitas, posisikan mereka sebagaimana manusia biasa yang bisa salah dan benar. Agar kita tidak mudah kecewa dan bad mood hanya karena kekeliruan mereka.

- Berikan variasi kegiatan positif agar tidak jenuh.

Wallahu A'lam 

Wa Shalallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS : 
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812

Manusia Amat Kanud Kepada Robbnya



Allah Ta’ala berfirman,

إنَّ الإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُود

“Sesungguhnya manusia itu amat kanud kepada Robbnya..”
.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Kanud adalah orang yang suka menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat nikmat..”

Tafsir Ath Thobari


Ketika ditimpa musibah manusia menyalahkan Allah atas takdirnya.... Ketika manusia mendapatkan nikmat, ia lupa kepada pemberi nikmat tersebut....

Padahal, setiap keburukan datang karena dosa... Dan setiap kebaikan datang dari Allah.... Semoga Allah jauhkan kita dari sifat lalai...aamiin

EMPAT UNSUR TAWAKKAL

Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu sebagai berikut :

1. Mujahadah, artinya sungguh sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, artinya tidak asal asalan. Contohnya, sebagai pelajar, belajarlah sungguh sungguh agat dapat memperoleh prestasi yang baik.

2. Doa, artinya walaupun kita sudah melakukan upaya mujahadah (sungguh sungguh) kita pun harus tetap berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala

3. Syukur, artinya apabila menemukan keberhasilan kita harus mensyukurinya. Prinsip ini perlu kita punya. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang sombong atau angkuh (kufur nikmat).

4. Sabar, Artinya tahan uji menghadapi berbagai cobaan termasuk hasil yang tidak memuaskan (kegagalan). Sabar tidak berarti diam dan meratami kegagalan, tetapi sabar adalah instropeksi dan bekerja lebih baik agar kegagalan tidak terulang

Kita ulangi lagi bahwa sebelum tawakal dan berpasrah diri, kita di perintahkan untuk berusaha dan bekerja sekuat tenaga terlebih dahulu karena allah, hanya akan mengubah keadaan suatu kaum ketika mau berusaha membuat perubahan, hal ini tertuang dalam firman allah surat ar-ra’du ayat 11

Gambaran Ringkas tentang Dunia


Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ditanya, “wahai Abul Hasan, gambarkanlah dunia kepada kami..”

Beliau menjawab, “aku panjangkan atau aku ringkas..?”

“mohon anda ringkas..”

Beliau pun mengatakan,
“yang halal dari dunia akan dihitung dan dimintai pertanggung-jawabannya, sedangkan yang haramnya di neraka..”

Az Zuhd – Ibnu Abid Dunya

Yang halalnya saja dihisab, apalagi yang haramnya.... Ambillah dunia secukupnya saja untuk bertahan hidup didunia dan beramal Soleh dengan memperhatikan hak para masaakin... Taruhlah dunia ditangan jangan taruh dihati.. dengan demikian kita akan selamat dari fitnah dunia, jika Allah memberi kita hidayah dan taufikNya

Syarat Orang Yang Bertakwa


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Bukanlah syarat orang yang bertakwa itu tidak pernah berbuat dosa atau harus suci dari kesalahan dan maksiat.. sebab jika demikian maka tidak ada orang yang bertakwa.. akan tetapi siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya dan melakukan amalan yang dapat menggugurkan dosanya, maka ia termasuk orang yang bertakwa..”

Minhajussunnah

Setiap manusia memiliki dosa... Dan sebaik baik manusia ialah yang segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.... Mungkin kita tidak bisa menyaingi para hamba Allah yang shaleh dlaam ketaatan, maka marilah berlomba untuk beristighfar dengan para pendosa lainnya...

Istighfar Merupakan Kebaikan Terbesar



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Istighfar merupakan kebaikan terbesar, jadi siapa yang merasakan kekurangan pada ucapannya, perbuatannya, rezekinya, atau begitu mudahnya hatinya berbolak-balik, maka hendaklah dia membenahi tauhidnya dan banyak istighfar..”

Majmu’ul Fatawa : 11 hal 698

Sungguh beruntung seorang mukmin, dihari penghisaban amalnya menjumpai banyaknya amalan atas istighfarnya selama di dunia....

Tentang Rasa Takut dan Harap Kepada Allah Ta’ala



Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.. Jika pada masa sehatnya dia melakukan kebaikan, tentu akan menjadi besar rasa harap dan baik sangkanya (kepada Allah Ta’ala) saat kematian (menghampirinya)..

(Tapi) bila pada masa sehatnya dia melakukan keburukan, tentu dia akan berburuk sangka ketika (kematian) menghampirinya, dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah)..”

Hilyatul Auliya’ – 8/89

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...