ALLAH AL MUQSITH

Dengan ragam normativitas di atas, maka Allah juga menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. al-Hujurat: 9).

Adapun al-Muqsith dijelaskan pada beberapa ayat, yang artinya Hanya kepada-Nyalah kamu semua akan kembali; sebagai janji yang besar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan
makhluk yang permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia
memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka (Qs. Yunus: 4).

ALLAH DZUL JALAALI WAL IKRAAM

Dzul Jalaali wal Ikraam tersusun dari tiga kata kunci, yaitu dzu yang diartikan memiliki atau yang memiliki, al-jalal berarti
keagungan atau kebesaran dan ikram yang bermakna kemuliaan karena memiliki kemurahan. Dengan demikian Allah adalah zat yang maha agung, maha besar dan maha mulia. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. al-Rahmaan: 27).

ALLAH MALIKUL MULK

Dalam konteks Malikul Mulk, kita diingatkan bahwa Allah itu raja yang merajai atau penguasa yang menguasai kehidupan di jagad raya ini maupun kehidupan di akhirat nanti. Oleh
karenanya kekuasaan Allah atas makhluk-Nya, baik makhluk berupa alam dunia seisinya maupun alam akhirat seisinya itu
sempurna, tanpa batas, dan serba meliputi.

Allah berfirman Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. al-Mulk: 1-2). Tiadakah kamu mengetahui
bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang
penolong (Qs. al-Baqarah: 107).

ALLAH AR RA'UUF

Ar-Ra’uuf secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha welas asih. Allah maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan maha memenuhi segala hajad dan kebutuhannya, meskipun tidak diminta oleh yang bersangkutan
sekalipun. Apalagi bagi hamba-hamba-Nya yang mau memohon pertolongan-Nya.
Dalam konteks ar-Ra’uuf, Allah berfirman yang artinya, Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan kamu). Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang
membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk
oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada manusia (Qs. al-Baqarah: 143).

ALLAH AL 'AFUWW

Al-Ghaffaar, al-Ghafuur, dan istilah maghfirah untuk
menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa
itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya ditutupi oleh Allah sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah juga tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga tidak ada lagi diperuntukkan
bagi Allah al-’Afuww. Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah
melakukan kesalahan. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya juga tidak terlihat lagi. Dengan demikian mengampuni dengan melebur dosanya lebih istimewa
ketimbang memaafkan dengan sekedar menutupi dosa saja.

ALLAH AL MUNTAQIM

AlMuntaqim secara umum dipahami bahwa Allah maha membalasi kejahatan, penyiksa terhadap orang-orang yang jahat. Padahal sebelumnya Allah membuka pintu dan menanti orang-orang yang jahat dan lupa diri, orang-orang yang masih jauh untuk segera kembali kepada Allah, bertaubat (taba ila Allah). Karena
tidak juga bertaubat, maka siksaan Allah berlaku atasnya.

ALLAH AT TAWWAAB

AtTawwaab secara umum dipahami bahwa Allah maha penerima taubat. Allah membuka pintu dan menanti orang-orang beriman, menunggu orang-orang yang lupa diri, orang-orang yang masih jauh untuk segera kembali mendekat dan menujup kepada Allah, bertaubat (taba ila Allah).
Kita seyogyanya mengambil ibrah dari pengalaman adanya pelangharan yang dilakukan nenek moyang manusia, Nabi Adam dan Siti Hawa. Allah berfirman yang artinya Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi maha
Penyayang (Qs. al-Baqarah: 37).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...