ALLAH AL WAALI

Al-Waali secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha dekat, karena saking dekatnya, maka Allah menjadi
pelindung (Allah maha pelindung), menjadi penolong (Allah maha penolong) terhadap hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya
kita harus berhati-hati, jangan sampai mencari perlindungan kepada selain Allah. Allah berfirman yang artinya, Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Allah? itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan kapadamu, maka Allah tidak lagi menjadi perlindungan dan penolong bagimu (Qs. al-Baqarah: 120).

ALLAH AL BAATHIN

Al-Baathin secara umum dipahami bahwa
Allah adalah zat yang maha tersembunyi, maha menyembunyikan segala yang dikehendaki-Nya. Allah maha bathin, Allah yang tersembunyi sehingga Allah maha dekat dengan hamba-hambaNya. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AZH ZHAAHIR

 AzZhaahir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha nyata adanya. Karena sangat nyata, maka justru tak terlihat oleh mata lahir kita, tapi akan nampak jelas pada mata batin kita. Seperti halnya, mata lahir kita justru tidak bisa melihat apa-apa ketika kita menatap melihat matahari yang tengah menyala di waktu dhuhur tiba. Matahari ciptaan-Nya saja yang begitu besar, justru tidak sanggup terlihat, apalagi Allah zat yang
menciptakannya. Inilah Allah sebagai zat yang maha zahir. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3). 

ALLAH AL AAKHIR

AlAakhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha 
akhir tidak berkesudahan alias kekal abadi. Allah berfirman yang 
artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang  Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AL AWWAL

Al-Awwal secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha awal, tidak ada sesuatupun dan sesiapapun yang
mendahului-Nya. Oleh karenanya Allah sebagai Prima Causa, bahwa segala sesuatu adanya disebabkan karena diadakan olehNya. Allah juga tidak berhajad pada apapun dan sesiapapun, dan justru sebaliknya apapun dan sesiapapun berhajad pada Allah
swt. Inilah Allah yang maha awal. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin,
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AL MUAKKHIR

Al-Mu’akkhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang
maha mengakhirkan apa dan siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Siapa saja yang dikehendaki-Nya ini tentu merupakan respon atas keteledoran manusia yang telah menempatkan Allah di
akhir prioritas hidupnya. Karena manusia mengakhirkan Allah, maka Allah pun nengakhirkan dirinya dari rahmat-Nya. Karena manusia melupakan Allah, maka Allah pun melupakannya. Karena manusia menjauhi Allah, maka Allah pun jauh darinya dan seterusnya.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka
sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (Qs. al-Hasyr: 18-19).

ALLAH AL MUQADDIM

Al-Muqaddim dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendahulukan atas apapun berdasarkan kemahabijakan-Nya.
Hal apapun, baik yang didahulukan maupun yang tidak adalah otoritas kemahamutlakan Allah.

Allah berfirman yang artinya, Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (Qs. al-A’râf: 34). 

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...