MELIHAT AIB DIRI



Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

والعاقل لا يخفى عليه عيب نفسه، لأن من يخفى عليه عيب نفسه خفيت عليه محاسن غيره، وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه.

“Orang yang berakal tidaklah tersamarkan baginya aibnya sendiri.. siapa yang tidak mengetahui aib dirinya, dia tidak akan mengetahui kebaikan orang lain..

Sungguh, termasuk hukuman terberat bagi seseorang ialah dia tidak mengetahui aib yang dia miliki..”

Roudhotul ‘Uqola, hlm. 22


Tanda kebodohan diri ialah tidak dapat mengetahui kelemahan dan aib pada diri sendiri.... Janganlah kita disibukkan dari melihat aib orang lain... Manakala sering melihat aib orang lain maka kita akan buta tentang keadaan aib diri sendiri... Barangsiapa yang membicarakan aib orang lain, maka Allah akan membuka aib nya kelak baik didunia ataupun kelak diakhirat.. nauzubillahimindzalik..

Hendaklah Seorang Mukmin Berada Dalam Salah Satu Dari Dua Keadaan



Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

“Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal.. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan :

(1) menjadi seorang ghorib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya..

(2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya.

Maka dari itu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini..”

Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378

Pengembara tidaklah menyia-nyiakan kesempatan menyiapkan bekal untuk perjalanan yang amat jauh... Sebab ia tahu jalan yang dilaluinya kelak amatlah menyusahkannya.. sehingga ia membekali dirinya dengan segala kebaikan... Dan kelak kita sebagai pengembara di dunia ini akan memanen hasil atas buah perbuatan kita selama singgah didunia yang fana dan singkat ini... Maka jangan lah tertipu oleh dunia... Bukalah hatimu untuk menyongsong seruan Allah kepada hambaNya agar senantiasa bertaqwa..

Menyembunyikan Kebaikan



Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’


Jangan sampai kita shalih dikhalayak umum dan bermaksiat dikala menyendiri.... Keburukan yang dilakukan disaat sendirian jauh dari pandangan manusia lain, dapat menghapuskan amal amal kebaikan kita... Oleh karena itu terapkanlah Ihsan disaat kesendirian... Seakan akan kita dilihat Allah dan seakan akan kita melihat Allah... Sehingga kita menjadi pribadi yang shalih dihadapan Allah, Aamiin..

Tutuplah dosa dosa dengan melakukan kebaikan yang tersembunyi... Karena hanya Allah dan kita yang tahu amal kebaikan tersebut... Dan semata mata dilakukan ikhlas karena Allah... InsyaAllah akan mengundang Rahmat dan ampunan Allah kepada kita...

Rasa Takut Sesuai Kadarnya



Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

رهبة العبد من الله على قدر علمه بالله، وزهده في الدنيا على قدر رغبته في الآخرة.

“Rasa takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.”

Az-Zuhd al-Kabir, 74

Hamba Allah yang paling takut krpadaNya ialah para ulama.. karena mereka mengenal Allah melalui ilmunya... Bahwa asma wa shifat Allah amatlah mulia dan agung.. oleh karena itu, upayakanlah untuk sering berthalabul Ilmi kapanpun dan dimanapun... Dan takutlah untuk bermaksiat karena Allah selalu mengawasi hambaNya..

Agar Rasa Hasad Hilang



Hatim Al-Asham -rahimahullah- mengatakan:

“Aku melihat orang-orang saling hasad, maka aku pun merenungi firman Allah ta’ala:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ

“Kamilah yang membagi-bagi penghidupan untuk mereka dalam kehidupan dunia..” [Az-Zukhruf: 32]

Maka, aku pun meninggalkan hasad, karena hasad adalah bentuk protes terhadap pembagian Allah..”

Mukhtashar Minhajil Qashidin 28, Diterjemahkan oleh, Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Setiap manusia berbeda beda keadaannya.... Allah menciptakan perbedaan ini agar manusia saling melengkapi satu sama lain... Ada yang kaya ada yang miskin... Semua Rizki dari Allah kepada hambaNya telah ditakar sesuai takdir yang telah digoreskan... Janganlah hasad dengan kelebihan yang dimiliki orang lain.. sebab hasad dapat menghapuskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu....

Ya Allah jauhkanlah kami dari jasad kepada sesama kaum mukminin... Rabbanaa laa taj'al fii quluubinaa ghillallilladziina aamanuu..

Mempertanggung-Jawabkan Perbuatan Sendirian



Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Wahai anak Adam, ketahuilah bahwasanya sungguh..
- engkau akan mati sendirian,
- masuk ke liang kubur pun sendirian,
- dibangkitkan sendirian dan,
- mempertanggung-jawabkan perbuatanmu juga sendirian..”

Hilyatul Auliya’ – 4/116

Kelak kita akan hidup di alam BARZAKH sendirian.. tanpa ditemani keluarga, sahabat dan juga harta benda.. ketika dibangkitkan pun kita akan sendirian, menghadap Allah juga sendirian... semua manusia akan sibuk dengan dirinya masing-masing / nafsi-nafsi.... Oleh karena itu perbanyaklah beramal Soleh agar Allah berikan syafaat penyelamat di akhirat kelak..

Istighfar Merupakan Kebaikan Terbesar



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Istighfar merupakan kebaikan terbesar, jadi siapa yang merasakan kekurangan pada ucapannya, perbuatannya, rezekinya, atau begitu mudahnya hatinya berbolak-balik, maka hendaklah dia membenahi tauhidnya dan banyak istighfar..”

Majmu’ul Fatawa : 11 hal 698

Dengan Istighfar maka seseorang akan Allah berikan solusi disetiap permasalahan yang dihadapinya... Dan seseorang juga akan diberikan kekuatan dalam menghadapi kehidupannya...

Seringlah taubat kepada Allah, dengan demikian kita akan merasakan nikmatnya berdekatan dengan Allah...

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...