Hanya Karena Allah



Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

رحم الله عبداً وقف عند همّه، فـإن كان لله مضـى، وإن كان لغيره تأخر.

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan sesuatu… jika hal itu dia niatkan untuk Allah maka dia meneruskannya, namun jika hal itu dia niatkan untuk selain-Nya maka dia mundur.”

Ighotsatul Lahafan

Landasan amal ialah niat... Walaupun amal kebaikan terlihat kecil, namun jika ikhlas dilakukan karena Allah semata, maka ia akan bernilai disisi Allah... Bersemangat lah atas apa yang bermanfaat darimu..

Hati Yang Sejuk



Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

MELIHAT AIB DIRI



Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

والعاقل لا يخفى عليه عيب نفسه، لأن من يخفى عليه عيب نفسه خفيت عليه محاسن غيره، وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه.

“Orang yang berakal tidaklah tersamarkan baginya aibnya sendiri.. siapa yang tidak mengetahui aib dirinya, dia tidak akan mengetahui kebaikan orang lain..

Sungguh, termasuk hukuman terberat bagi seseorang ialah dia tidak mengetahui aib yang dia miliki..”

Roudhotul ‘Uqola, hlm. 22


Tanda kebodohan diri ialah tidak dapat mengetahui kelemahan dan aib pada diri sendiri.... Janganlah kita disibukkan dari melihat aib orang lain... Manakala sering melihat aib orang lain maka kita akan buta tentang keadaan aib diri sendiri... Barangsiapa yang membicarakan aib orang lain, maka Allah akan membuka aib nya kelak baik didunia ataupun kelak diakhirat.. nauzubillahimindzalik..

Hendaklah Seorang Mukmin Berada Dalam Salah Satu Dari Dua Keadaan



Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

“Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal.. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan :

(1) menjadi seorang ghorib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya..

(2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya.

Maka dari itu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini..”

Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378

Pengembara tidaklah menyia-nyiakan kesempatan menyiapkan bekal untuk perjalanan yang amat jauh... Sebab ia tahu jalan yang dilaluinya kelak amatlah menyusahkannya.. sehingga ia membekali dirinya dengan segala kebaikan... Dan kelak kita sebagai pengembara di dunia ini akan memanen hasil atas buah perbuatan kita selama singgah didunia yang fana dan singkat ini... Maka jangan lah tertipu oleh dunia... Bukalah hatimu untuk menyongsong seruan Allah kepada hambaNya agar senantiasa bertaqwa..

Menyembunyikan Kebaikan



Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’


Jangan sampai kita shalih dikhalayak umum dan bermaksiat dikala menyendiri.... Keburukan yang dilakukan disaat sendirian jauh dari pandangan manusia lain, dapat menghapuskan amal amal kebaikan kita... Oleh karena itu terapkanlah Ihsan disaat kesendirian... Seakan akan kita dilihat Allah dan seakan akan kita melihat Allah... Sehingga kita menjadi pribadi yang shalih dihadapan Allah, Aamiin..

Tutuplah dosa dosa dengan melakukan kebaikan yang tersembunyi... Karena hanya Allah dan kita yang tahu amal kebaikan tersebut... Dan semata mata dilakukan ikhlas karena Allah... InsyaAllah akan mengundang Rahmat dan ampunan Allah kepada kita...

Rasa Takut Sesuai Kadarnya



Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

رهبة العبد من الله على قدر علمه بالله، وزهده في الدنيا على قدر رغبته في الآخرة.

“Rasa takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.”

Az-Zuhd al-Kabir, 74

Hamba Allah yang paling takut krpadaNya ialah para ulama.. karena mereka mengenal Allah melalui ilmunya... Bahwa asma wa shifat Allah amatlah mulia dan agung.. oleh karena itu, upayakanlah untuk sering berthalabul Ilmi kapanpun dan dimanapun... Dan takutlah untuk bermaksiat karena Allah selalu mengawasi hambaNya..

Agar Rasa Hasad Hilang



Hatim Al-Asham -rahimahullah- mengatakan:

“Aku melihat orang-orang saling hasad, maka aku pun merenungi firman Allah ta’ala:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ

“Kamilah yang membagi-bagi penghidupan untuk mereka dalam kehidupan dunia..” [Az-Zukhruf: 32]

Maka, aku pun meninggalkan hasad, karena hasad adalah bentuk protes terhadap pembagian Allah..”

Mukhtashar Minhajil Qashidin 28, Diterjemahkan oleh, Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Setiap manusia berbeda beda keadaannya.... Allah menciptakan perbedaan ini agar manusia saling melengkapi satu sama lain... Ada yang kaya ada yang miskin... Semua Rizki dari Allah kepada hambaNya telah ditakar sesuai takdir yang telah digoreskan... Janganlah hasad dengan kelebihan yang dimiliki orang lain.. sebab hasad dapat menghapuskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu....

Ya Allah jauhkanlah kami dari jasad kepada sesama kaum mukminin... Rabbanaa laa taj'al fii quluubinaa ghillallilladziina aamanuu..

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...