Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Amal Itu Bertingkat-Tingkat

** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ “Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya. Namun karena apa yang ada di hati saat beramal..” Majmu Fatawa 25/282

HAMBA YANG BERUNTUNG

Setiap hari ada hamba Allah yang menunggu dengan penuh rindu datangnya malaikat maut yang akan menjemputnya..... sampai-sampai ia merasa bosan dengan manusia dan menjauh dari dunia..... dan tiba-tiba datanglah utusan Allah dengan membawa wewangian dan kabar gembira.... kemudian mereka memindahkannya dari alam dunia fana ke alam akhirat yang bersifat abadi...... ia akan dimasukkan ke dalam surgaNya dengan penuh kemuliaan, ketentraman, kenikmatan dan cinta....  setiap hari ia memperoleh tambahan nikmat hingga selama-lamanya..... betapa besar kebahagiaan yang didapat, betapa tinggi kedudukan yang diberikan Allah... dan betapa ia menjadi seorang hamba yang berbahagia ......seorang hamba yang dimanjakan lagi terpuji.... sungguh beruntung dan mulia tempat kembali hamba tersebut .....maka marilah kita memohon kepada Allah ta'ala, Semoga dia memberikan anugerah kepada kita dengan anugerah yang agung dan nikmat yang sangat besar .....sebab hal itu tidaklah sulit bagi Allah dan Semoga dia ti...

Pelajaran Berharga

** Hatim Al Ashomm rahimahullah ditanya oleh Syaqiq, “Sejak engkau menjadi temanku, pelajaran apa yang engkau dapatkan..?” Hatim pun menjawab, ست كلمات : ? رأيت الناس في شك من أمر الرزق ، فتوكلت على الله . قال الله تعالى : وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها . ? ورأيت لكل رجل صديقا يفشي إليه سره ، ويشكو إليه ، فصادقت الخير ليكون معي في الحساب ، ويجوز معي الصراط . ? ورأيت كل أحد له عدو ، فمن اغتابني ليس بعدوي ، ومن أخذ مني شيئا ليس بعدوي ; بل عدوي من إذا كنت في طاعة ، أمرني بمعصية الله ، وذلك إبليس وجنوده ، فاتخذتهم عدوا وحاربتهم . ? ورأيت الناس كلهم لهم طالب ، وهو ملك الموت ، ففرغت له نفسي . ? ونظرت في الخلق ، فأحببت ذا ، وأبغضت ذا . فالذي أحببته لم يعطني ، والذي أبغضه لم يأخذ مني شيئا ، فقلت : من أين أتيت ؟ فإذا هو من الحسد فطرحته ، وأحببت الكل ، فكل شيء لم أرضه لنفسي لم أرضه لهم . ? ورأيت الناس كلهم لهم بيت ومأوى ، ورأيت مأواي القبر ، فكل شيء قدرت عليه من الخير قدمته لنفسي لأعمر قبري . ? ورأيت الناس كلهم لهم بيت ومأوى ورأيت مأواي القبر فكل شيء قدرت عليه من الخير قدمته لنفسي لأعمر...

Semua Akan Menemui Ajalnya

* Suatu ketika Al Hasan Al Bashri menjenguk temannya yang sakit dan menanyakan keadaannya. Temannya berkata, “Aku ingin makan tapi tak mampu menelan .. dan ingin minum tapi tak mampu menelannya juga..” Al Hasan menangis dan berkata, على الاسقام والأمراض أسست هذه الدار وهبك تصح من الأسقام وتبرأ من الأمراض هل تقدر أن تنجو من الموت؟ “Dunia ini memang dibangun di atas kesakitan dan penyakit.. Kalaupun kamu selamat dan sehat dari penyakit, akankah kamu selamat dari kematian..? Mendengar itu orang-orangpun menangis..” Az Zuhd karya Ibnu Abidunya hal. 257

Hamba yang Allah Cintai

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu mau, aku akan sampaikan kepadamu bahwa hamba Allah yang paling Allah cintai adalah yang membuat manusia mencintai Allah dan memberi nasehat di bumi..” Az Zuhd Lil Imam Ahmad

Menghisab Diri Di Dunia

** Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, وإنما خف الحساب على قوم حاسبوا أنفسهم في الدنيا ، وإنما شق الحساب يوم القيامة على قوم أخذوا هذا الأمر من غير محاسبة “Hisab menjadi ringan bagi orang yang menghisab dirinya di dunia. Dan hisab menjadi berat pada hari kiamat bagi orang yang melakukan urusan tanpa muhasabah..” Hilyatul Auliya’ 2/157

Derajat Hati Yang Paling Tinggi

** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : فإن أرفع درجات القلوب فرحها التام بما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم وابتهاجها وسرورها كما قال تعالى: (والذين آتيناهم الكتاب يفرحون بما أنزل إليك) وقال تعالى: (قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا) ففضل الله ورحمته القرآن والإيمان من فرح به فقد فرح بأعظم مفروح به”. “Sesungguhnya derajat hati yang paling tinggi adalah kebanggaan yang sempurna dengan apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, merasa bahagia dan gembira dengannya sebagaimana firman Allah : “Dan orang-orang yang Kami berikan al kitab, mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu..” (Ar Ra’du: 36) dan firman Allah : “Katakan, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira..” (Yunus: 58) Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah Alqur’an dan keimanan. Siapa yang bergembira dengannya maka ia telah bergembira dengan sesuatu yang amat agung..” Majmu’ Fatawa 16/49

Duduk Bersama Ulama

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan. (Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati denganair hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, : orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar d...

MEMASUKI KUBUR TANPA BEKAL

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Menangis Karena Allah

‚Wajib bagi kalian di atas jalan Sunnah. Siapapun yang berada di atas  jalan Sunnah kemudian meneteskan air mata karena takut  kepada Allah, pasti tidak akan disentuh api Neraka. Siapapun  yang berada di atas jalan Sunnah kemudian kulitnya bergetar  karena takut kepada Allah, niscaya perumpamaannya seperti  pohon yang daunya kering lalu diterpa angin, seperti itulah  dosa-dosanya berguguran. Sederhana dalam beramal di atas Sunnah lebih utama daripada bersungguh-sungguh di atas  jalan yang menyelisihi Sunnah. Maka perhatikanlah amal kalian,  apapun keadaan kalian, baik saat sederhana beramal atau  bersungguh-sungguh, untuk sentiasa di atas manhaj para Nabi  dan Sunnah mereka.‛ (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 35526)

SAHABAT SEJATI YANG SESUNGGUHNYA

Ketahuilah bahwa ‘sahabatmu’ yang tak pernah ber­pisah denganmu entah dalam keadaan diam, bepergian, tidur, diam, bahkan dalam hidup dan matimu adalah Tuhan Penciptamu. Selama engkau mengingatNya, niscaya Dia menjadi ‘Teman dudukmu’. Sebab, Allah Swt. berkata, “Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir pada-Ku.” Selama hatimu sedih karena tak mampu menunaikan kewajiban agamamu, maka Dia se­nantiasa menyertaimu. Sebab Allah Swt. berkata, “Aku berada bersama mereka yang hatinya sedih karena-Ku.” Apabila engkau betul-betul mengenali-Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya sebagai ‘sahabat’ dan niscaya engkau akan meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tak mampu melaksanakan hal itu setiap waktu, maka eng­kau harus menyediakan waktu di malam dan di siang hari untuk kau pergunakan berkhalwat bersama Tuhan dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya. Ber­kenaan dengan hal itu, engkau harus mengetahui adab­-adab menjalin hubungan dengan Tuhan. Yaitu, menun­dukkan kepala, menjaga pand...

Adab Sholat

Apabila engkau telah selesai membersihkan kotoran dan najis yang terdapat di badan, pakaian, dan tempat salat, juga engkau telah menutup aurat dari pusar sam­pai dengkul, maka berdirilah menghadap ke arah kiblat dengan kaki yang lurus tapi tidak dirapatkan sedang­kan engkau berada dalam posisi tegak. Lalu bacalah surat an-Naas guna berlindung dari setan yang terku­tuk. Hadirkan hatimu ketika itu. Buanglah segala bisik­an dan rasa was-was. Perhatikan kepada siapa engkau sedang menghadap dan bermunajat sekarang. Hendak­nya engkau malu untuk bermunajat kepada Tuhan de­ngan hati yang lalai dan dada yang penuh dengan bi­sikan dunia beserta kebejatan syahwat. Sadarlah bahwa Allah Swt. mengetahui semua yang tersembunyi di da­lam dirimu dan melihat hatimu. Allah hanya menerima salatmu sesuai dengan kadar kekhusyukan, ketundukan, dan ketawaduanmu. Sembahlah Allah dalam salatmu seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tak melihat-Nya, sesung­guhnya Dia melihatmu. Jika hatimu tidak hadir da...

Misteri Kedasyatan Doa Dan Dzikir

Dahsyatnya Pengaruh Dzikir Ibadah ini termasuk ibadah yang paling mudah. Tidak memerlukan banyak waktu, dapat dilakukan kapan dan di mana saja, dengan atau tanpa wudhu, bahkan oleh wanita yang datang bulan sekalipun. Ya, tanpa halangan. Tetapi ibadah ini menuntut frekuensi yang tinggi, dilakukan sesering mungkin, dan bukan ketika sempat saja. Mengapa demikian? Anda mesti tahu makna zikir terlebih dahulu. Zikir pada dasarnya adalah "tidak lupa", alias "ingat" yang lawannya adalah lupa. Mungkinkah Anda mengingat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala barang sebentar, kemudian Anda bilang, "Beginilah cara berzikir yang benar?" Tentu saja tidak demikian, akan tetapi sekali lagi, dia terkait dengan pengertian "banyak" dan "sering". Cermatilah firman-firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berbicara tentang zikir dan kaitannya dengan frekuensi pelaksanaannya.Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan meny...

Amalan-Amalan Ketaatan

Ketahuilah bahwa perintah Allah ada yang wajib dan ada yang sunah. Yang wajib merupakan harta po­kok. Dia adalah modal perdagangan yang dengannya na bisa selamat. Sementara yang sunah merupakan laba yang dengannya kita bisa meraih derajat mulia. Nabi saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Tidaklah orang­-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah se­orang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal­-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku su­dah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang ber­bicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan.” Engkau tidak akan dapat menegakkan perintah Allah, kecuali dengan senantiasa mengawasi hati dan anggota badanmu pada setiap waktu dan pada setiap tarikan nafasmu, dari pagi hingga sore. Ketahuilah bahwa Allah Swt. menangkap isi hatimu, mengawasi lahir dan batin­mu, mengetahui semua lintasan pikiranmu, langkah-lang­kahmu, serta di...

Menghindari Kesedihan yang Berlebihan

Gambar
Sedih itu, sedih ini. Sedih dengan berbagai perkara. Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya. Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya. Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya. Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan. Mungkin kita pernah membaca ayat ini: "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (At-Taubah:40) Ok, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih? Ini ertinya ada sesuatu yang salah didalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita. Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis. Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah, supaya kita bebas dari api neraka. Bersedih yang dilarang a...

Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah

(لا مَحْبُوْبَ إلا الله) Orang yang meyakini akan merasakan manisnya iman ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain,tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)

Hati Yang Sejuk

** Hatim al-Ashom rahimahullah berkata, “Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang.. aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya.. aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..” Hilyatul Auliya’ – 8/73

Celaan Hawa Nafsu

Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan: الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3). Ibnu Rajab rahimahullah berkata: وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره “Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399). Asy-Sya’bi rahimahullah berkata: “Hawa nafsu dinamakan al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya (ke dalam Neraka-pent)” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3). Orang yang memperturutkan hawa nafsu, hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan nafsu sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang akibatnya, walaupun harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akhirat. Apakah Hawa Nafsu Tercela? Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah...

Mengapa Kebaikan Terasa Berat Diamalkan..?

** “Kenapa kebaikan begitu berat dikerjakan, dan kenapa kejelekan begitu mudah dilakukan..?” Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan jawaban dari ulama salaf, “Karena saat melakukan kebaikan, pahit segera terasa dalam jiwa, sementara buah manisnya belum hadir di depan mata, jadilah terasa berat mengamalkannya.. maka jangan sekali-kali perasaan berat itu menyebabkanmu meninggalkan kebaikan tersebut.. berbeda ketika melampiaskan kejelekan, manisnya segera terasa, sementara akibat buruknya belum terlihat nyata, sehingga jiwa pun begitu mudah melakukannya.. maka janganlah perasaan mudah itu menggelincirkanmu untuk terjatuh dalam kejelekan..” Fathul Bari

KEUTAMAAN AKAL

Seorang alim Mekkah, Atha’ bin Rabah rahimahullah ditanya tentang karunia Allâh yang paling utama bagi hamba-Nya, ia menjawab, “Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla ” Memahami tentang Allâh Azza wa Jalla , memahami firman-Nya, dan memahami maksud yang diinginkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Itulah gerbang terbesar kebaikan dunia dan akhirat. Saat itu berarti ia telah mengerti apa maksud tujuan diciptakannya akal. Sedangkan akal yang berobsesi dunia akan menjadi sumber petaka yang melahirkan problematika dalam semua bidang kehidupan. Ia adalah penyebab utama yang menjadikan banyak orang enggan turut serta berjuang untuk agama ini. Dan akal yang tidak digunakan semestinya, akan menyeret manusia ke dalam siksa neraka, sebagaimana yang difirmankan Allâh Azza wa Jalla: وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (i...

Orang-Orang yang Beriman akan Melihat Wajah Allah di Surga

Melihat wajah Allah Ta’ala di surga adalah kenikmatan terbesar yang akan diperoleh seorang mukmin. Orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala di akhirat, melihat secara langsung dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan purnama atau melihat matahari di siang hari yang cerah tanpa tertutup awan. Aqidah ini berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga merupakan ijma’ para ulama ahlus sunnah. Yang mengingkari dan tidak meyakini hal ini hanyalah sekte-sekte yang menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Allah Ta’ala telah menyatakan, وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23) “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23). Maksudnya, wajah orang beriman akan tampak cemerlang, cerah atau berseri-seri karena melihat wajah Allah Ta’ala secara langsung. Hal ini karena dalam bahasa Arab, kata نظر...

Fakta Fakta Ilmiah Al Quran Terbukti !!

   Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Setiap Rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia dibekali dengan keistimewaan-keistimewaan yang disebut mukjizat. Mukjizat ini bukanlah kesaktian ataupun tipu muslihat untuk memperdayai umat manusia, melainkan kelebihan yang Allah SWT berikan untuk meneguhkan kedudukan para Rasulnya dan mempertegas seruan (dakwah) mereka agar manusia beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya (tauhid). Namun mukjizat setiap nabi dan Rasul berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan karakter dan kondisi kaumnya yang menjadi objek dakwah. Lalu, apakah mukjizat Nabi Muhammad saw? Para ulama sependapat, di antara sekian banyak mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw, yang terbesar adalah Alquran. Alquran adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab suci para nabi sebelumnya. Alquran bukan hanya petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi umat Muslim, tapi juga seluruh umat man...

Kitab Al Hikam Ibnu Athoillah

   Kajian Al-Hikam         Pengantar Kajian Al-Hikam Kitab Al-Hikam adalah buah karya Syekh Ibnu Atha'illah, mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah. Adapun pendiri pertama Syadziliyah adalah Syekh Abu Hasan Ali Asy-Syadzili, seorang Maroko yang kemudian menetap di Iskandariah, Mesir dan wafat pada 1258 M. Penggantinya adalah Syekh Abu Abbas Al-Mursi, yang berasal dari Murcia, Andalusia, Spanyol (wafat di tahun 1287 M), yang sepeninggalnya dilanjutkan oleh Syekh Ibnu Atha'illah. Syekh Ibnu Atha'illah hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Beliau lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), Mesir, lalu pindah ke Kairo. Di kota inilah beliau menghabiskan hidupnya dengan mengajar Fikih Mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual. Ibn Atha'illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Karya itu meliputi bidang tasawuf, tafsir, akidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling...